Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Transportasi umum di Jakarta–baik TransJakarta dan KRL–terbilang rawan bagi penumpang-penumpang perempuan. Para perempuan bisa menjadi sasaran pelecehan dari oknum laki-laki tak bertanggung jawab. 

Seperti yang baru-baru ini viral dan diberitakan banyak media. Seorang warganet mengunggah video momen dua laki-laku melakukan mastrubasi di dalam TransJakarta. Parahnya, sampai keluar cairan yang mengenai jaket seorang penumpang perempuan. 

Sebenarnya bukan sekali itu pelecehan terjadi di transportasi umum di Jakarta. Berkali-kali juga viral, berulang kali petugas menindak. Namun, ada saja oknum laki-laki dengan kecenderungan “menyimpang”: Menyalurkan syahwatnya di tempat umum. 

Untung penumpang TransJakarta peduli, kalau di KRL cuek walaupun ada yang dilecehkan

Di kolom komentar unggahan video itu, ada warganet yang mengaku bahwa tindak pelecehan terhadap perempuan di transportasi umum Jakarta memang masih kerap terjadi. 

Namun, ada situasi yang berbeda antara di TransJakarta dan KRL. Si warganet mengaku, kalau di TransJakarta, masih banyak penumpang yang peduli. Sehingga ketika ada orang berbuat asusila, maka penumpang lain akan langsung bertindak sebelum nanti diteruskan ke petugas. 

Berbeda dengan yang terjadi di KRL. Pengakuan si warganet, penumpang KRL cenderung cuek-cuek. 

Alhasil, ketika ada perempuan menjadi korban pelecehan, walaupun si korban sudah menunjukkan gestur butuh dibantu, tapi penumpang lain seperti tak peduli.

“Urusanmu ya urusanmu sendiri. Jangan libatkan orang lain.” Begitu kira-kira jawaban dari sorot mata penumpang lain saat korban pelecehan memberi kode minta bantuan. Bahkan banyak juga penumpang yang memilih mengalihkan perhatian. 

Cari-cari kesempatan di tengah kesempitan transportasi umum Jakarta

Irgina (29), salah seorang perempuan pekerja di Jakarta, mengaku beberapa kali mengalami kasus pelecehan saat naik transportasi umum. 

Pernah suatu kali, ketika naik TransJakarta dan dalam kondisi agak berdesakan, ia merasakan bagian pantatnya dielus dengan punggung tangan oleh penumpang di belakang. Namun, setiap kali ia menoleh, si penumpang laki-laki itu pura-pura fokus melihat area luar. 

“Kalau dibilang nggak sengaja, tapi ada gerakannya,” ujar Irgina, Sabtu (17/1/2025). 

Pernah juga ia mengaku, di dalam kepadatan TransJakarta, ada penumpang yang terasa dengan sengaja mengendus rambutnya. Ada juga yang sengaja berpegangan di tiang, tapi tangannya diletakkan persis di hadapan dada Irgina. 

“Sehingga kalau ngerem, tangannya bisa tersentuh dada saya. Modusnya begitu. Mangkanya biar nggak pindah-pindah,” kata Irgina. 

Untung ada penumpang lain yang peduli

Dalam modus seperti itu, penumpang lain memang kerap samar. Oleh karena itu, beberapa kali Irgina sengaja meminta bantuan. Berbisik kepada penumpang lain di dekatnya. 

“Untungnya aku sering ketemu penumpang cowok baik. Jadi pas aku ngadu, dia langsung ngelihatin ke arah belakang,” jelas Irgina. 

Namun, karena cowok tersebut tidak melihat gelagat mencurigakan dari penumpang di belakang Irgina, Irgina diminta untuk maju ke depan. Agar terlindung dari penumpang dengan modus mesum tadi. 

“Memang aku belum pernah ngalamin yang sampai ribut-ribut. Tapi modus-modus semacam itu masih sering terjadi di dalam transportasi umum di Jakarta, termasuk TransJakarta,” ucapnya. 

Perbuatan asusila dari belakang di transportasi umum Jakarta

Cerita serupa juga datang dari Neli (25). Bedanya, jika Irgina lebih sering naik TransJakarta, Neli lebih sering menggunakan moda transportasi umum KRL. 

Neli mengaku pernah merasa penumpang laki-laki di belakangnya menempelkan kemaluannya ke pantat Neli. 

Apakah itu ketidaksengajaan karena kondisi KRL yang berdesakan? Mungkin. Namun, situasi itu nyatanya digunakan sebagai kesempatan bagi si otak mesum. Sebab, kalau tidak sengaja mestinya hanya sekali. Tapi penumpang mesum itu sengaja mengulanginya terus-menerus, tanpa beriktikad menghindari. 

“Aku sempat negur waktu aku ngalamin itu. Tapi si otak mesum itu malah balik marah. Katanya, ya kalau nggak mau senggolan jangan naik KRL. Kesel banget. Sementara penumpang lain cuma ngelihatin,” ujar Neli. 

Di media sosial, Neli pun mengaku pernah mendapati komentar dari warganet laki-laki membela diri. Katanya, perempuan di KRL amat mudah menuding laki-laki melakukan pelecehan. Padahal dalam situasi KRL yang serba berdesakan, laki-laki bisa apa? 

“Kan sebel banget kayak gitu,” kata Neli. 

Diam-diam merekam

Perempuan memang amat rentan jadi objek pelecehan di transportasi umum di Jakarta. Bukan hanya dalam bentuk sentuhan fisik. Tapi bahkan pakai modus yang lebih halus. 

Neli pernah mendapati seorang perempuan pekerja Ibu Kota, kira-kira usia menjelang 30-an, diam-diam direkam oleh penumpang yang duduk di hadapannya. 

“Si mbak-mbak itu kan berdiri. Sebenarnya dia itu tertutup. Pakai masker, berhijab, pakaian panjang. Cuma memang bagian tubuhnya agak mencolok. Tapi itu kan anugerah Tuhan. Dasar cowok mesum aja yang nggak bisa gitu biasa aja ngelihatnya,” beber Neli. 

Ia melihat, ternyata si cowok mesum itu menyalakan kamera belakang ponselnya. Lalu mencari-cari celah untuk merekam dan memfoto penumpang perempuan di hadapannya. 

“Aku langsung bisikin ke si mbaknya, ngajak dia agak ke depan walaupun kondisinya berdesakan. Terus si cowok itu ngelihatin aku terus,” kata Neli. 

***

Baik Irgina maupun Neli tentu agak traumatis tiap hendak menaiki transportasi umum di Jakarta. Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Demi menghindari macet dan ongkos lebih murah. Hanya sesekali saja mereka menyelingi menggunakan ojek online. 

Tapi mereka mencoba sehati-hati mungkin tiap naik TransJakarta maupun KRL. Mata mereka awas mengamati gelagat-gelagat mencurigakan dari penumpang lain. 

“Aku sih berharapnya penumpang lain juga peduli gitu. Saling ngelindungi,” harap Neli. 

“Nggak tahu ya, aku malah berpikir, kayaknya perempuan bakal lebih aman dari potensi pelecehan kalau tempatnya khusus. Misalnya, kalau TransJakarta, ada gitu TransJakarta yang khusus penumpang perempuan. Dipisah aja udah. Kalau KRL, nggak tahu dah, harusnya petugas lebih awas aja sih,” sementara begitu pendapat Irgina. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pilihan yang Sulit Bagi Warga Karawaci Tangerang: Antara Siksaan Naik KRL Kena Gencet atau Naik Bus Kena Macet atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version