Dulu di awal-awal merantau, pulang dari perantauan bisa jadi momen untuk nongkrong lagi dengan teman-teman lama. Namun, makin ke sini, justru secara sengaja tak menyediakan waktu itu. Keadaan sudah berubah. Pulang ke rumah seiring waktu sering kali menjadi momen sentimentil dan bikin nyesek bagi beberapa orang.
Pulang dari perantauan, nyesek lihat wajah ibu hanya sebantar
Sesingkat apa pun waktu kepulangan ke kampung halaman, saya biasanya akan menyempatkan bertemu dengan teman-teman lama. Entah teman masa kecil, teman nyantri dan SMA, hingga teman seperjuangan dalam urusan pekerjaan. Semata agar hubungan yang sudah terikat sejak lama tetap terjaga.
Terutama di masa-masa masih merantau untuk kuliah (2017-2021). Kendati pulang, waktu saya di rumah—kumpul keluarga—tidak lebih banyak dari aktivitas saya di luar. Pagi keluar, siang pulang untuk tidur sampai sore, habis Magrib keluar lagi sampai tengah malam.
Tak jarang ibu mengeluh ketika tiba-tiba saya hendak balik ke perantauan, “Ibu belum puas melihat wajahmu di rumah kok kamu sudah tiba-tiba balik saja.”
Dulu kalimat ibu itu tak begitu mengganggu suasana batin saya. Akan tetapi, makin ke sini, karena saya masih merantau untuk bekerja, saya baru merasakan betapa tidak enaknya suasana batin saya tiap pulang hanya sebentar.
Saya akhirnya merasakan apa yang ibu rasakan. “Perasaan baru sebentar, belum puas kumpul bareng ibu, adik, dan keluarga. Tapi tiba-tiba kok saya sudah harus balik ke perantauan lagi.” Nyesek sekali. Tak jarang saat di atas kendaraan saya menangis sesenggukan.
Itu pula yang mendasari saya kenapa kemudian mengurangi jatah nongkrong dengan teman-teman. Saya sisakan lebih banyak waktu di rumah. Saya puas-puaskan kumpul dan menatap wajah ibu.
Sengaja tak terlihat pulang biar tak ada ajakan nongkrong
Hal serupa juga dirasakan oleh Fatihin (26), pemuda asal Jawa Tengah yang sejak kuliah pada 2017 hingga sekarang bekerja merantau di Malang, Jawa Timur.
Dulu, pulang kampung bagi Fatihin berarti akan bertemu dengan teman-teman lama. Sebanyak apa pun teman baru di perantauan, teman-teman lama tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Meski di rumah, amat jarang ia berdiam di rumah. Pasti ada saja ajakan nongkrong.
“Sekarang bapak sakit-sakitan. Ibu juga sudah tua. Kalau pulang, rasanya keliru saja kalau saya masih sering nongkrong di luar ketimbang menemani mereka di rumah,” ujar Fatihin, Kamis (11/12/2025).
Dulu, setiap pulang dari perantauan, Fatihin pasti akan mengabari satu persatu temannya di kampung. “Info ngopi!” Lalu selama ia masih di rumah, ajakan untuk keluar rumah nyaris tak pernah berhenti.
Makin ke sini, Fatihin malah sengaja tak mengabari teman-temannya kalau ia pulang. Semata agar tidak ada yang tahu kalau ia di rumah, sehingga ia bisa menikmati waktu bareng orang tuanya.
“Kalau teman ngajak ngopi, aku nggak bisa nolak. Jadi mending nggak kukabari. Tapi kalau nggak ngabari dan “ketahuan” kalau aku di rumah, ya aku paling bisa ngopinya hanya sebentar,” ujarnya.
Terima risiko dianggap berubah gara-gara terlalu lama di perantauan
Gara-gara itu, tak jarang beberapa teman menganggap Fatihin sudah berubah: Dulu lhas lhos kalau diajak, sekarang susah minta ampun. Pulang saja pakai sembunyi-sembunyi.
Ada yang mengucapkan begitu di hadapan Fatihin langsung. Hanya saja dengan nada bercanda. Akan tetapi ada juga yang serius menganggap Fatihin sudah berubah: Ngomongin Fatihin di belakang, menganggapnya jadi sombong gara-gara sudah terlalu lama merantau dan makin terpapar budaya kota.
“Sudah nggak level dia nongkrong sama anak kampung. Sekarang dia jadi anak kota.” Kata Fatihin, percaya lah, ada loh teman yang menggunjingkan Fatihin demikian.
Fatihin tak bisa banyak memberi penjelasan. Sebab, kebanyakan teman-temannya bukan perantau sepertinya. Sehingga, apa pun penjelasan Fatihin, bisa saja ditangkap sebagai sekadar alasan yang dibuat-buat.
“Tapi aku terima risiko itu. Yang penting aku nggak ada masalah dengan mereka. Aku masih berteman. Hanya saja, intensitas nongkrongku memang sudah nggak bisa seperti dulu,” kata Fatihin.
“Aku memang berubah. Aku di usia 20 tahun tentu beda dengan aku yang sekarang sudah bertambah enam tahun. Prioritas sudah beda. Sekarang, prioritasku tiap pulang adalah menebus waktuku yang hilang bersama keluarga,” sambungnya.
Tujuan pulang adalah rumah dan orang tua, bukan reuni sekolah dan kampung halaman
Begitu pula dengan Delinda (23), perempuan asal Lasem, Jawa Tengah yang merantau untuk kuliah di Jogja.
Setiap libur semesteran, grup SMA-nya dulu pasti akan riuh oleh info-info reunian. Renui angkatan ada, reuni kelas ada, bahkan reuni circle pertemanan semasa sekolah pun diada-adakan.
Delinda mengaku lebih sering absen. Mentok-mentok, kalau sengaja meluangkan waktu, ia hanya akan ikut reuni circle pertemanan—karena anak-anak di dalamnya adalah teman-teman terdekat di masa sekolah dulu.
“Di perantauan aku sering nangis-nangis sendiri karena kangen orang tua. Kangen masakan ibu, kangen sama bapak. Pas ada kesempatan pulang, ya agak mikir kalau aku harus sering-sering keluar rumah. Mending nebus kangen,” ucap Delinda.
Bagi Delinda, reuni dan kampung halaman sebenarnya tidak pernah menarik. Satu-satunya hal yang membuat ia begitu semangat pulang adalah karena bisa bertemu orang tua.
Menyaksikan banyak penyesalan kala orang tua sudah tiada
Saya, Fatihin, dan Delinda ternyata punya kesamaan: Orang-orang merantau yang tidak ingin merasakan penyesalan sebagaimana yang banyak kami saksikan.
Kami menyaksikan sendiri, betapa banyak perantau yang saking sibuknya di perantauan, amat jarang bisa pulang barang sebentar. Tak menyadari kalau waktu terus berjalan, mengikis usia dan raga orang tua masing-masing.
Sehingga ketika orang tua tiada, yang tersisa adalah penyesalan dan rasa bersalah. Penyesalan karena tak cukup waktu untuk melihat wajah orang tua. Rasa bersalah karena terlalu lama meninggalkan mereka dan tak kunjung punya waktu untuk menemani.
Saya pernah tidak sepakat dengan seorang teman perihal ini. Di tahun-tahun belakangan, saya mewajibkan diri saya untuk selalu pulang sebulan sekali. Paling maksimal ya dua bulan sekali.
Teman saya sangsi. Katanya, terlalu sering pulang bisa nguras gaji buat ongkos. Itu lah kenapa ia memilih pulang setiap ada situasi penting atau darurat saja.
Masalahnya, jika situasi penting atau darurat itu adalah kepergian orang yang disayang? Masa untuk pulang harus menunggu duka terlebih dulu? Lantas kapan kita menikmati tawa dan bahagia bersama orang tersayang di rumah? Sekali pun hanya sebentar saja waktunya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sibuk Skripsian sampai Abaikan Telpon Ibu dan Jarang Pulang, Berujung Sesal Ketika Ibu Meninggal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
