Kebiasaan makan daging anjing masih marak di Jogja. Mitos keperkasaan menjadi dalih mengapa orang-orang doyan mengonsumsi anabul. Padahal, kenyataannya, memakan daging anjing justru membawa lebih banyak dampak buruk ketimbang manfaat.
Peringatan: Tulisan ini mengandung kata-kata mengganggu terkait dengan kekerasan pada hewan. Mojok menyarankan kalian untuk tidak lanjut membaca apabila merasa tak nyaman.
Dipukul dan ditenggelamkan sampai mati, tanpa disembelih
Doyok (bukan nama sebenarnya) menunjukkan sebuah karung berisi bangkai anjing di hadapan saya. Saya kurang paham itu anjing jenis apa. Warnanya cokelat, bulunya tak terlalu lebat, persis dengan jenis anjing yang dipelihara orang-orang pada umumnya. Kondisi fisiknya sudah kaku tak bergerak, dengan sisa air liur bercampur noda hitam yang mengering di sekitar area mulut dan hidungnya.
“Anjing memang begitu, Mas. Nggak boleh disembelih. Nanti kurang gurih dagingnya,” ujar Doyok membuka percakapan kepada saya, Jumat (7/3/2025) lalu.
Untuk mengeksekusi hewan-hewan tersebut tanpa merusak cita rasa, Doyok menerapkan dua metode penjagalan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Metode pertama adalah menenggelamkan anjing hidup-hidup ke dalam bak berisi air penuh. Sementara metode kedua, yang menimpa anjing di dalam karung di depan saya itu, dilakukan dengan cara memukul bagian kepala hewan menggunakan palu atau kayu hingga mati.
“Ini cara sudah turun temurun, Mas. Pokoknya darah anjing nggak boleh keluar, biarin meresap ke dagingnya di dalam. Kata orang dulu, kalau disembelih kan darahnya ngucur, bisa alot sama kurang gurih,” imbuhnya, menjelaskan kepada saya mengenai rasionalisasi di balik tindakan kejam tersebut.

Doyok kemudian menunjukkan kepada saya sebuah dokumentasi video saat ia melakukan eksekusi. Dalam rekaman tersebut, ia tega memukuli seekor anjing yang terperangkap di dalam karung. Suara lengkingan panjang hewan yang menahan sakit sebelum akhirnya merenggang nyawa itu seketika membuat saya merasa sangat tidak nyaman.
Cara “unik” untuk mengelabui pihak berwajib
Sudah sejak tahun 2012 Doyok berkecimpung dalam bisnis perdagangan daging anjing ini. Ia menyediakan daging mentah siap masak maupun hidangan matang berupa tongseng–yang populer dengan istilah sengsu–serta rica-rica. Kepada saya, ia bercerita pernah memiliki warung makan yang cukup sukses di salah satu kawasan di Jogja.
“2015 sampai 2017 itu ramai-ramainya. Bisa diadu sama sengsu di Solo. Tempat saya terkenal, Mas,” ungkap Doyok kepada saya dengan penuh percaya diri.
Memasuki tahun 2019, stabilitas bisnisnya mulai terganggu seiring berdatangannya aktivis pencinta hewan yang mendesak penutupan tempat usaha tersebut. Doyok mengaku takut karena diancam bakal dilaporkan ke pihak berwajib, sehingga ia memilih untuk menutup kedainya.
Beberapa bulan kemudian, ia sempat mencoba membuka kembali warung di lokasi berbeda dengan harapan tidak terendus oleh pihak yang menuntutnya dulu. Langkah tersebut sempat aman beberapa minggu, tetapi tidak bertahan lama akibat gelombang penutupan warung sengsu yang kian masif di Jogja.
Guna bertahan hidup di tengah situasi pasar yang menekan, Doyok bercerita kepada saya bahwa ia sempat mengandalkan menu tambahan dengan menyediakan komoditas ekstrem lain seperti daging biawak dan codot (kelelawar buah). Langkah tersebut kembali terhenti akibat hantaman pandemi Covid-19 yang memaksanya berhenti beroperasi dalam waktu yang lama.
Kendati demikian, permintaan pasar yang tetap ada membuat Doyok memutuskan untuk mengubah total strategi penjualannya dari warung fisik menjadi transaksi privat berbasis pesanan online.
“Tapi karena Covid, lama nggak berjualan, Mas. Sejak saat itu, masih banyak yang nanyain. Makanya saya tetap jualan, tapi orderan langsung aja lewat WA, nggak buka warung lagi,” jelasnya.
Sistem penjualan sembunyi-sembunyi ini hanya melibatkan jaringan pelanggan lama yang telah ia percayai demi menghindari risiko hukum dan pelacakan dari kelompok aktivis. Doyok menjelaskan kepada saya bahwa dalam operasinya di media sosial, ia memanfaatkan komunikasi tersamar dengan menggunakan kosakata “alternatif” guna mengelabui pengawasan publik.
“Saya biasanya pakai kode tertentu. Di grup Facebook. Biasanya saya nawarin pakai kata ‘bekicot’. Orang yang paham ya tahu kalau yang dimaksud itu daging anjing,” ungkap Doyok.
“Saya tak peduli anjingnya dari mana”
Saya pun penasaran dari mana Doyok mendapatkan stok jualannya, mengingat gelombang penolakan sudah terjadi di mana-mana. Bahkan di Surakarta, yang selama ini diasumsikan sebagai salah satu episentrum konsumsi sengsu, praktik perdagangan daging anjing kini telah resmi dilarang oleh pemerintah daerah setempat.
Awalnya, saya mengira Doyok masih terkoneksi dengan sindikat jual beli anjing yang sempat ramai. Pada tahun 2024 lalu, pihak kepolisian berhasil menggagalkan penyelundupan sebuah truk yang mengangkut 226 ekor anjing yang sedianya dikirim menuju sejumlah rumah makan di Surakarta. Tidak lama setelah peristiwa tersebut, kasus serupa kembali terbongkar di wilayah Klaten, di mana puluhan anjing yang hendak diselundupkan menuju Jawa Barat berhasil diamankan petugas.
“Kalau saya sudah ada yang masok. Pemasok lama. Tapi ya nggak pasti, kadang seminggu dua kali, kadang tiga kali, kadang juga nggak sama sekali. Saya juga menyesuaikan pesanan, Mas,” jelas Doyok mengenai rantai pasok bisnisnya.
Mendengar penjelasan itu, hal yang kembali membuat saya penasaran adalah dari mana sang pemasok mendatangkan anjing-anjing tersebut secara berkala tiap minggunya. Rasanya sulit menyimpulkan bahwa anjing-anjing itu memang sengaja dikembangkan untuk dikonsumsi.
Ketika saya tanyakan hal ini, Doyok mengaku tidak tahu-menahu soal asal-usul komoditas yang ia terima karena ia tidak pernah menanyakannya. Namun, ia menyebutkan bahwa ras anjing yang dijual kepadanya selalu berubah-ubah.
“Mungkin memang curian,” ujarnya, seolah menangkap kecurigaan di dalam kepala saya. “Tapi kan itu urusan mereka, Mas. Dosa-dosa mereka sendiri. Urusan dosa biar kembali ke masing-masing. Yang penting saya nggak tahu aja kalau itu curian,” katanya berkilah.
Angka konsumsi daging anjing di Jogja cukup tinggi akibat sebuah mitos
Tingginya angka konsumsi daging anjing di Jogja memicu keheranan banyak orang. Penolakan terhadap praktik ini sebenarnya telah disuarakan oleh lintas elemen, mulai dari aktivis dan komunitas pencinta hewan, hingga kalangan figur publik.
Sebagai contoh, grup musik asal Jogja, Shaggydog, yang berkoalisi dengan gerakan Dog Meat Free Indonesia (DMFI), sempat mendatangi Kantor Gubernur Daerah Istimewa Jogja (DIY) pada November 2024.
Kedatangan koalisi tersebut bertujuan mendesak Pemerintah Provinsi DIY agar segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) yang melarang secara tegas perdagangan daging anjing, dengan landasan argumen bahwa anjing merupakan hewan domestik peliharaan dan bukan komoditas pangan.
Secara yuridis, argumen koalisi ini sejalan dengan produk hukum nasional, khususnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Dalam ketentuan UU tersebut, definisi pangan secara limitatif mengecualikan satwa domestik non-ternak seperti anjing dari rantai konsumsi resmi.
Ketidakjelasan payung hukum di tingkat daerah inilah yang memicu penegakan aturan di lapangan menjadi bias, meskipun secara legal-formal nasional, anjing bukanlah komoditas konsumsi.
Ironisnya, desakan regulasi tersebut berpacu dengan data lapangan yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh DMFI Jogja pada tahun 2024, terdapat sekitar 6.500 ekor anjing yang dijagal untuk dikonsumsi dagingnya setiap bulan di wilayah Jogja. Koalisi mencatat bahwa volume penjagalan ini telah membengkak hingga empat kali lipat dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
Saya pun menanyakan alasan rata-rata yang diungkapkan pembeli ketika mengonsumsi daging ini kepada Doyok. Menurut penjelasannya, rasa daging anjing dinilai jauh lebih gurih jika dibandingkan dengan komoditas konvensional seperti daging sapi, kambing, atau babi.
Selain itu, terdapat kepercayaan keliru yang menganggap bahwa daging anjing memiliki khasiat medis untuk menghangatkan suhu tubuh serta mendongkrak vitalitas seksual pria.
“Bikin gini, Mas,” ungkap Doyok kepada saya sembari mengepalkan tangan dan menunjukkan pergelangan tangannya. “Daging anjing bikin pria jadi perkasa,” sambungnya seraya tertawa.
Mitos yang salah kaprah
Seluruh klaim khasiat yang dipaparkan oleh Doyok dan para konsumennya, dibantah oleh Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Prof. Sri Raharjo.
Ia menyatakan bahwa anggapan mengenai kemampuan daging anjing dalam menghangatkan tubuh atau meningkatkan vitalitas seksual hanyalah sebuah mitos yang tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali.
“Sudah banyak kajiannya, itu semua mitos yang dibesar-besarkan,” kata Raharjo saat dihubungi oleh Mojok, Minggu (7/6/2026).
“Pada dasarnya, semua jenis daging hewani, mau itu sapi, kambing, bisa memberi rasa hangat karena mengandung protein dan lemak. Akan tetapi efek ini dihasilkan juga dari jumlah yang dikonsumsi, bukan seporsi atau dua porsi,” imbuhnya.
Raharjo menjelaskan, sensasi panas atau hangat yang dirasakan tubuh usai mengonsumsi olahan daging anjing sebenarnya dipicu oleh metode pengolahan makanannya, bukan karena karakteristik bawaan dari daging hewan tersebut.
Hidangan berbasis daging anjing seperti sengsu atau rica-rica pada umumnya dimasak dengan menggunakan campuran rempah-rempah yang sangat pekat dan takaran cabai yang tinggi, yang secara otomatis memicu efek termogenik pada tubuh manusia.
Alhasil, rasa hangat tadi murni efek psikologis dan fisiologis dari bumbu. Sebab jenis daging lain pun akan memberikan efek kehangatan yang sama persis jika diolah dengan formula rempah yang serupa.
Raharjo juga mematahkan klaim mengenai peningkatan vitalitas maskulin dari sudut pandang nutrisi. Sejauh literatur ilmiah yang berkembang di dunia akademis, belum ada satu pun jenis olahan daging hewan yang terbukti secara empiris memiliki kandungan senyawa afrodisiak (aphrodisiac), yaitu zat kimia yang mampu merangsang daya seksual.
“Bahkan kuda sekalipun, yang selama ini dagingnya dianggap dapat meningkatkan vitalitas pria, secara medis belum ada penelitian yang bisa membuktikannya,” tegas Raharjo.
Secara medis, senyawa afrodisiak alami sejauh ini hanya ditemukan pada beberapa jenis tumbuhan atau tanaman herbal tertentu melalui kandungan spesifik seperti saponin atau flavonoid yang bekerja memengaruhi sistem hormon. Sementara pada daging hewan, termasuk daging kuda yang selama ini telanjur dipercaya masyarakat memiliki khasiat serupa, tidak memiliki dasar penelitian medis yang sahih.
Komposisi utama pada daging mamalia terdiri atas air, protein, lemak, serta beberapa jenis mineral yang berfungsi sebagai sumber energi tubuh biasa, bukan sebagai pemicu gairah atau kemampuan seksual pria.
Penjagal dan pemakan daging anjing berisiko tertular penyakit mematikan
Mengkonsumsi daging anjing tidak sekadar minim manfaat, tetapi juga menyimpan risiko kesehatan yang fatal bagi tubuh manusia. Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menegaskan bahwa mengonsumsi daging anjing berisiko tertular zoonosis.
Zoonosis sendiri merupakan penyakit menular yang secara alami dapat berpindah dari hewan ke manusia, atau sebaliknya. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. Salah satu zoonosis paling umum dalam daging anjing adalah virus rabies.
Hal ini selaras dengan peringatan kelompok kesejahteraan hewan, seperti Animal Friends Jogja (AFJ), yang berulang kali menegaskan bahwa rantai perdagangan dan konsumsi daging anjing merupakan salah satu vektor utama penyebaran virus rabies yang mematikan. Hingga kini, rabies belum ada obatnya dan 99 persen penderitanya bisa dipastikan meninggal dunia.
“Dalam konteks daging anjing, sebenarnya yang paling berisiko justru adalah orang yang menjagalnya, yang memotong dagingnya,” kata Nanung saat dihubungi Mojok, Senin (8/6/2026).
“Rabies bisa tertular dari daging yang memang sudah terkontaminasi, kemudian masuk melalui luka di bagian tubuh manusia,” imbuhnya.
Selain ancaman virus rabies, berbagai riset kesehatan juga menunjukkan bahwa daging anjing yang tidak melalui pengawasan higienitas dari dinas terkait sangat rentan terkontaminasi oleh patogen berbahaya lainnya. Beberapa di antaranya meliputi risiko infeksi bakteri Escherichia coli strain 107, Salmonella, virus Hepatitis, bakteri Leptospira penyebab leptospirosis, hingga investasi cacing pita jenis Trichinella yang memicu penyakit trikinosis pada jaringan otot manusia.
Hewan domestik bukan makanan
Berdasarkan seluruh pemaparan ilmiah tersebut, pakar kesejahteraan hewan, RD Wiwiek Bagja mengingatkan masyarakat bahwa siklus konsumsi daging anjing, nyatanya cuma merugikan kedua belah pihak. Baik dari sisi kesejahteraan hewan maupun keselamatan manusia.
Ditemui Mojok pada Jumat (5/6/2026), Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) periode 2006–2010 ini menjelaskan dari perspektif perlindungan hewan. Menurutnya, anjing-anjing yang masuk ke dalam rantai pasok pasar gelap ini dipastikan mengalami penyiksaan fisik yang berat sebelum mati akibat metode penjagalan ekstrem tanpa penyembelihan. Sebuah praktik, yang menurut Wiwiek, melanggar prinsip kehewanan dasar.
Dampak buruk ini juga meluas hingga ke ranah hukum pidana bagi masyarakat luas. Maraknya permintaan pasar gelap secara langsung menstimulasi angka kriminalitas berupa pencurian hewan peliharaan warga, yang secara material dan psikologis sangat merugikan para pemilik hewan yang kehilangan peliharaannya.
Sementara bagi konsumen manusia, alih-alih mendapatkan khasiat kesehatan, tindakan mengonsumsi daging anjing justru melipatgandakan risiko paparan penyakit infeksius berbahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
Wiwiek menekankan bahwa masih banyak alternatif sumber protein hewani lain di pasaran yang jauh lebih aman, legal, dan higienis untuk dikonsumsi oleh masyarakat Jogja tanpa harus menantang risiko kesehatan yang fatal.
“Jadi, tolong setop lah mengonsumsi daging anjing. Hewan domestik bukan makanan,” pesannya untuk masyarakat.
***
Malam itu, setelah hujan yang mengguyur wilayah Jogja perlahan mereda, saya menutup obrolan bersama Doyok dan berpamitan pulang. Namun, sebelum saya berbalik, saya dihadapkan pada satu fakta bahwa pelanggan yang memesan daging anjing ke Doyok ternyata masih sangat banyak. Di hadapan saya, ia tampak sibuk membalas pesan pelanggannya satu per satu.
Bangkai anjing malang yang sedari tadi menemani kami mengobrol pun dibawa Doyok ke halaman belakang rumahnya. Malam ini, si kecil malang itu bakal berakhir di meja makan orang-orang Jogja. Entah menjadi tongseng, rica-rica, ataupun olahan lain. Saya tak kuat membayangkannya ketika melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Reportase Khusus Mojok.co (Suara Bawah Tanah) edisi “Jagal Anjing di Kota Pelajar”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kala Sang Garuda Diburu, Dimasukkan Paralon, Dijual Demi Investasi dan Klenik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan