Boni adalah satu dari pejuang pundi-pundi rupiah yang saya temui di Taman Pandanaran. Taman yang punya patung ikonik bernama “Warak Ngendog” itu menjadi saksi keringat warga Kota Semarang menjalani hidup dengan rukun.
Sebagai informasi Patung Warak Ngendog adalah makhluk rekaan yang menggambarkan naga, unta, dan kambing. Hewan-hewan itu juga menjadi simbol keragaman etnis dan budaya di Semarang, di mana ada tiga etnis di Semarang yang hidup guyub hingga sekarang yakni Tionghoa, Jawa, dan Arab.
Selain patungnya yang ikonik, Taman Pandanaran juga memiliki air mancur yang cocok untuk menghibur Boni dan masyarakat Semarang yang ingin menepi sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan.
Menghabiskan waktu bersama orang terdekat

Tak jauh dari Taman Pandanaran, sebelumnya saya juga mampir ke Taman Indonesia Kaya. Jaraknya sekitar 700 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Suasana Taman Indonesia Kaya lebih rindang dan luas dari Taman Pandanaran.
Selain bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan mencuci mata dengan warna yang hijau-hijau, saya juga bisa melihat aktivitas warga Semarang yang dipenuhi dengan keceriaan.
Misalnya, seorang ibu yang sedang asyik memotret anak laki-lakinya dengan latar belakang tumbuhan hias, sekelompok remaja yang asyik mengikuti tren TikTok sambil memakai jas almamater kampus mereka, atau anak-anak yang sedang berlarian di atas panggung outdoor.
Tak jauh dari anak-anak yang berlarian tersebut, dua perempuan orang dewasa menatapnya dengan gembira sekaligus khawatir jika mereka jatuh lalu menangis.
“Hati-hati ya, Dek,” ujar salah satu dari mereka yang rambutnya sudah beruban.
Namanya Santi (59). Ia sedang menunggu dua orang cucunya yang masih balita. Ia ingin membiarkan cucu-cucunya itu bermain dengan leluasa.
“Senang aja lihat mereka bisa lari-lari sambil ketawa, kalau di rumah, kan tempatnya sempit. Takut ganggu tetangga juga,” kata Santi.
“Saya sama anak saya juga lebih suka di tempat alam seperti ini daripada nungguin mereka di mall, lebih hijau. Di sini juga gratis nggak perlu bayar,” lanjutnya.
Tak lama usai saya berbincang singkat dengan Santi, tibalah sekelompok remaja yang mengenakan selendang tari di pinggang. Mereka pun tampak sedang berlatih diiringi dengan musik jawa. Selain dipakai untuk tari, Taman Indonesia Kaya juga sering digunakan untuk pertunjukkan panggung teater atau pementasan seni lainnya.
Taman-taman ciamik di Kota Semarang

Selain Taman Pandanaran dan Taman Indonesia Kaya, masih ada lagi tempat “healing” yang bisa dikunjungi di Kota Semarang. Misalnya, Taman Srigunting yang berada di tengah Kota Lama Semarang. Lalu, Taman Beringin dan Taman Kasmaran.
Sedikit berbeda dengan tiga taman lainnya yang berada di tengah atau pinggir jalan umum, Taman Beringin terletak di tengah permukiman. Tepatnya di Jalan Taman Beringin, pusat Kota Semarang.
Taman tersebut dilengkapi fasilitas bermain anak, kursi taman, track reflection, free wifi, dan pohon yang teduh. Pohon-pohonnya begitu rindang sehingga nikmat sebagai tempat berteduh di siang hari.
Sementara itu, Taman Kasmaran memiliki bangunan dua lantai, di mana bangunan lantai bawah sebagai tempat wisata kuliner. Sementara, lantai atas biasa digunakan untuk spot foto dengan latar belakang Kampung Pelangi.
Kamu juga bisa berkeliling ke beberapa taman selainnya, yakni Taman Tugu Muda yang tak jauh dari Jalan Pandanaran, Lapangan Pancasila yang berada di Jalan Simpang Lima, Taman Singosari, Taman Siranda, hingga Taman Diponegoro.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Taman Prestasi, Pilihan Main Warga Surabaya yang “Berjarak” dari Kemewahan Mal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.















