Ada lapis-lapis kesedihan yang dialami sejumlah perantau. Bukan hanya soal jauh dari rumah, tapi juga terbebani perasaan bersalah. Karena merantau lama di perantauan seperti tidak ada hasilnya untuk meringankan beban orang tua. Uang hasil kerja mati-matian entah ke mana raibnya.
***
Baru beberapa sendok, tapi Mahardika (27) mendadak ogah-ogahan menyendok sepiring nasi goreng yang tengah ia santap di sebuah warung langganannya di Surabaya pada jam 8 malam.
Ia tercekat saat mendengar—dari seberang telepon—sang ibu hendak membeli kulkas baru, hasil mengumpulkan uang jualan nasi pecel pincuk di Tuban, Jawa Timur, dan hasil panen jagung sang bapak.
Kulkas lama pemberian kakak perempuan sebelumnya sudah tidak berfungsi. Jadi mau tak mau harus beli lagi. “Sebenarnya mau beli mesin cuci, biar mudah dan nggak capek (kalau mencuci). Tapi sepertinya lebih butuh kulkas, karena buat menyimpan sayur-sayuran,” ucap ibu Mahardika.
Mahardika tidak bisa merespons banyak. Hanya sekadar “Ya sudah”. Setelah sambungan telepon ditutup, tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk. Ada perasaan gagal dan tidak berguna yang menghantam batinnya.
Rasa tanggung jawab pada orang tua tak melulu datang dari anak pertama
Mahardika adalah anak kedua (sekaligus terakhir). Sebenarnya ia punya satu adik, tapi sudah meninggal tidak lama setelah lahir. Tinggal ia dan kakak perempuannya.
Kakak perempuannya sudah berkeluarga. Memiliki satu anak.
“Dulu sebelum menikah, mbakku kerja. Sedikit-sedikit bantu orang tua. Tapi karena sekarang punya anak, jadi harus lebih banyak ke keluarganya sendiri,” ungkap Mahardika berbagi cerita, Kamis (29/1/2026) pagi.
Di titik itu, Mahardika secara naluriah merasa perlu bertanggung jawab untuk membantu ekonomi orang tuanya. Untuk itulah, selepas lulus kuliah pada 2022 silam, ia memutuskan untuk tetap di Surabaya.
“Dulu kuliah aku pakai biaya sendiri. Saking nggak mau merepotkan orang tua. Jadi kurir Shopee Food,” ungkap Mahardika.
Selepas lulus, ia sebenarnya bekerja di sebuah outlet perlengkapan outdoor. Di sela-selanya ia gunakan untuk mencari uang tambahan dari Shopee Food.
Rasa gagal dan bersalah perantau: merantau lama, tapi tetap tidak bisa membantu orang tua
Gaji Mahardika dari outlet hanya setengah UMR Kota Surabaya. Pemasukannya dari menjadi kurir pun hanya cukup sebagai sisipan.
Tiap menjelang tanggal gajian, Mahardika sebenarnya selalu punya rencana untuk mengirim sebagian uang ke rumah. Namun, tiap melihat saldo di m-Banking dan mencoba menghitung estimasi pengeluaran pribadi, selalu berujung urung mengirim uang.
Perasaan bersalah dan gagal di perantauan semakin bertumpuk ketika ia mendapati fakta bahwa sejumlah temannya tampak ringan betul terhadap orang tua masing-masing. Sesederhana kalau bisa membelikan orang tua emas/perhiasan dan barang-barang berharga lain. Bahkan ada pula yang nyaris setiap bulan bisa mengirim uang untuk orang tua di rumah.
“Buat aku sendiri masih sangat pas-pasan. Nabung aja aku ngga bisa konsisten dan banyak. Paling perbulan cuma bisa menyisihkan Rp200 ribu buat tabungan,” ungkap Mahardika.
Selama merantau ini, Mahardika hanya bisa sesekali pulang membawa oleh-oleh dari perantauan: umumnya lapis kukus khas Surabaya yang harganya berkisar Rp37 ribuan. Terlalu sepele.
Orang tua tidak meminta dibantu, tapi merasa berdosa ketika mereka masih kerja di usia tua
Mahardika tidak punya keberanian untuk membicarakan apa yang ia rasakan pada orang tuanya. Ia pendam sendiri, membuat beban rasa bersalah dan gagal itu terus bertumpuk dari hari ke hari.
Beda cerita dengan Shanin (26), perempuan asal Sidoarjo, Jawa Timur. Ia anak pertama, punya adik yang masih SMA.
“Aku kerja sebagai staf administrasi di perusahaan kecil di Jakarta. Sambil tetap ngajar les privat,” ungkapnya.
Shanin cenderung lebih berani terbuka dengan orang tuanya. Ia berkali-kali minta maaf karena masih belum bisa membantu banyak dari sisi ekonomi. Minimal membantu biaya sekolah sang adik.
“Mbok nggak usah mikir kayak gitu. Wong ibu dan bapak masih sanggup kerja,” begitu selalu ucapan orang tua Shanin.
Bagi orang tuanya, Shanin bisa mandiri dan mencukupi hidupnya sendiri itu sudah sangat cukup meringankan beban orang tuanya. Kendati sebenarnya, bagi orang tua Shanin, tidak ada istilahnya orang tua terbebani oleh anak. Karena memang sudah tanggung jawabnya begitu.
Tapi tetap saja. Shanin merasa berdosa karena membiarkan orang tuanya masih harus tetap bekerja menjelang masa tuanya. Ibu Shanin masih bekerja di pabrik. Sementara sang bapak masih harus berkutat sebagai tukang kayu—yang makin ke sini penghasilannya makin tak menentu.
Ingin orang tua pensiun, tapi sadar diri belum bisa nanggung hidup mereka
Di beberapa sudut Jakarta, Shanin kerap mendapati orang tua di usia senja masih harus mati-matian mencari penghidupan. Bahkan tidak sedikit pula yang terlantar.
Hal pertama yang terbersit di pikirannya adalah, “Ke mana anak-anak mereka sampai membiarkan orang tua mereka seperti itu?”
Sejurus kemudian, Shanin sadar, bahwa sebenarnya ia pun sama saja. Tidak punya kuasa besar untuk membiarkan orang tua istirahat. Duduk-duduk di rumah tanpa harus terus menggerus tulang-tulangnya.
“Aku sering membayangkan, kalau aku dapat uang banyak, aku pasti minta mereka pensiun. Nggak kerja lagi. Duduk diem di rumah, terus hidupnya kutanggung,” tutur Shanin lirih.
Kenyataannya, Shanin bahkan tak berani meminta agar orang tuanya sekadar libur dulu dari kerja, ketika lewat sambungan telepon mengabarkan sedang tidak enak badan.
Shanin: “Lha ibuk izin libur nggak besok kalau nggak enak badan?”
Ibu Shanin: “Nggak berani izin. Izin itu harus yang bener-bener penting. Kalau cuma nggak enak badan, minum obat di warung nanti juga sembuh. Kalau dikit-dikit izin nanti bisa-bisa malah nggak boleh kerja lagi.”
Shanin: “Ya sudah, buk, ibuk minum obat sama istirahat ya buk. Biar cepat sembuh.”
Sungguh, dalam hati Shanin ingin ibuknya berhenti kerja di pabrik. Tapi ia sadar diri, kalau orang tuanya benar-benar berhenti bekerja, Shanin bisa apa nanti? Apakah mampu menghidupi orang tua, adik, dan hidupnya sendiri?
“Aku kalau ada uang lebih, sedikit-sedikit pasti kukirim ke rumah. Kalau aku pulang pun pasti kukasih beberapa lembar. Tapi itu cukup buat apa sih, cukup buat berapa lama sih? Sementara sebenarnya aku penginnya mereka pensiun, istirahat,” ucap Shanin, disertai suara bergetar dan isak tertahan.
Ada opsi pulang merantau langsung menikah, tapi itu hanya akan menambah rasa bersalah
Orang tua Shanin bukan sekali-dua kali meminta Shanin pulang saja dari perantauan (Jakarta). Bekerja sedapatnya di daerah sekitar Mojokerto saja.
Toh, dalam cara pikir masyarakat desa Shanin, perempuan itu tidak dituntut harus bisa menanggung hidup keluarga. Tidak perlu harus susah payah jadi perantau.
“Karena bapak kasihan sama aku, perempuan jauh-jauh merantau, beliau minta aku nikah saja. Kalau sudah nikah, nanti lebih enak karena nanggung hidup bareng-bareng sama suami,” beber Shanin.
Tapi, bagi Shanin, itu bukan solusi. Malah justru akan menambah rasa bersalah. Pertama, rasa bersalah karena jika menggelar pernikahan, pastinya orang tuanya akan turut menggelontorkan uang dalam jumlah besar.
Kedua, setelah Shanin menikah, ia takut bakal lebih fokus ke keluarga. Jangankan meminta orang tua pensiun dan menanggung hidup mereka, sekadar memberi “recehan” seperti biasanya—saat ia masih lajang—saja belum tentu leluasa. Jika itu terjadi, justru akan menambah rasa bersalahnya.
“Enak kali ya jadi orang kaya, punya bisnis di mana-mana. Orang tua suruh pensiun, tapi kita bisa handle penuh keuangan mereka, menjamin mereka hidup sejahtera di masa tua,” tutup Shanin.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
