Stasiun Rambipuji, Jember, selalu membangkitkan nostalgia bagi dua narasumber Mojok. Bukan hanya nostalgia pernah tinggal lama di kota tersebut. Tapi juga kenangan tentang “pasar prostitusi” di sekitaran situ. Kenangan yang susah dilupakan.
***
Sudah lama Muslih (30-an) meninggalkan Jember setelah beberapa tahun nyantri di sana. Namun, pemuda asal Rembang, Jawa Tengah itu ingat betul apa yang kerap ia saksikan malam-malam di Stasiun Rambipuji.
“Dulu lulus SMP aku memang penginnya mondok di tempat yang nggak banyak orang sininya. Niatnya pengin cari petualangan baru dan orang-orang baru. Jadi pengin beda. Mondoklah aku ke Jember,” ujarnya bercerita pada suatu malam di pertengahan Desember 2025.
Stasiun Rambipuji Jember, selalu disebut dengan cengiran dan kedipan
Pertama kali di Jember, lambat laun Muslih mulai sering mendengar tentang Stasiun Rambipuji. “Ayo ngopi/ayo main ke Rambipuji,” begitu teman-temannya selalu melempar usulan tiap ada waktu senggang di pesantren.
Saat itu Muslih mengira kalau di kawasan Stasiun Rambipuji memang ada spot ngopi asyik untuk menepi dari aktivitas ngaji. Akan tetapi, lama-lama ia curiga. Sebab, tiap kali nama itu disebut, pasti diiringi dengan cengiran dan kedipan mata genit.
Apalagi ketika beberapa teman menyebut sejumlah uang. “Rp25 ribu, Rp30 ribu, sudah bisa.” Kalau untuk ngopi, di zaman segitu (antara 2006/2007), kok mahal betul harga kopinya, pikir Muslih.
Tapi Stasiun Rambipuji ternyata bukan tentang ngopi. Pada suatu malam di musim libur pesantren, barulah Muslih tahu apa yang ditawarkan kawasan stasiun itu sehingga selalu jadi obrolan di kalangan teman-teman kamarnya.
Perempuan di bawah remang malam
Saat musim liburan tiba, pada suatu ketika, Muslih tak langsung pulang ke Rembang. Ia memutuskan mengikuti beberapa temannya demi mengobati rasa penasaran tentang Stasiun Rambipuji, pada suatu malam menjelang larut.
Ternyata, tempat ngopi/tempat main asyik yang dimaksud bukanlah warung kopi atau sebuh sudut yang bisa digunakan untuk bersantai. Tapi tepian rel dengan bedeng-bedeng remang.
Saat menyisir rel tersebut, beberapa perempuan usia 30-40-an tahun melambai menawarkan jasa. Mereka berpakaian ketat dan berdandan menor (gincu merah merona, bedak putih melaburi wajah).
Beberapa laki-laki tampak keluar dari bedeng. Diiringi dengan seorang perempuan yang melepas kepergian sembari meminta agar si laki-laki datang kembali. “Besok datang lagi ya, Mas.” Muslih menelan ludah. Baru ia tahu kalau kawasan tersebut adalah tempat prostitusi jalanan.
Tergiur harga murah “kenikmatan” di Stasiun Rambipuji Jember
“Rp30 ribu, Dek, sekali main,” tawar seorang perempuan di bawah lampu remang. Seperti tidak peduli kalau yang ia tawari adalah kumpulan remaja, bersarung pula.
“Rp20 ribu gimana?” Seorang teman Muslih ganti menawar.
“Jangan lah, Dek. Rp25 ribu main.”
“Oke, Rp25 ribu.”
Teman Muslih itu lalu nyengir ke arah Muslih, sembari memberi isyarat agar tidak bilang siapa-siapa. Sementara Muslih hanya termangu. Meski penasaran untuk merasakan “kenikmatan”, tapi ia memilih patuh pada larangan agama yang ia pelajari dari mengaji.
Sejak hari itu, teman Muslih malah ketagihan dan mengajak beberapa temannya yang lain. Kalau ada kesempatan, pasti akan datang ke “pasar prostitusi” tersebut. Sementara Muslih memilih menolak ajakan. Takut.
“Aku masih ada nomor (ponsel) temanku itu. Kalau kuingatkan perjakanya dilepas di Stasiun Rambipuji, dia malu-malu sendiri,” kata Muslih dengan tawa. Sementara Muslih memamerkan pencapaiannya menjaga keperjakaannya hingga menikah pada 2019 silam.
Yang penting dapat uang, yang penting terpuaskan
Kawasan prostitusi itu sebenarnya sudah ditutup pada 2007-an. Namun, masih ada PSK-PSK yang diam-diam menawarkan jasa mereka.
Bedanya, mereka tidak lagi melayani di balik bedeng-bedeng remang. Tapi sembarang tempat. Bisa semak-semak, bisa pinggir sungai, pokoknya asal gelap.
Bagi mereka, melayani di tempat terbuka tak masalah, yang penting bisa dapat lembar-lembar rupiah. Sementara bagi pelanggan, tak masalah main di semak-semak atau pinggir sungai, yang penting hasrat syahwat terpuaskan.
Itu juga yang diakui oleh Kojek (27). Sebagai warga asli Jember daya tarik Stasiun Rambipuji tentu saja terdengar di telinganya.
Ia ingat, waktu itu tahun 2015, Kojek masih duduk di bangku SMA. Dalam masa pencarian jati diri dan menikmati kenakalan, ia dan beberapa teman ingin menjajal kenikmatan orang dewasa lebih cepat: Tak perlu lama-lama menunggu masa nikah.
Melepas perjaka di semak-semak berbatu
“Tahun segitu aku masih dapat harga Rp30 ribu. Nggak kutawar. Langsung diajak ke semak-semak, agak berbatu, banyak nyamuk,” tutur Kojek malu-malu.
Saat itu Kojek tak peduli walaupun tubuh setengah telanjangnya dikerubuti nyamuk. Ia pun tak terpikir kalau-kalau ada ular melintas dan mencaplok kemaluannya. Ia hanyut dalam kenikmatan. Walaupun setelahnya ia merasa tubuhnya gatal-gatal karena bergesekan dengan semak-semak.
Hanya sekali itu Kojek mencari kenikmatan di Stasiun Rambipuji, Jember. Tapi tiap kali melintasinya, hingga kini, adegan tahun 2015 itu selalu terpampang dalam ingatannya. Lucu, aneh, dan geli.
“Malu itu kalau nongkrong, lalu teman lama yang tahu kejadian itu melempar candaan kalau perjakaku kulepas di dalam semak-semak berbatu,” tutup Kojek.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kepuasan di Gang Dolly Surabaya yang Tak Ditemukan di Sarkem Jogja, Kenangan Lepas Perjaka hingga Tawaran Bercinta dengan Bule atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














