Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jualan Gorengan Pakai Gerobak di Pinggir Jalan, Perantau Jawa Barat di Jogja Omzetnya Rp2 Juta Per Hari, Saat Ramadan Berlipat Ganda

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
6 Mei 2024
A A
jualan gorengan bikin perantau majalengka jawa barat kaya di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi penjual "Gorengan Putra Tasik" (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dagangan sederhana perantau Jawa Barat omzetnya minimal Rp2 juta sehari

Didin berjualan seharian. Buka sejak jam setengah enam pagi, jeda jam setengah dua belas, lalu mulai berjualan lagi sekitar jam setengah dua hingga menjelang magrib. Libur, paling hanya sehari dalam sepekan.

Didin, daritadi terus menggoreng tempe. Saya agak penasaran, berapa tempe yang habis terjual dalam sehari. Ia menjelaskan biasanya habis 20 batang panjang tempe plastikan. Jika dipotong, per batangnya bisa jadi hampir 50 potong tempe goreng.

“Pokoknya kalau omzet itu sehari ya rata-rata dua Mas. Dua juta. Kalau margin keuntungan, ya setengahnya, bisa kurang sedikit,” kata dia.

Keuntungan itu rata-rata di hari biasa. Jika sebulan saja, ia berjualan 25 hari, maka omzetnya bisa Rp50 juta. Tentu, dengan asumsi tidak ada penurunan penjualan drastis.

Selain itu, Didin biasanya meraup omzet lebih besar saat Ramadan. Katanya, bisa dua kali lipat penjualan dari bulan-bulan lainnya.

Tidak mengerankan memang, Survei Populix terhadap responden berusia 18-55 tahun di Indonesia pada 2022 silam, menunjukkan menu berbuka andalan masyarakat adalah gorengan. Kolak lalu nasi dan lauk pauk menyusul di peringkat kedua dan ketiga.

“Jualan gorengan kelihatan sederhana, tapi kalau ditekuni ya lumayan. Gorengan ibarat makanan pokok ya di Indonesia, tiap pagi orang butuh buat sarapan,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski hasilnya lumayan, Didin mengaku tidak ingin menetap di Jogja. Ia memilih pulang ke Majalengka setiap dua bulan sekali. Sementara di Jogja, ia tinggal di kontrakan bersama keluarganya.

Orang Indonesia benar-benar gandrung sama gorengan

Kegemaran masyarakat Indonesia terhadap gorengan memang membawa keuntungan tersendiri bagi pengusaha seperti Didin. Kegemaran ini memang terbentuk sudah cukup lama, latarbelakangnya pun cukup kompleks. Kebiasaan ini turut disokong faktor industri.

Melansir Historia, Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Jaringan Asia menjelaskan teknik menggoreng dikenal masyarakat berkat adopsi dari orang Tionghoa. Bahkan, sampai jenis kuali dan penggorengan, awalnya berasal dari para pendatang dari Tiongkok.

Gorengan, kemudian semakin berkembang seiring kemunculan minyak kelapa. Melansir CNBC, titik awal perkembangan industri minyak adalah pada 1996 saat muncul izin merintis industri kelapa sawit bagi perusahaan swasta.

Pada 1968, pengusaha Eka Tjipta Widjaja kemudian memunculkan produk minyak goreng yang populer hingga saat ini yakni Bimoli. Sejumlah pemain besar kemudian muncul. Kelapa sawit berkembang jadi komoditas yang menjanjikan di Indonesia, baik untuk kebutuhan nasional maupun ekspor.

Pedagang seperti Didin inilah, yang kemudian merasakan manisnya, pundi-pundi rupiah dari dunia goreng-menggoreng. Sebab, bagi sebagian masyarakat, rasanya tak lengkap jika dalam sajian makanannya sehari-hari tak terdapat satu jenis gorengan di piring.

Penulis: Hammam Izzuddin

Iklan

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kisah Kerupuk Kaleng Sunda Menguasai Lidah Orang Jogja Sejak 1930-an 

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2024 oleh

Tags: gorenganjawa baratJogjajualan gorenganmajalengka
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.