Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Orang Jogja Jangan Sambat Soal Cuaca Panas di Hadapan Orang Surabaya, Bisa Debat Panjang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Oktober 2024
A A
Panas di Jogja Tak Seberapa ketimbang Panas di Surabaya yang Bikin Pingsan hingga Kebakaran MOJOK.CO

Ilustrasi - Panas di Jogja tidak seberapa ketimbang panas di Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika orang-orang Jogja sambat cuaca panas dalam dua bulan terakhir, orang-orang Surabaya justru terheran-heran. Pasalnya, bagi orang Surabaya, panasnya Jogja tidak seberapa ketimbang di Kota Pahlawan yang sampai bikin nyaris pingsan hingga kebakaran.

***

Baru pukul 07.00 WIB, kondisi di dalam kamar Hamim di Surabaya sudah sangat gerah. Padahal kipas masih menyala sejak semalam. Hamim pun tidur dalam kondisi telanjang dada. Dia bangun dalam kondisi tubuh agak lengket karena keringat.

Namun, bagi Hamim yang sudah tinggal di Surabaya sejak 2017, kondisi seperti itu sebenarnya biasa saja. Yang tidak biasa adalah kondisi di luar: jalanan. Sangat tidak masuk akal. Seperti simulasi di Padang Mahsyar kalau kata Hamim.

Di hari-hari biasa, sekalipun musim hujan, panas di Surabaya memang sudah sangat menyengat. Jadi bayangkan saja kalau di puncak musim kemarau seperti saat ini. Tentu akan lebih menyengat.

“Sudah mandi, terus baru keluar dari kos menuju kampus, beberapa meter saja sudah merembes keringat,” curhat Hamim, Sabtu, (12/10/2024). Hari ketika dia sedang berlibur ke Jogja.

Panas Surabaya bikin nyaris pingsan

Seperti biasa, setiap Kamis Hamim akan pergi ke kampus. Dia adalah mahasiswa S2 di salah satu kampus negeri di Surabaya Selatan. Dia berangkat pukul 12.00 WIB karena jam perkuliahannya akan dimulai pada pukul 13.00 WIB.

Sepanjang jalan dari kos-kosannya, dia berkali-kali bergumam “edan”. Sebab, panas Surabaya benar-benar terasa sakit sekali di kulit.

Lebih-lebih tidak ada pepohonan yang bisa menjadi peneduh jalan. Semilir angin pun tidak terasa. Maka, ketika memasuki Jalan Ahmad Yani, sebelum tiba di kampusnya, wajah Hamim memucat. Setidaknya begitulah yang terlihat dari kaca sepion.

“Mataku tiba-tiba berkunang-kunang. Badanku langsung lemes. Tenggorokan kering. Gila pokoknya,” ujar Hamim.

“Hari-hari, panasnya di bisa menyentuh 35 derajat (celcius),” sambungnya.

Nyaris saja Hamim pingsan. Beruntung dia masih bisa bertahan hingga tiba di kampus. Dia langsung menuju masjid: mengguyur kepalanya dengan air, lalu merebahkan badan sejenak di lantai halaman masjid yang sedikit sejuk.

Perihal betapa panasnya Surabaya, banyak konten di media sosial yang menjadikannya sebagai meme. Misalnya, menggambarkan matahari persis di bawah kepala para pengendara motor dan lain-lain.

Walaupun tanpa meme pun, dari video sudah terlihat, saking panasnya suasana Surabaya di siang hari terlihat sangat terang-benerang. Kebayang betapa menyengatnya.

Iklan

Panas Surabaya timbulkan ratusan kebakaran

Kondisi Surabaya yang begitu panas diamini menjadi salah satu pemicu kebakaran di Surabaya.

Selama periode Januari-16 Oktober 2024, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya telah menangani 321 kasus kebakaran di Kota Pahlawan.

Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani mengatakan, setidaknya ada dua penyebab terjadinya kebakaran di Kota Pahlawan, yakni puncak musim kemarau periode September-Oktober 2024 dan korsleting listrik.

“Di area alang-alang banyak terjadi seperti itu, mungkin karena musim kemarau dan panas yang luar biasa, suhunya tinggi, anginnya kencang, ditambah masyarakat membakar sampah, akhirnya tersambarlah semuanya,” kata Laksita dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/10/2024).

Maka dari itu, Laksita mengimbau para lurah dan camat di Surabaya agar lebih mengawasi lahan kosong yang ada di wilayahnya. Sehingga, warga tidak asal membakar sampah.

“Khususnya saat musim kemarau saat ini, karena memang faktor terjadinya kebakaran bisa saja dari kelalaian manusia atau suhu alam,” terang Laksita.

Panas di Jogja nggak ada-apanya

Sejak Jumat (11/10/2024), Hamim berangkat ke Jogja. Dia memang sudah membuat janji dengan seorang temannya yang saat ini melanjutkan S2 di Jogja.

“Akhirnya merasakan suhu bumi yang normal,” celetuk Hamim saat sedang ngumpul-ngumpul bersama temannya sekaligus teman dari temannya di sebuah kafe di Sleman.

Sontak saja, kebanyakan mereka yang tidak pernah merasakan tinggal di Surabaya membantah celetukan Hamim. Bagi mereka, panas Jogja—seperti yang sekarang dirasakan—sebenarnya sudah tidak normal.

Hamim lalu melihat acuan suhu di ponselnya. Panas di Jogja menunjukkan angka 30 derajat celcius. “Nggak seberapa ini,” gumamnya.

Belum lagi, bedanya Jogja dengan Surabaya, di Jogja masih ada banyak area rindang. Sementara di Surabaya, kulit langsung terpapar sinar matahari dengan suhu mencapai 35 derajat celcius.

“Kalian salah kalau sambat soal panas ke kami. Kami ini sudah bertahun-tahun tersengat panasnya Surabaya. Jadi panas di Jogja ini sih nggak ngefek ke kami,” ujar teman Hamim memberi pembelaan pada Hamim.

“Jogja yang begini aja rasanya sudah nggak masuk akal panasnya, sepertinya kami nggak akan cocok tinggal di Jogja, langsung meninggoy,” celetuk satu dari mereka yang nongkrong siang itu. Mereka pun akhirnya meminta Hamim lebih banyak bercerita.

Hamim dengan senang hati berbagi cerita. Misalnya tentang kipas angin di kamar kosnya yang 24 jam berputar non stop. Sebab, sekalipun sudah dipencet angka 3, tapi anginnya alih-alih menyejukkan, justru terasa sebagai angin panas. Edan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Coffee Shop Jogja Bikin Tekor karena Mahal-Mahal, Di Surabaya Nggak Sampai Rp20.000 Udah Ngopi Enak

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2024 oleh

Tags: Jogjapanas di jogjapanas di surabayasuhu jogjasuhu surabayaSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO
Esai

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.