“Pas saya pulang ke rumah, lho, kok gelap-gelapan? Padahal di masjid tadi terang benderang. Pas sampai rumah itu saya baru sadar, ternyata dari tadi aslinya desa lagi mati listrik.”
Kalimat bernada keheranan yang diiringi tawa renyah itu, meluncur dari mulut Susanto Rahayu, salah seorang warga Pedukuhan Brajan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul. Jarak rumahnya ke Masjid Al-Muharram, yang terang benderang itu, memang hanya sepelemparan batu.
Namun, malam itu, jarak yang dekat tersebut memisahkan “dua dunia” yang berbeda. Ya, rumahnya diselimuti gelap gulita, sementara masjid menyala penuh cahaya.
Susanto bercerita, malam itu ia bersama ratusan warga lainnya tengah menghadiri pengajian akbar yang menjadi puncak dari gelaran Muharram Fest 2026 di desanya. Sejak siang, kemeriahan sudah membaluti area masjid. Ada lomba anak-anak, panggung hiburan, hingga siraman rohani sebagai pemungkas acara di malam hari.
Sepanjang hari itu pula, suara dari sound system berkapasitas tinggi yang rakus daya tak henti-hentinya mengalun menggelegar ke seantero pedukuhan.
“Karena dari sore saya standby di masjid, ya, saya baru tahu kalau mati lampu itu pas perjalanan pulang, Mas. Rumah saya dan tetangga-tetangga pada gelap, tapi suara sound di masjid masih nyala nyaring. Anak saya yang sejak siang ikut di masjid saja sampai bingung, nanya ke saya, ‘Kok gelap, Pak?’” kisahnya, saat saya mendatangi kediamannya pada Minggu (9/8/2026) lalu.
Masjid Al-Muharram terang benderang berkat panel surya
“Keajaiban” di malam gulita sebagaimana yang diceritakan Susanto itu tentu bukanlah kebetulan semata. Usut punya usut, Masjid Al-Muharram rupanya memang tak lagi menggantungkan nyawanya pada aliran listrik konvensional PLN yang bersumber dari energi fosil.
Rasa penasaran itu membawa saya melangkah ke masjid kecil yang asri ini keesokan harinya, Senin (10/8/2026), untuk membuktikan sendiri ceritanya. Di sana, saya disambut hangat oleh Ustaz Ananto Isworo, sang Ketua Takmir Masjid Al-Muharram.
Menurut penuturan Ustaz Ananto, masjid ini telah sepenuhnya ditenagai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Jika kita menengadah, atap masjid ini telah dipasangi delapan keping panel surya. Kepingan-kepingan penyerap sinar matahari tersebut dihubungkan melalui jaringan kabel menuju dua buah inverter dan sebuah sistem baterai penyimpan daya.

Sepanjang hari, dari matahari terbit hingga tenggelam di ufuk barat, panel-panel ini diam-diam “memanen” cahaya dan mengonversinya menjadi energi listrik. Kapasitas yang dihasilkan pun tidak bisa dipandang sebelah mata. PLTS di masjid ini mampu memproduksi daya lebih dari 4.800 Watt.
“Padahal, kebutuhan konsumsi listrik harian masjid ini, bahkan saat mencapai beban puncaknya di bulan Ramadan sekalipun, tidak pernah menyentuh angka 3.000 Watt. Paling mentok hanya di kisaran 2.900 Watt,” jelasnya dengan bangga.
Surplus energi yang cukup besar inilah yang kemudian ditabung di dalam baterai. Baterai ini otomatis menjelma menjadi penolong ketika sewaktu-waktu aliran listrik PLN terputus, persis seperti insiden di malam Muharam Fest yang diceritakan Susanto di awal tadi.
Namun, di balik itu semua, penggunaan panel surya ini menyimpan makna yang bagi Ustaz Ananto sangat mendalam. Langkah ini adalah sebuah bentuk “perlawanan” senyap terhadap kerusakan alam. Sebab, selama ini, listrik yang mengaliri rumah-rumah dan tempat ibadah kita mayoritas lahir dari kepulan asap pembakaran batu bara.
Praktik tambang batu bara di berbagai pelosok negeri telah terbukti menghancurkan bentang hutan, menggusur ruang hidup masyarakat adat, dan memicu ragam bencana ekologis. Bagi Ustaz Ananto, dengan memutus rantai ketergantungan pada listrik batu bara, Masjid Al-Muharram sejatinya telah memutus satu mata rantai kerusakan bumi.
Masyarakat di Brajan awalnya mengalami krisis mikro yang memprihatinkan
Transformasi Masjid Al-Muharram menjadi bangunan yang berdaulat energi jelas tidak terjadi dalam semalam. Pemandangan deretan panel surya di atap itu hanyalah satu episode puncak dari sebuah perjalanan panjang yang telah dirintis belasan tahun silam.
Ustaz Ananto menarik mundur ingatan ke tahun 2013. Saat itu, Pedukuhan Brajan tengah dihadapkan pada ancaman perubahan iklim mikro yang memprihatinkan. Semakin padatnya permukiman membuat warga kerap dihantui dua bencana musiman yang silih berganti. Mulai kekeringan ekstrem saat kemarau panjang, dan banjir genangan saat musim penghujan tiba.
“Boro-boro untuk kebutuhan harian, air untuk berwudu pun sangat sulit didapat saat kemarau datang,” ungkapnya getir.
Melihat realitas tersebut, kegelisahan merayapi batin Ustaz Ananto. Pria lulusan Fakultas Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini punya keyakinan yang teguh: mengabaikan kelestarian lingkungan adalah wujud nyata dari ketiadaan takwa.
Ia mulai lantang menyuarakan bahaya dari apa yang ia sebut sebagai “dosa ekologis”.
“Merusak alam itu sama berdosanya dengan melanggar larangan agama lainnya. Kita sudah diamanatkan secara gamblang untuk menjaga bumi, dan itu tertulis jelas dalam Al-Qur’an, tepatnya di Surat Al-A’raf ayat 56,” tegas Ustaz Ananto.
Awal inisiasi konsep “Eco-Masjid”
Dari rahim kesadaran teologis itulah, konsep “Eco-Masjid” atau masjid ramah lingkungan lahir pada tahun 2013. Ustaz Ananto tidak ingin merancangnya setengah-setengah. Ia menyusun tujuh program utama yang mengawinkan wawasan lingkungan dengan kepekaan sosial.
Tujuh program tersebut antara lain menjaga dan menanam pohon di sekitar masjid, pengelolaan sampah, memanen air hujan lewat sumur resapan, penggunaan piranti listrik hemat energi, desain arsitektur masjid yang ramah difabel, sikap inklusif terhadap kelompok marjinal, dan yang terakhir, pemanfaatan energi terbarukan.
Satu per satu program tersebut dieksekusi dengan kesabaran tingkat tinggi. Warga mulai bergotong royong membangun sumur resapan di setiap pelataran rumah dan mewajibkan penanaman minimal satu pohon. Hingga akhirnya, menjelang tutup tahun 2023, tibalah momentum untuk mewujudkan mimpi ketujuh: kemandirian energi.
Melalui skema urunan publik yang diberi nama “Sedekah Energi”, pengurus masjid berhasil mengumpulkan dana puluhan juta rupiah dari ribuan donatur yang tersebar di berbagai daerah. Dana hasil urunan inilah yang kemudian dibelanjakan untuk memboyong panel surya, inverter, dan sistem baterai ke atap masjid.
Bagi Ustaz Ananto, sebuah masjid kehilangan muruahnya jika hanya menuntut jamaahnya memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan alam (Hablum minal ‘alam), tetapi gagal memberikan jaminan kesejahteraan bagi urat nadi masyarakat di sekitarnya (Hablum minan-nas).
Di Masjid Al-Muharram, dua konsep besar ini dikawinkan dengan sangat apik melalui sebuah program ikonik bertajuk Sedekah Sampah, yang rekam jejaknya juga telah dimulai sejak Juli 2013.
Gagasan ini lahir dari sebuah ironi yang lumrah terjadi di bulan puasa. Setiap kali usai menggelar hajat buka puasa bersama, area masjid selalu dikepung oleh lautan tumpukan sampah sisa makanan dan kemasan plastik. Tanpa pengelolaan yang baik, sampah ini berakhir menjadi onggokan berbau menyengat.
“Padahal, kalau kita mau jeli dan mengelolanya dengan benar, sampah-sampah tersebut justru menyimpan nilai guna dan nilai ekonomi yang tinggi,” tuturnya.
Amal jariyah warga melalui sedekah sampah
Tak mau sekadar berteori, Ustaz Ananto turun tangan sendiri. Ia mengumpulkan dan memilah sampah menjadi dua kategori, organik dan anorganik. Seiring berjalannya waktu, pola kerja ini mulai dibuat tersistem.
Sampah organik langsung disalurkan kepada warga sekitar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara itu, untuk menjemput sampah anorganik, dibentuklah sebuah armada relawan khusus.
Setiap hari Ahad (Minggu) pekan pertama dan ketiga setiap bulannya, sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, para relawan ini akan berkeliling menyusuri gang-gang pedukuhan untuk menjemput sedekah sampah anorganik langsung dari depan pintu rumah warga.
Banyak pula warga yang atas inisiatif sendiri datang menjinjing sampah plastiknya ke masjid. Sampah-sampah yang telah terkumpul rapi di keranjang khusus ini kemudian disetorkan kepada pengepul untuk dijual.
Di titik inilah, konsep kebermanfaatan itu bekerja secara paripurna. Masjid memposisikan dirinya bukan sebagai korporasi pengepul sampah pencari untung. Ia menjadi wadah “pengepul” amal jariyah.
“Orang kan sering kali berpikir kalau sedekah itu harus pakai uang. Padahal, di dalam agama pun sudah dijelaskan secara luas kalau sedekah tidak melulu soal uang,” kata Ustaz Ananto tersenyum.
“Di sini, sampah pun bisa disedekahkan. Warga dapat pahala sedekahnya, dapat juga berkah dari hasilnya.”
Menyejukkan umat dan menghemat pengeluaran masjid
Hebatnya, uang hasil penjualan sampah ini haram hukumnya diendapkan di brankas kas masjid. Menurut penjelasan Ustaz Ananto, setiap rupiah yang didapat langsung disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan pada hari yang sama.
Hasil dari tata kelola lingkungan dan sosial masjid ini rupanya menciptakan efek domino yang luar biasa bagi denyut kehidupan masyarakat Brajan dan sekitarnya.
Dari aspek lingkungan, program penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan yang diwajibkan sejak sedekade lalu itu kini membuahkan hasil yang sangat manis. Saat ini, warga tidak lagi menjerit kehausan akibat sumur yang mengering di musim kemarau. Pun genangan banjir yang merendam jalanan saat musim penghujan kini hanya tinggal kenangan masa lalu.
Lingkungan masjid kembali menjelma menjadi oase yang rindang, ketersediaan oksigen melimpah, dan ibadah jamaah menjadi berkali-kali lipat lebih khusyuk. Anak-anak kampung menjadi semakin riang bermain di pelataran masjid. Orang tua pun semakin betah duduk berlama-lama mengikuti rangkaian kajian.
“Tanpa AC, tapi Mas bisa rasakan sendiri, kan, betapa sejuknya udara di sini? Ibadah pun jadi sangat nyaman,” ucapnya merujuk pada semilir angin yang menerobos masuk dari ventilasi masjid.
Sementara dari aspek finansial, sentuhan teknologi ramah lingkungan ini benar-benar memanjakan neraca kas masjid. Sebelum memakai PLTS, tagihan listrik Masjid Al-Muharram bisa mencekik hingga Rp400.000 per bulannya.
Kini, mereka berhasil memangkas pengeluaran operasional itu hingga 90 persen. Tiap bulan, takmir hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp40.000 saja. Bahkan di saat bulan Ramadan–momen di mana durasi penggunaan listrik dan sound system sedang tinggi-tingginya–tagihan listrik mereka hanya berkisar di angka Rp50.000. Jauh menurun drastis dari yang dulunya bisa tembus hingga Rp600.000.
“Dana operasional masjid yang berhasil dihemat sedemikian rupa ini, secara tidak langsung ya bisa kami alihkan untuk mendanai kegiatan umat yang jauh lebih produktif.”
Konsep ta’awun dan takaful dari Masjid Al Muharram Brajan
Namun, dari semua pencapaian itu, dampak yang paling mengharukan justru menetes dari program Sedekah Sampah. Uang-uang receh hasil menimbang tumpukan botol dan kardus bekas itu rupanya telah menjelma menjadi penyambung napas bagi kehidupan warga.
Bagi keluarga yang keningnya berkerut memikirkan tunggakan SPP sekolah anak-anaknya, dana sedekah sampah ini hadir sebagai pelunasnya. Bagi warga miskin yang kian terjepit himpitan ekonomi harian, dana ini hadir merangkul sebagai subsidi silang.
Bahkan, ketika ada kabar warga sekitar yang jatuh sakit dan terpaksa harus menjalani rawat inap di rumah sakit, pihak takmir masjid langsung sigap turun tangan menjenguk sembari membawakan santunan tunai sebesar Rp500.000.
“Karena saya selalu percaya, Mas, masjid itu wajib punya jiwa ta’awun dan takaful. Harus saling bahu-membahu,” ujarnya pelan, namun penuh penekanan.
Dalam khazanah Islam, ta’awun adalah istilah untuk mengejawantahkan sikap saling membantu dan tolong-menolong antar sesama manusia dalam urusan kebaikan serta ketakwaan. Sementara takaful bermakna sikap saling menanggung, melindungi, dan memberi rasa aman satu sama lain.
“Masjid itu bukan melulu soal bangunan tempat orang sujud untuk ibadah ritual. Lebih dari itu, pertanyaannya adalah bagaimana kehadiran dan kebermanfaatannya bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya,” pungkas Ustaz Ananto.
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Reportase Khusus Mojok.co (Suara Bawah Tanah) edisi “Jidah Ekologi dari Masjid di Jogja”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan