Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sialnya, Peredaran Narkoba di Surabaya Tetap Berputar dan Saya Adalah Korbannya

Muhammad Ridhoi oleh Muhammad Ridhoi
4 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Surabaya adalah tempat di mana anak muda dan narkoba hidup berdampingan, bahkan sangat dekat. Peredaran narkoba di kota ini seolah tak pernah berhenti. Tengok saja: sejak 2020 lalu, pemberitaan menyangkut narkoba dan Kota Pahlawan itu berseliweran di media.

Mulai dari penggerebekan rumah produksi narkoba di Surabaya Timur, angka kenaikan pengguna narkoba di Surabaya, hingga Jawa Timur yang menjadi urutan kedua pengguna narkoba tertinggi di Indonesia. Paling banyak penggunanya tinggal di Surabaya.

Mojok sendiri berbincang dengan Yoga*, mantan pecandu yang mengaku mengenal dan “menggandrungi narkoba” sejak hidup di Surabaya. Bahkan, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi pemakai barang haram itu: cukup 7 hari tinggal di ibu kota Jawa Timur ini.

Yoga sendiri merupakan pecinta lingkungan. Salah seorang reporter Mojok mengenalnya saat sama-sama mengikuti workshop pengenalan lingkungan di Mojokerto, sekitar Juni 2024 lalu. 

Baru seminggu tinggal di Surabaya, sudah dijerumuskan oleh atasan magang

Yoga pertama kali tinggal di Surabaya pada 2019 lalu untuk kebutuhan magang dari SMK-nya. Sebelum berangkat ke Surabaya, dia menyempatkan diri mengikuti bootcamp tentang lingkungan di Jawa Barat. 

Di sanalah Yoga mulai mengenal miras, narkoba, dan sejenisnya lewat teman-temannya peserta bootcamp. Namun, ia mengaku bahwa saat itu belum tertarik dengan benda haram yang dikonsumsi teman-temannya.

“Waktu itu aku bodo amat, Mas. Nggak mau deket-deket sama hal itu,” ungkap Yoga saat Mojok hubungi Rabu (4/9/2024) malam WIB.

Setelahnya, pada pertengahan 2019, Yoga memutuskan berangkat ke Surabaya. Bersama teman-teman SMK-nya, ia tinggal di sebuah kost daerah Gubeng. 

Meskipun kost di daerah Gubeng tergolong mahal saat itu, ia tak keberatan. Sebab ia merasa mampu karena keluarganya dari kalangan borjuis. Ia pun juga menerima gaji dari pihak magang perbulannya. 

Seminggu tinggal di Surabaya, Yoga mengaku mulai beradaptasi dengan kehidupan di sana. Ia pun mulai sering nongkrong bersama teman-teman dan atasan magangnya. 

“Di sana aku ketemu orang-orang baru, Mas. Nah, di sana ternyata mereka ‘pakai’ juga. Salah satunya atasanku,” ungkapnya. 

Karena sudah merasa dekat, akhirnya Yoga diberi akses untuk menjajal barang haram itu. Awalnya ia diberi ganja. Ia mengaku penasaran tentang efek yang diceritakan oleh teman-teman baru dan atasannya itu.

“Karena saya juga merokok, akhirnya saya cobain, Mas. Sejak itu saya rutin pakai. Tiga hari sekali,” ujar Yoga.

Rutin pesta narkoba saat weekend tiba

Setelah seminggu nyimeng, Yoga mulai tertarik dengan jenis narkoba yang lain. Berangkat dari teman-teman atasannya, ia mulai kenal dengan para pemakai lain di daerah Surabaya Utara. 

Iklan

Rutinitas baru mulai terbentuk kala Yoga jadi sering nongkrong dengan para pemakai itu. Nyaris tiap hari Sabtu dan Minggu, Yoga selalu mengosongkan jadwal untuk party bersama teman-temannya. 

“Jadi biasanya kami urunan buat beli sabu-sabu. Karena aku juga dapat uang saku dari rumah, dapat uang saku dari magang, ditambah penghasilanku usaha di kampung halaman juga, jadi aku merasa nggak keberatan kalau keluar uang ratusan ribu perhari,” beber Yoga. 

Itu jadi kebiasaan baru bagi Yoga. Satu bulan ia menjadi pemakai narkoba, ia jadi sering terlambat ke kantor magangnya. Tapi karena atasannya juga ikut nyemplung, ia tak pernah mendapatkan teguran.

Makin hari, tubuh Yoga makin kurus. Berat badan turun drastis. Dua bulan berjalan, ia makin masif menggunakan narkoba. Ganja hampir tiap hari. Bahkan, ia sudah berani beli sendiri dan memakai di kamar kos. Teman sekosnya mulai curiga. 

“Kalau ditanya teman kosku, aku pasti jawab ‘ini tembakau lintingan’. Tapi kalau ada yang pengen coba, aku selalu nolak,” kelakarnya.

Teman-teman Yoga berusaha “menyelamatkannya”

Usai itu, teman-teman Yoga mulai mencari tahu apa yang Yoga lakukan. Sebab makin hari, Yoga jadi menunjukkan perilaku-perilaku aneh. Sering melamun, badan makin kurus, banyak tidur. Bahkan, saking curiganya, pernah satu momen Yoga dibuntuti saat akan party di daerah Kapasan. 

Kecurigaan mereka bahkan semakin makin kuat ketika Yoga ditemukan tertidur pulas di gang tepat depan kosnya. 

“Sempet itu aku keserempet motor, Mas. Tiba-tiba kesadaranku langsung hilang karena udah nge-fly, nggak kuat. Sadarnya pas dibangunin warga udah subuh, rame banget waktu itu,” kenang Yoga, sambil mengernyitkan dahi berusaha mengingat kejadian itu.

Buntut kejadian itu, ia diinterogasi oleh teman sekosnya. Akhirnya Yoga terpaksa mengakui bahwa selama dua bulan belakangan itu ia kecanduan narkoba. Temannya pikir ia cuma minum-minuman keras. Lebih parah, temannya baru tahu kalau Yoga nyimeng dan nyabu. 

Temannya berusaha melarang Yoga. Jadi, mau tak mau Yoga mulai cut off sirkelnya bersama atasan magangnya itu. Tak mau diajak nongkrong dan party lagi. 

“Tapi bagaimanapun juga aku masih kecanduan waktu itu. Jadi aku tetep pakai waktu di kos sendirian,” jelas Yoga.

Berkali-kali temannya mendapati Yoga tetap memakai narkoba. Bahkan sempat membuang barangnya ke toilet. Tapi karena sudah kewalahan, akhirnya teman-temannya berinisiatif melaporkan Yoga ke BNN. 

Sebulan direhab di Surabaya tanpa sepengetahuan orang tua

Akhirnya tiba di mana Yoga direhab. Waktu itu, ia hanya menjalaninya selama sebulan, tanpa sepengetahuan orang tuanya.

“Cuma kakakku yang tahu, Mas. Aku direhab tapi orangtuaku nggak tahu,” ujarnya.

Sebulan menjalani rehab, akhirnya Yoga bisa menghirup udara segar tanpa dihantui rasa ingin nyimeng dan nyabu.

“Cuma kenal dua barang ini aku jadi punya pengalaman pahit di Surabaya,” imbuhnya.

Atasan magangnya juga berusaha menutupi kasus itu, apalagi dengan pihak sekolah Yoga. Sebab akan jadi masalah besar jika pihak sekolah Yoga tahu jika saat ia magang di Surabaya, tapi malah terjerumus narkoba. 

“Intinya, pengalaman itu jadi pukulan keras buat aku. Emang kalau penasaran dan punya uang pasti mudah banget terjerumus, Mas. Apalagi lingkungan, sejak itu udah aku cut off semua,” pungkasnya.

Dengan bangga, Yoga menceritakan pengalamannya keluar dari belenggu narkoba. Sebab sampai detik ini, ia sudah tak pernah lagi menyentuh barang-barang haram itu lagi. 

Penulis: Muhammad Ridhoi

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA 3 Alasan Surabaya Timur Tak Aman Buat Ngekos, Mahasiswa ITS dan UNAIR Surabaya Dibikin Kapok

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2024 oleh

Tags: GanjaJawa Timurnarkobanarkoba di surabayapecandu narkobapengedar narkobasabu-sabuSurabaya
Muhammad Ridhoi

Muhammad Ridhoi

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO
Urban

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.