Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Stasiun Wonokromo: Bangunan Bersejarah yang Menyimpan Cerita Kelam Kehidupan Warga Surabaya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Maret 2025
A A
Stasiun Wonokromo Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi - Stasiun Wonokromo di Jalan Jagir, Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Stasiun Wonokromo tak lagi terkenal sebagai bangunan yang punya nilai sejarah. Bangunan yang terletak di Jagir, Wonokromo, Surabaya itu kini menjadi tempat langganan muda-mudi bermesraan, hingga sekitaran stasiun yang terkenal sebagai tempat prostitusi.

Tak sengaja melihat adegan asusila

Renita Aulia atau yang akrab dipanggil Rain (27) sudah tak kaget melihat tenda-tenda di sekitaran rel Stasiun Wonokromo saat kereta api yang ditumpanginya melintas dari arah Surabaya ke Malang. 

Ia tidak pernah mengawali atau menghentikan perjalanannya di Stasiun Wonokromo, tapi Kereta Api Dhoho Penataran  yang ditumpanginya kerap berjalan melambat saat berhenti di stasiun tersebut. Momen itulah yang membuat pikirannya fokus memperhatikan “kehidupan” di sekitar rel Stasiun Wonokromo.

Sama seperti pemandangan di sekitar area stasiun kereta api biasanya, banyak permukiman padat penduduk di sekelilingnya. Hanya saja, Rain jadi terheran karena ada banyak tenda yang berdiri atau alas berupa tikar atau koran yang tergelar. 

Mulanya, perempuan asal Surabaya itu berpikir jika tenda-tenda tersebut sengaja didirikan warga untuk menikmati pemandangan kereta api yang melintas. Semacam penggemar kereta api atau railfan. Tak jarang, seorang ayah atau ibu menggendong ibunya anaknya dan melambai-lambaikan tangan ke arah kereta.

Atau kalau tidak begitu, warga sengaja mendirikan tenda tersebut untuk tempat tinggal sementara. Sebab tak jauh dari sana, sedang ada proyek pembangunan. Namun, Rain mengakui jika pikirannya terlalu naif. 

“Saya pernah lihat mereka ‘main’ di semak-semak. Saat itu, posisi saya di gerbong paling belakang sehingga tak sengaja lihat dari dalam kaca jendela,” ucap Rain.

Dari sana, ia baru sadar jika tenda tersebut sengaja didirikan oleh Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk melakukan praktik prostitusi atau tindakan asusila. Tentu, pemandangan itu membuatnya risih.

“Ya memang mereka judulnya cari uang, tapi tidak harus merendahkan harga diri apalagi di depan umum,” ujar Rain.

“Masih sangat lebih terhormat mengamen di lampu merah, apabila tidak memiliki keahlian untuk bekerja,” lanjutnya.

Dugannya itu diperjelas saat ia mengikuti materi kuliah dari dosen dramaturgi yang membahas kasus prostitusi di Surabaya, termasuk yang ada di Stasiun Wonokromo. Dosennya menjelaskan jika lokalisasi di Stasiun Wonokromo masih termasuk kasus level rendah, tidak seperti di Dolly. 

Muda-mudi yang bermesraan di Stasiun Wonokromo

Berdasarkan jurnal penelitian berjudul Penegakan Hukum Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 7 Tahun 1999 terhadap Lokalisasi Ban Sepur Wonokromo, tempat prostistusi yang terletak di sebrang timur Stasiun Wonokromo tersebut tergolong sebagai tempat lokalisasi kelas bawah. Di mana, perempuan pekerja seks komersialnya berasal dari desa dengan pendidikan rendah dan tidak memiliki pengalaman kerja. 

“Wanita pekerja seks komersial tersebut sengaja menjajakan diri untuk menutupi hutang, serta mencukupi kebutuhan hidup,” tulis Audy Clara Puspita dan Emmilia Rudiana selaku peneliti jurnal tersebut yang dikutip pada Sabtu (19/3/2025).

Lokalisasi yang ada di sekitaran Stasiun Wonokoromo itu sebetulnya sudah berkali-kali mengalami razia oleh Satpol PP maupun polisi, tapi bagai mencincang air, perbuatan itu tak serta merta hilang hingga sekarang.

Iklan

Tak hanya tindakan asusila di sekitaran rel, banyak pengguna kereta api yang mengeluhkan muda-mudi asyik bermesraan di Stasiun Wonokromo. Mojok pernah mewawancarai penumpang yang mengaku risih karena pemandangan tersebut.

Misalnya, Fani* (25) yang sering pergi-pulang Surabaya-Jombang menggunakan kereta lokal di Stasiun Wonokromo. Ia jengkel saat melihat sepasang kekasih bermesraan di kursi tunggu penumpang. 

Sebetulnya, ia tak masalah jika seorang kekasih mengantar dan menunggu pacarnya sampai jam tiba keberangkatan kereta. Bahkan ia maklum jika mereka memanfaatkan waktunya sebelum berpisah. Asal, kata dia, tidak perlu berlebihan seperti menggelendot atau bersentuhan fisik secara intens.

“Maksudku, di area luar itu juga banyak anak-anak yang lagi nunggu kereta bareng orang tuanya. Jadi kurang pantes aja adegan semacam itu terjadi di hadapan anak-anak,” kata Fani. 

Cerita Fani dapat dibaca selengkapnya di sini. 

Stasiun Wonokromo, bangunan cagar budaya

Sejatinya, Stasiun Wonokromo merupakan bangunan cagar budaya yang sudah beroperasi sejak tahun 1878 dan memiliki nilai histrori. Salah satunya, peristiwa Gerbong Maut yang terjadi pada 23 November 1947.

Ketika zaman penjajahan, Marinir Belanda mengawal pemindahan tawanan dari Bondowoso ke Surabaya menggunakan kereta api dengan angkutan gerbong yang tertutup rapat. 46 tawanan dari 90 orang tewas saat kejadian tersebut.

Mereka menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam profesi, seperti tentara, polisi, pamong praja, dan rakyat. Seorang pemandu dari Surabaya Urban Track (Subtrack), Ahmad Zaki Yamani, mengungkapkan nasib para tawanan itu berujung tidak pasti.

“Namun, sebuah asumsi mengatakan jenazah mereka dibuang di sungaii Jari dari jemabatan Kereta Api Wonokromo,” ucapnya dikutip dari laman komunitas Begandring Soerabaia–peneliti sejarah pada Sabtu (29/3/2025).

Di balik cerita dari pejuang kemerdekaan Indonesia, tak semestinya nama Stasiun Wonokromo tercoreng dengan berbagai kasus asusila baik di dalam maupun di sekitarnya. Sebab, stasiun itu menjadi saksi bisu para pejuang di Kota Pahlawan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sisi Gelap Stasiun Gubeng yang Merupakan Jantungnya Perkeretaapian di Jawa Timur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 5 April 2025 oleh

Tags: mudik lebaranstasiun di surabayastasiun wonokromo
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)
Catatan

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO
Catatan

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Lebaran 2025 Lebaran Paling Aneh 10 Tahun Terakhir MOJOK.CO
Esai

Mudik Lebaran 2025 Terasa Aneh dan Berbeda: Penumpang Bus Sepi Hingga Pedagang Asongan Menghilang

4 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

2 Maret 2026
Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN

Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN

3 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

Pakai iPhone Dianggap Keren, Rela Sewa Harian sampai Rp120 Ribu demi Gengsi dan Memberi “Makan Konten” Media Sosial

3 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.