Wisuda seharusnya menjadi momen paling membahagiakan bagi mahasiswa yang telah berjuang mati-matian untuk lulus dari bangku kuliah. Tak terkecuali, bagi pekerja ASN yang telah diberikan kesempatan melanjutkan S2 di UGM. Namun sayang, kebahagiaan yang dirasakan tidak lengkap karena ibu lebih dulu pergi.
Berhasil lulus S2 dengan IPK 4, tetapi tidak ada ibu saat wisuda
Cerita ini datang dari Buono Aji Santoso (3). Pemuda yang akrab disapa Buono ini merupakan salah satu mahasiswa di Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Ia bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) sejak 2018.
Buono mengawali karier sebagai auditor. Ia bertugas dalam pengawasan pengelolaan keuangan negara, serta konsultan yang memastikan penggunaan anggaran publik.
Menyadari pekerjaannya yang perlu dioptimalkan agar dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi masyarakat, Buono berkeinginan meningkatkan kapasitas diri melalui kuliah kembali.
Keinginan ini mengantarkannya untuk menelusuri berbagai tawaran kuliah S2 dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Ia kemudian menemukan Prodi Magister Akuntansi UGM yang selaras dengan tujuannya untuk menjadi lebih baik sebagai ASN, tepatnya auditor.
“Saya menemukan fakta bahwa prodi ini memiliki bidang yang fokus pada bidang akuntansi publik dan memiliki kerja sama dengan BPKP untuk meningkatkan kualitas auditor internal pemerintah,” kata dia, dikutip dari laman UGM, Jumat (24/4/2026).
Maka, pada Agustus 2024 lalu, Buono resmi memulai perkuliahan S2 dengan kesempatan cuti belajar dari instansinya. Tak lama kemudian, pekerja ASN ini berhasil menuntaskan kuliah S2 di UGM dalam waktu yang terbilang cepat.

Buono menyelesaikan kuliah S2 dalam waktu 1 tahun 6 bulan 21 hari. Kecepatan kuliahnya ini melebihi rata-rata masa kuliah lulusan S2 UGM pada periode ini yang berkisar 2 tahun 1 bulan dengan IPK 3,75.
Sementara itu, Buono berhasil mendapatkan IPK sempurna. Ia menjadi salah satu dari 17 lulusan S2 yang meraih IPK 4,00.
Namun, kebahagiaan dirinya sebagai salah satu lulusan dengan nilai sempurna juga hadir bersama perasaan sedih. Buono merasa bersyukur dengan pencapaiannya, tetapi di sisi lain, dirinya berduka dengan ketidakhadiran sang ibu.
Pasalnya, Ibu Buono telah berpulang pada akhir Maret lalu.
Mengerjakan tesis sambil mendampingi ibu yang divonis kanker stadium 4
Buono mengakui, kekosongan dari perasaannya karena ibu yang absen pada hari wisuda—hari yang dinanti-nantikan oleh dia dan keluarga. Namun, Buono mengatakan, ia meyakini ibunya akan senang mengetahui bahwa dirinya telah mengikuti wisuda.
Bahkan, sang ibu, kata dia, telah menduga pencapaian Buono jauh-jauh hari. Ibu telah meminta maaf kepadanya jika tidak dapat hadir pada wisudanya di bulan April ini.
“Saya yakin Ibu senang mendengar kabar itu. Terlihat dari raut wajah beliau yang masih saya ingat sampai sekarang. Namun, Ibu juga meminta maaf jika tidak bisa hadir di wisuda saya nanti bulan April,” kata dia.
Permintaan maaf ibu datang setelah menyaksikan sendiri perjuangan Buono yang mengerjakan tesis sembari mendampinginya. Sebagai anak, Buono terus menemani sang ibu yang divonis kanker tiroid stadium 4.
Kondisi ini jugalah yang memotivasi Buono untuk menyelesaikan kuliah S2 dengan maksimal dalam waktu secepat mungkin. Dalam harapnya, ibu dapat hadir pada hari wisuda. Meskipun berakhir tidak hadir, Buono mengatakan, ibu telah menitipkan pesan kepadanya untuk terus belajar sampai akhir hayatnya.
Meski menempuh jalan terjal, ingin terus berprestasi dan berkontribusi sebagai ASN setelah lulus S2
Tak hanya itu, Buono masih menghadapi tantangan lain selama perjalanan kuliahnya. Ia tidak hanya dihadapkan pada kesedihan karena kondisi sang ibu, tetapi juga harus berusaha mati-matian untuk menyeimbangkan berbagai peran dalam kehidupannya.
Status Buono sebagai pekerja ASN membuatnya mau tidak mau masih terlibat sebagai pekerja profesional. Selain itu, dirinya juga tidak dapat serta-merta melepaskan tanggung jawab dengan statusnya sebagai kepala keluarga.
Buono mengatakan, dirinya harus mengatur waktu dengan cermat, serta memanfaatkan setiap jeda untuk belajar dan mengerjakan tugas. Meski dalam beberapa kesempatan, rencananya tidak berjalan mulus.
Ia sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara kuliah S2 dan keluarga. “Memang terkadang sangat sulit untuk bisa membagi waktu belajar dan keluarga. Saya selalu ingin balance antara studi saya dan menjalankan peran sebagai seorang Bapak,” kata dia.
Ia mengaku, penyesuaian ini sempat mengakibatkan dirinya mengalami kegagalan pada awal semester perkuliahan. Buono gagal memperoleh hasil yang memuaskan pada salah satu ujian, sehingga dirinya khawatir tidak dapat lulus dengan predikat yang baik.
Namun dari kegagalan inilah, Buono belajar untuk berjuang lebih keras.
“Pelajaran paling berharga dari pengalaman tersebut yaitu saya belajar untuk tidak menyerah sampai akhir. Saya percaya bahwa ketika kita sudah berjuang dan bekerja keras maka apapun hasilnya saya akan lebih Ikhlas menerima daripada apabila saya menyerah di awal,” ungkapnya.
Perjuangan ini mengantarkan Buono pada salah satu pencapaiannya sebagai presenter terbaik dalam konferensi mahasiswa berskala internasional yang diadakan oleh FEB Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Meski merasa melakukan presentasinya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan, Buono tidak menduga presentasi itulah yang memberikannya kesempatan dinobatkan sebagai salah satu peserta terbaik.
“Saya baru pertama kali mengikuti International Conference dan dengan bermodalkan kemampuan speaking Bahasa Inggris yang menurut saya pas-pasan, ternyata apa yang saya paparkan dapat diterima dengan baik dan memperoleh predikat Best Presenter,” kata dia.
Dari salah satu pencapaian ini, serta IPK sempurna yang berhasil diperoleh selama kuliah S2 di UGM, Buono mengatakan bahwa dirinya semakin terdorong untuk terus berprestasi. Ia juga berencana untuk kembali sebagai pekerja ASN, yakni auditor, di Kementerian PANRB berbekal dengan ilmu yang didapatkannya.
“Tentunya hal tersebut menjadi motivasi saya untuk terus berkembang ke depannya nanti,” tambahnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan