Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dulu Kami Tak Perlu ke Sarkem, Sebab di Alun-Alun Utara Jogja Banyak Tenda Remang-Remang yang Tarif Jasanya Lebih Murah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Juni 2024
A A
Prostitusi di lokasi wisata Jogja selain Sarkem.MOJOK.CO

Ilustrasi Dulu Kami Tak Perlu ke Sarkem, Sebab di Alun-Alun Utara Jogja Banyak Tenda Remang-Remang yang Tarif Jasanya Lebih Murah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pasar Kembang alias Sarkem menjadi pilihan banyak orang yang ingin ‘berwisata lendir’ di Kota Jogja. Gang yang lokasinya tak jauh dari Jalan Malioboro ini tak pernah sepi. Namun, dahulu di Alun-Alun Utara Jogja, hanya beberapa jengkal dari muka keraton, ada tempat prostitusi serupa Sarkem yang tarif jasanya lebih murah.

***

Dua batang rokok dan setengah gelas kopi sudah saya habiskan pagi itu, Kamis (13/6/2024). Setengah jam saya harus menunggu, sebelum akhirnya Hamzah* (48) tiba dan dengan ramah langsung menawari saya menu makanan yang ia jual di sana.

Kedatangan saya pagi itu tentu bukan untuk makan. Sehari sebelumnya, saya menulis liputan berjudul “Jejak Prostitusi di Alun-Alun Utara Jogja“. Berbekal informasi dari narasumber, saya pun terhubung dengan Hamzah, yang kini berprofesi sebagai penjual makanan di Pasar Sentul, Pakualaman, Kota Jogja.

Menurut kesaksian beberapa teman-temannya, Hamzah merupakan salah satu orang yang tahu cerita soal prostitusi di Alun-Alun Utara Jogja. Sebab, dulu, dia turut menyewakan tenda remang-remang sebagai tempat esek-esek di sana.

“Lima tahun lebih lah, Mas, saya dulu bantu-bantu jualan di alun-alun. Ya kayaknya nggak cuma saya yang tahu soal itu, karena kan dulu alun-alun memang terkenal sama yang ‘begituan’,” jelasnya pagi itu. 

Tenda remang-remang di Alun-Alun Utara Jogja

Pada tahun 1998, Hamzah datang ke Jogja. Saat itu, salah seorang saudaranya memintanya buat ikut bantu-bantu usaha jualan di Alun-Alun Utara Jogja. 

Saudaranya, sudah sejak tahun 1980-an buka usaha semacam angkringan di Jogja. Lokasinya pindah-pindah. Kebetulan sejak beberapa tahun terakhir, ia pindah ke alun-alun utara dan sangat ramai pembeli. Makanya, Hamzah diminta ke Jogja buat membantu.

Saat awal-awal datang, Hamzah sudah dikasih tahu untuk “jangan kaget”, karena di alun-alun utara ada hal lain yang mungkin bakal bikin dia tercengang.

“Mungkin biar nggak kaget ya, Mas, jadi saudara langsung ngasih tahu kalau di sana kami nyediain tenda begitu buat ‘main’. Gelap-gelapan di belakang warung,” kata Hamzah.

“Kayak gini saja lah. Sekarang kan banyak orang nyewain tikar di tempat-tempat wisata, nah dulu tenda yang disewain,” sambungnya.

Alhasil, Hamzah pun langsung tahu kalau di Alun-Alun Utara ada tempat prostitusi selain Sarkem. Namun, ia diminta buat diam-diam saja karena tempat esek-esek di sana ilegal, beda dengan Sarkem yang berizin.

“Kalau ketahuan nyewain tenda buat begituan kita bisa disemprit petugas. Nggak boleh lagi jualan di sana,” ujarnya.

Tarifnya lebih murah ketimbang Sarkem

Hamzah tak memungkiri, prostitusi di Alun-Alun Utara Jogja waktu itu adalah daya tarik tersendiri. Buktinya, nyaris setiap malam tenda remang-remang yang dia sewakan tak pernah sepi.

Iklan

Ia tak sepenuhnya ingat, dulu para PSK maupun pelanggan harus membayar berapa untuk menyewa tenda berukuran 3×4 meter itu buat sekali main. Yang jelas, dalam sehari, jumlahnya bisa hampir setengah dari penghasilan jualan angkringannya.

Menurut Hamzah, alasan esek-esek di alun-alun utara ramai peminatnya karena memang tarifnya yang lebih murah. Setidaknya itu cerita yang dia dapat dari beberapa teman yang pernah memakai jasa di sana.

“Wah kalau saya nggak berani, Mas, coba-coba gituan,” ungkapnya sambil tertawa. “Kalau kata teman-teman yang sudah pernah coba sih, setengah tarif di Sarkem begitu. ‘Awake dewe ra perlu ning Sarkem iki, Ham, kene luwih murah’,” ungkapnya, menirukan kalimat teman-temannya.

Hal serupa juga diungkapkan Poniyal (60), tukang becak yang sudah 40 tahun narik penumpang di Alun-Alun Utara Jogja. Lelaki asli Jogja ini tak tahu pasti sejak kapan prostitusi mulai muncul di tempat itu.

Menelusuri Jejak Prostitusi Terselubung di Alun-Alun Utara Jogja.MOJOK.CO
Sambil menaiki becak Poniyal, saya mendengarkan kepingan informasi terkait prostitusi di alun-alun utara Jogja (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Namun, yang dia pahami, beberapa PSK-nya adalah orang-orang dari Sarkem. Beberapa penumpang yang dia antar pun juga mengaku kalau mereka gagal deal di Sarkem, makanya coba-coba cari di alun-alun.

“Mungkin karena jadi ramai, awalnya satu dua orang, yang lain malah ikut-ikutan ke sini,” kata Poniyal, yang berbincang sambil mengantar saya berkeliling alun-alun utara, Rabu (12/6/2024).

Prostitusi intip kelamin dari kolong meja

Poniyal juga menceritakan, hal unik lain yang membedakan prostitusi Alun-Alun Utara Jogja dengan Sarkem adalah bentuk dan cara transaksinya.  Kata dia, ada prostitusi intip kelamin yang alat transaksinya pakai korek api kayu. 

Caranya, menurut Poniyal, para perempuan pekerja seks mendatangi calon pelanggan dan menawarkan korek api. Nantinya, lelaki tadi akan menentukan berapa batang korek api yang bakal dibeli. Setelah deal, barulah eksekusi.

“Si lelaki masuk ke bawah meja. Nah, dia ngintipin vagina perempuan itu pakai cahaya korek api, Mas. Jadi makin banyak korek yang dia beli, makan lama juga di ngintipnya,” kata Poniyal.

Sayangnya, sejak 2013 lalu, Dinas Ketertiban Umum Jogja membongkar tenda-tenda yang dicuriga sebagai sarang prostitusi terselubung ini. Jejaknya pun hilang sampai sekarang. Orang-orang tahunya kalau wisata lendir di Jogja hanyalah Sarkem.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Cerita Prostitusi Jasa Intip Kemaluan di Alun-Alun Utara Jogja, Korek Api Jadi Alat Transaksi

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2024 oleh

Tags: alun-alun utaraAlun-alun Utara JogjaJogjakota jogjaprostitusi di jogjasarkem
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.