Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Petani Indonesia Belum Merdeka, Di Hari Kemerdekaan RI ke 79 Petani Malah Nelangsa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Agustus 2024
A A
Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia baru saja merayakan 79 tahun masa kemerdekaan. Namun nahasnya, para petani di Indonesia masih tak kunjung “merdeka”: masih terbelenggu dalam kemiskinan. Pakar pertanian UGM berharap pemerintah mengambil andil serius dalam rangka menyejahterakan mereka.

***

Ketika beberapa RT di Banyuarang, Jombang, sedang ramai-riuh karnaval 17 Agustusan, Minggu (18/8/2024) pagi WIB, saya mengikuti beberapa ibu-ibu ke sebuah kebun di belakang rumah seorang warga.

Awalnya dari mulut ke mulut terdengar kabar bahwa warga si pemilik kebun menjual sayur-sayuran di kebun miliknya dengan harga sangat murah. Antara lain tomat dan terong.

Tomat dijual dengan harga Rp350 perak per kilogram. Sementara terong perkilogramnya cuma Rp800 perak. Tentu saja ibu-ibu setempat langsung menyerbu—untuk membeli—sayur di kebun warga itu.

Sayangnya, saya tak bisa berbincang agak dalam dengan pemilik kebun tersebut. Hanya saja, menjual sayur dengan harga sangat murah tersebut tentu tidak lepas pula dari anjloknya harga sayur di pasaran yang terjadi belakangan ini. Kondisi yang tentu membuat nelangsa.

Ironis memang. Di Hari Kemerdekaan RI ke 79, kaum petani nyatanya belum sepenuhnya merdeka.

Jasa dan nasib 40,69 juta petani di Indonesia yang terabaikan

Kasus yang saya temui di Jombang pagi itu hanyalah satu kasus saja. Secara keseluruhan, puluhan juta petani di Indonesia memang dalam kondisi yang begitu memprihatinkan. Pakar pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho menyebut, ada setidaknya 40,69 juta petani di Indonesia yang belum sepenuhnya meredeka dari cengkeraman kemiskinan: kesejahteraan hidupnya belum terjamin.

“Di negara yang mayoritas pertanian, para petani semestinya mendapatkan perlakuan khusus dari negara. Minimal ada pengakuan terhadap petani dan fasilitas yang menguntungkan bagi petani,” ungkap Bayu di Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Sabtu (17/8/2024).

Hal tersebut tentu sangat disayangkan Bayu. Sebab, para petani telah berjasa bagi Indonesia. Berkat jerih payah, kerja nyata, dan kerja keras mereka, Indonesia mampu menorehkan sejarah dalam dunia pertanian di pentas internasional. Hal ini seperti tercatat di tahun 1984 dan berlanjut pada tahun 2022.

Di tahun-tahun itu, Indonesia sukses menggenjot produksi padi sehingga produksi padi mampu meningkat secara signifikan.

“Kemudian melahirkan Swasembada Beras yang lalu mendapatkan penghargaan dari FAO,” kata Bayu.

Nasib petani di Indonesia tidak berubah

Meski begitu, nasib petani di Indonesia seolah tak kunjung berubah. Tak kunjung bisa hidup sejahtera. Itu juga yang membuat anak-anak muda saat ini tak begitu berminat menjadi petani.

Maka, menurut Bayu selaku pakar pertanian UGM, negara memiliki tugas berat di masa-masa mendatang. Yakni bagaimana menaikkan derajat petani di Indonesia sebagai pahlawan pangan serta mengangkat mereka dari garis kemiskinan.

Iklan

Bayu sebenarnya tak menafikan bahwa telah banyak program dari pemerintah guna mensejahterakan petani di Indonesia.

Berbagai program tersebut terdiri dari intensifikasi pertanian seperti penggunaan bibit unggul, perbaikan saluran irigasi, penggunaan pupuk, sampai dengan program penyuluhan dan pendampingan yang intensif dan masif pada kelompok tani.

Selain itu, ada program ekstensifikasi seperti program cetak sawah, pengembangan lahan rawa, gambut dan lahan tidur (iddle land) untuk dijadikan lahan sawah produktif. Tetapi kenyataannya memang masih jauh dari harapan: banyak petani sengsara hingga menimbulkan ketidakminatan anak-anak muda atas profesi tersebut.

“Harapan di ujung adalah peningkatan kesejahteraan petani (di Indonesia). Tetapi sayang dari semua program yang sudah dilaksanakan belum sepenuhnya berhasil secara signifikan untuk mengangkat kehidupan petani ke tingkat yang lebih baik,” keluh Bayu.

“Meski kita tidak bisa memungkiri memang permasalahan pertanian sangat kompleks dan beragam dari tiap-tiap wilayah,” sambung pakar pertanian UGM itu.

Berharap pemerintah punya program riil

Menurut Bayu, atas banyak masalah yang petani hadapi, semestinya bisa diminimalisir dan diatasi jika ada program yang jelas dan riil dari pemerintah dalam upaya menaikkan derajat para petani.

Oleh karena itu, suksesi kepemimpinan nasional di tahun 2024 Bayu harapkan bakal memberi harapan baru bagi petani di Indonesia.

Hal itu, kata Bayu, bisa dengan menyempurnakan dan memperbaiki kekurangan program yang sudah berjalan saat ini. Syukur-syukur muncul program-program lain di luar yang sudah ada dan telah berjalan saat ini, yang betul-betul bisa membawa petani sejahtera.

Memang, program-program baru tersebut tidak serta merta membuat sejahtera (secara instan). Namun, bagi pakar pertanian UGM itu, setidaknya ada program yang sudah mengarah pada peningkatan kesejahteraan petani. Memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa terealisasi.

“Dalam hal ini tentu juga diperlukan adanya program sinergi dan kolaborasi dari segenap komponen bangsa untuk menanganinya. Predikat Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tentunya akan dapat diraih kalau semua pihak bisa menjamin kesejahteraan petani,” papar Bayu.

“Kita semua berharap para pahlawan pangan ini dapat merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya di HUT ke-79 RI tahun ini,” harapnya.

Inisiatif masyarakat bantu petani

Pada Juli 2024 lalu, saya menemukan gerakan unik dari elemen masyarakat bawah dalam upaya mensejahterakan petani di Indonesia. Yakni yang dilakukan oleh Masjid Nurul Ashri

Masjid di Deresan Sleman tersebut memiliki program borong sayur dari petani langsung karena prihatin harga sayur yang anjlok di pasaran. Misalnya yang pengurus Masjid Nurul Ashri temui, pakcoy yang harusnya dijual dengan harga Rp8 ribu perkilogram anjlok menjadi Rp2 ribu bahkan Rp1 ribu perkilogram .

Saya sempat menulis wawancara panjang dengan Kepala Takmir Masjid Nurul Ashri, Mucharom Nur (54), yang bisa dibaca di sini. Gerakan tersebut memiliki dampak besar karena setelah viral, kini melibatkan banyak masjid dan yayasan di Jogja untuk melakukan hal yang sama.

Masyarakat saja sudah punya kesadaran demikian: berupaya mensejahterakan petani. Maka dari itu, “desakan” dari Bayu agar pemerintah punya program realistis atas kesejahteraan petani harusnya mendapat perhatian serius.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sin

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2024 oleh

Tags: harga sayur anjlokharga tomatpakar pertanian ugmpetanipetani di indonesiaUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.