“Kalian pernah main bola di lapangan sini, Cil?” tanya saya sekadar berbasa-basi mengganggu sesi istirahat anak-anak yang sedang memarkirkan sepedanya di sekitar Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja pada Jumat (3/7/2026) sore.
“Pingin sih Kak, tapi kami bukan anak kampung sini (akamsi),” kata salah satu anak berbaju biru yang sedang duduk di tangga masuk pagongan alias tempat menyimpan gamelan.
Anak-anak tadi berasal dari kampung Pangurakan, berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Gedhe Kauman. Tidak ada lapangan bola di kampung mereka. Sementara, meski kampung mereka hanya berjarak 100 meter dari Alun-alun Utara Jogja, mereka tidak bisa asal menggunakannya untuk bermain kulit bundar.
Sebagai warga yang rumahnya tak terlalu dekat dengan Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja, mereka tetap takut memakai lapangan tersebut secara cuma-cuma. Apalagi, anak-anak kampung di Kauman memang tak pernah absen bermain.
Jika sembarangan memakai lapangan, mereka khawatir tidak diizinkan. Padahal sebenarnya mereka bisa saja izin atau ikut bermain, tapi rasa takut akan penolakan rupanya sudah datang duluan.

“Jadinya kami pilih main sepeda saja dari Pangurakan ke sini, sekalian salat asar terus pulang,” pungkasnya.
Pelataran paving blok itu memang menjadi salah satu kemewahan yang tersisa bagi anak-anak akar rumput di Kota Jogja untuk bermain bola.
Akamsi tak pernah absen bermain bola
Tak lama setelah anak-anak pesepeda tadi pulang, sejumlah anak muncul dari gapura gang menuju sisi utara Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. Salah satu di antaranya tampak membawa bola yang sedikit kempis.
Tanpa pemanasan lagi, seorang anak berbaju merah yang lebih jangkung daripada anak-anak lainnya langsung mengambil posisi di depan gawang, sementara temannya berbaju hitam sudah bersiap di sisi sudut untuk mengoper.
“Siap ya Zak!” kata anak berbaju hitam yang saya ketahui namanya adalah Reza (13).
“Yok!” jawab anak berbaju merah yang bernama Zaky (14) itu.
Yakin dengan ancang-ancang tubuhnya untuk menyundul, Zaky langsung meloncat ke arah bola tapi gagal. Bola itu tak mengenai pas area dahi dan meleset ke samping gawang. Sontak Zaky kecewa tapi dia tak berhenti mencoba. Hingga akhirnya, setelah lebih dari lima kali gagal, Zaky tetap tak bisa mengukur akurasi sundulannya.
“Duh, belum bisa Za, nggak kena terus. Gimana sih caranya?” tanya Zaky kepada Reza yang menurutnya lebih jago.
“Dibiasain aja Zak, pokoknya jangan takut!” kata Reza memberi saran.
Sementara itu, teman-teman Zaky dan Reza yang masih SD sibuk mengitari mereka berdua guna menunggu kesempatan merebut bola.
“Hati-hati punggungnya. Yak-yak, giring terus bagus!” kata Reza yang juga sibuk memperhatikan junior-juniornya itu bermain.
Anak-anak Jogja berbagi ruang di pelataran masjid
Saat Zaky dan Reza sibuk melatih teknik, segerombolan remaja datang dari sisi selatan Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung memindahkan gawang yang tidak dipakai Reza dan Zaky ke ujung seberang.
Layaknya akamsi yang rutin bermain bola di sana, mereka langsung membagi tim, menunjuk kapten, dan melakukan suten untuk memilih gawang masing-masing. Suara benturan bola dan teriakan anak-anak yang bermain pun tak pernah mengganggu jalannya ibadah di Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja.
Bahkan, pedagang serta petugas kebersihan yang ada di sekitar sesekali ikut mengoper ketika mendapati bola terlempar jauh dari area lapangan bola. Begitu pula pengendara yang memarkirkan motornya di depan gapura, mereka paham harus berkendara dengan pelan.
Tak jarang pula, wisatawan yang sekadar singgah untuk sembahyang dan istirahat di Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja, ikut bermain bersama mereka.
“Orang-orang di sini sudah paham, Mbak. Anak-anak juga pokoknya kalau main hati-hati, karena di sekitarnya banyak bangunan cagar budaya, seperti pagongan dan regol pagar Masjid Gedhe Kauman,” ucap Nanda yang sudah tinggal di Kauman selama 38 tahun.
Namun dengan begitu, kata Nanda, anak-anak juga bisa latihan mengontrol bola, apalagi sekarang terdapat beberapa pagar hijau untuk melindungi tanaman di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. Meski tak bisa bergerak bebas, anak-anak mengaku sudah terbiasa dengan kondisi itu.
“Nah kayak gini ini Kak, bolanya bisa masuk ke pagongan. Jadi susah ambilnya tapi sudah biasa sih,” ujar Reza yang bercita-cita jadi atlet tim nasional sepak bola Indonesia saat dewasa nanti.
Mimpi Kota Jogja mewujudkan program “Satu Desa Satu Lapangan”
Di samping Nanda yang sedang asyik menonton bola, saya bertanya kepadanya, mengapa dia tidak menegur anak-anak yang nekat masuk ke pagongan untuk mengambil bola. Laki-laki berusia 52 tahun itu lantas tersenyum.
“Sekitar tahun 1980-an dulu zaman saya anak-anak, kami lebih sering main di Alun-alun Lor (utara) yang lapangannya lebih luas dan belum ditutup seperti sekarang,” jelas Nanda.
Sebagai informasi, transformasi Alun-alun Utara Yogyakarta terjadi pada pertengahan 2021 ketika pagar besi mulai dipasang mengelilinginya. Pihak Keraton Yogyakarta menyebut penutupan tersebut guna memperbaiki kondisi tanah sekaligus mengembalikan Alun-alun Utara sesuai fasadnya.
Memang, di era Hindia Belanda dulu, pertandingan sepak bola seringkali diadakan di Alun-alun Utara. Melansir jurnal berjudul, “Sejarah Persepakbolaan di Yogyakarta (1929-1943)” dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tempat itu dipilih karena areanya yang luas dan bisa menampung ribuan penonton.
Namun kini, Alun-alun Utara tidak bisa lagi diakses secara bebas. Di sisi lain, Pemerintah Kota Yogyakarta telah mengintegrasikan dana desa dan tanah kas desa untuk mendukung sarana prasarana olahraga, sebagai perpanjangan tangan dari program “Satu Desa Satu Lapangan”.
Program yang diinisiasi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sejak tahun 2015 itu dirancang untuk menjawab permasalahan minimnya fasilitas olahraga terutama di desa-desa. Namun dalam penerapannya, warga mengaku masih kesulitan mengakses lapangan gratis.
Seperti anak-anak pesepeda yang saya temui di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja, pada Jumat lalu. Mereka berujar kampungnya tak memiliki lapangan untuk bermain bola, sehingga lebih sering memanfaatkan lapangan di sekolah.
Sedangkan menurut Nanda, remaja dan orang dewasa biasanya memilih sewa lapangan.
“Saya sering diajak main di Lapangan Karang Kotagede, Jogja tapi saya jarang ikut. Selain harus bayar, saya juga sudah sepuh. Fisik sudah nggak kuat,” kelakar Nanda.
Sedikitnya jumlah lapangan di Kota Jogja
Sayangnya, saat saya ke Lapangan Karang pada Jumat (26/6/2026) lalu, lapangan itu masih dalam proses perawatan rumput sejak Januari hingga Juni 2026. Alhasil, lapangan pun tampak sepi. Tak ada aktivitas bermain bola di dalamnya.
“Paling orang-orang pindah main bola ke daerah Jambidan sana, sekitar 5 kilometer dari sini. Kalau yang dekat tapi jarang dipakai ya di lapangan (voli) Gedongan, Pelem Mulong,” kata bapak-bapak yang sedang asyik nongkrong di samping Lapangan Karang.
Sementara itu, pegiat Arsip Sepakbola Yogyakarta, Dimas Maulana menegaskan Lapangan Karang sekarang menjadi satu-satunya yang tersisa di Kotagede setelah Lapangan Jambon dan Winong lenyap menjadi perumahan.
“Lapangan Karang kini menyisakan bulan setelah diambil oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta dan mengalami revitalisasi jadi mini stadion sesuai standar nasional yang dimulai pada pertengahan tahun 2021,” ujar Dimas dikonfirmasi Mojok, Selasa (7/7/2026).
Selain itu, Mojok juga menghimpun data dari laman Satu Data Indonesia yang diperbarui tahun 2022. Setidaknya, total ada 16 lapangan olahraga terbuka di Kota Jogja walaupun tidak dijelaskan secara detail titik-titiknya.
Melalui laman resmi di sewa.jogjakota.go.id, pengunjung bisa tahu ada lapangan terbuka yang memang dikomersialkan, salah satunya Lapangan Karang dengan harga sewa mulai dari Rp800 ribu per sesi. Selain itu, ada pula Lapangan Mancasan dan Sidokabul yang dipatok harga mulai dari Rp50 ribu per sesi.
PSIM jadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola Indonesia
Sedikitnya jumlah lapangan olahraga terbuka di Kota Jogja turut disesalkan warga. Namun, di sisi lain, Nanda merasa bersyukur anak-anak masih bisa bermain di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. Apalagi, ketika dia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak.
“Lihat mereka ketawa, bekerja sama dan saling menjaga, membuat saya teringat dengan beberapa teman saya dulu. Banyak dari mereka yang mimpi mau masuk Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta. Sekarang mereka sudah duluan, sampai ke alam baka maksudnya,” kenang Nanda sembari tertawa getir di ujung kalimatnya.
Di masa itu bahkan hingga hari ini, PSIM Yogyakarta masih menjadi kebanggaan warga Jogja termasuk Nanda. Bagaimana tidak, pada tanggal 19 April 1930, PSIM berhasil memprakarsai berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), bersama klub sepak bola Jakarta, Bandung, Magelang, Madiun, Surabaya, dan Solo.
Bahkan, legenda sepak bola Indonesia juga lahir dari Kauman, yakni Djamiat Dalhar yang merupakan mantan pemain Timnas Indonesia dan Abdul Hamid, sosok salah satu pendiri PSIM . Sebagai warga Kauman, Nanda pun turut bangga.
“Saya berharap akan ada legenda baru di Kota Jogja yang tetap menjaga semangat Laskar Mataram, yakni keberanian, kesatria, kedisiplinan, dan gotong royong,” ucapnya.
Namun, sebelum harapan itu terwujud, Nanda ingin lebih banyak lapangan bola yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Sebab bagi Nanda dan generasi sekarang, lapangan bola di kampung atau desa tak sekadar ruang yang bisa dijadikan hiburan atau tempat berolahraga.
Di sanalah kerukunan warga dapat terjalin. Bahkan tak menutup kemungkinan, bibit-bibit atlet berbakat biasanya muncul dari lapangan kampung atau gang-gang sempit.
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Kota Jogja, Kota Bola (?)”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sri Hastuti: Pelatih Legendaris Sepak Bola Putri dari Jogja yang Tak Pernah Lelah Membina Bakat Muda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan