Jangan Buka Puasa di Blok M kalau Tidak Mau Lanjut Puasa tanpa Sempat Makan

Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan

Ilustrasi - Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Kalau belum tiba saatnya malaikat Israfil meniupkan sangkakala, Blok M tidak akan ada matinya. Mau di bulan Ramadan sekalipun, Blok M justru menjadi destinasi paling menarik untuk berbuka puasa. Namun, kalau masih mau hidup lebih lama, alangkah baiknya tidak mencobanya.

Blok M yang serbaada untuk buka puasa

Keunggulan Blok M yang membuatnya akan selalu berjaya adalah segala hal yang bisa dipastikan ada. Mulai dari makanan, minuman, sampai hiburan. 

Bagi sebagian orang, tidak mudah untuk menemukan lokasi buka puasa yang serbaada semacam ini. Pasalnya, setelah berbuka, tidak jarang ada agenda lain yang ingin dilakukan. 

Blok M memungkinkan untuk mewujudkan keinginan-keinginan itu dalam satu tempat.

Alya (24) yang merupakan pekerja kantoran di Jakarta bilang, Blok M punya segalanya. Mustahil tidak menemukan apa pun yang diinginkan di tempat yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini.

“Blok M banyak pilihan. Mau apa aja ada,” kata Alya kepada saya, Senin (16/2/2026).

Sebagai seorang pecinta makanan manis, Alya senang karena Blok M punya berbagai outlet makanan manis yang bisa memuaskan indera perasanya. Selain itu, ia juga bisa menjejali makanan berat di satu lokasi dengan harga yang terbilang murah.

“Asin, manis, mahal, murah, sampai omakase, semua ada,” tambahnya.

Alasan yang diutarakan Alya sesuai dengan faktor pertimbangan orang-orang dalam memilih tempat berbuka puasa. Sebuah survei yang dilakukan Populix pada 2024 mencatat 72 persen orang memilih tempat berbuka berdasarkan menu dan rasa, lalu 61 persennya menyebut mempertimbangkan harga.

Lokasi strategis, tapi antreannya sering bengis

Namun di luar pertimbangan ini, Alya bercerita pernah menghabiskan waktu sembilan jam menunggu untuk dapat makan di salah satu restoran Jepang yang viral di Blok M.

Awal Januari 2026 lalu, Alya memulai tahunnya dengan pergi ke Blok M bersama teman-teman. Saat itu, sedang ramai restoran Jepang yang membuat ia tergiur mencoba.

Seperti biasa, Alya sering pergi ke Blok M menjelang siang. Karena lokasi yang strategis dengan transportasi umum yang terintegrasi juga, Alya dapat bertemu dengan teman-temannya langsung di lokasi. 

Siang itu, teman Alya lebih dulu tiba pada pukul 10.30 WIB, tetapi lupa langsung mengambil antrean. Alhasil, mereka baru mengambil nomor pada pukul 12.00 tepat. Hasilnya juga, Alya mendapatkan nomor 137 dan harus menunggu 96 orang untuk makan terlebih dahulu.

“Jam 9 [malam] kita baru makan,” katanya.

Pengalaman menunggu mulai dari pukul 12.00 sampai pukul 21.00 ini membuat Alya menilai lokasinya tidak strategis sebagai tempat bukber (buka bareng). Membayangkan harus mengantre lagi berjam-jam untuk makan dengan durasi yang dibatasi, bisa dibilang antrean yang ada justru kebalikan dari lokasinya yang strategis: bengis.

Terlebih, membayangkan hal ini terjadi di bulan Ramadan setelah melalui hari yang panjang tanpa makan dan minum, pasti melelahkan. Juga, mengambil nomor antrean sepulang bekerja pada pukul 17.00 WIB bisa jadi membuat agenda bukber baru terealisasi pada pukul 02.00 dini hari.

Kalau begitu, bukannya berbuka, makanan yang dihidangkan justru akan menjadi santap sahur.

Bukber memungkinkan kalau ingin kelaparan sampai puasa lagi

Belajar dari pengalaman, Alya tidak menyarankan untuk bukber di Blok M. Menurutnya, Blok M adalah lokasi paling strategis untuk bertemu teman atau bermain di akhir pekan, tetapi tidak untuk berbuka puasa.

Melihat tempat makan yang dipadati pada hari-hari biasa, Alya bisa menebak semua tempat akan penuh dan tidak menyisakan meja untuk berbuka.

“Semua tempat akan waiting list,” katanya seperti peramal.

Lulusan administrasi bisnis ini bukan sembarang bicara. Dilansir dari Antara, penjualan rumah makan dapat meningkat selama bulan Ramadan, khususnya pada malam hari saat berbuka.

Berkaca dari meningkatnya omzet rumah makan di Jakarta Selatan hingga 60 persen itu, kemungkinan rumah makan di Blok M yang lebih ramai dan banyak pengunjung akan melonjak drastis. Artinya, pengunjung juga akan semakin tidak terbendung.

Buka puasa di Blok M hanya untuk mereka yang beriman

Namun demikian, Alya tidak mengatakan buka puasa di Blok M adalah terlarang. Boleh-boleh saja kalau ingin bukber di sana, tapi ia tidak menyarankan untuk langsung pergi begitu saja atau menerapkan walk-in.

Setidaknya, bagi mereka yang ingin tetap kalcer dengan merencanakan berbuka di Blok M harus membuat rencana lengkap berisi makanan yang ingin disantap, tempat berbuka puasa yang ingin dituju, dan telah memastikan reservasi jauh-jauh hari.

“Kalau belum tahu mau makan apa, belum reservasi, itu nggak patut sama sekali,” katanya.

Mengingat dirinya sendiri pernah harus menunggu hari berganti dari siang ke malam, Alya bilang, datang tanpa rencana untuk bukber di bulan Ramadan ini bisa menjadi petaka.

Bukan tidak mungkin, dengan antrean yang panjang, mereka harus berkorban untuk melewatkan tarawih. Bahkan, santap sahur. Risiko paling ekstremnya adalah melewatkan berbuka untuk langsung berpuasa lagi.

“Risikonya bisa keburu sahur, ke-skip tarawih,” kata Alya.

Maka dari itu, sebagai seseorang yang berpengalaman dalam menjajaki Blok M, Alya sendiri mengatakan hanya orang-orang yakin dan beriman yang dapat melakukannya saat Ramadan. Jika harus menempatkan dirinya sendiri, Alya akan memilih tidak menembus kemacetan dari Senayan ke Blok M hanya untuk menemui dirinya terjebak dalam antrean panjang untuk buka puasa.

“[Buka di Blok M] bisa untuk orang-orang yang sangat yakin, yang mau effort nunggu dari siang atau sore,” katanya.

“Aku sih nggak,” kata dia menambahkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Blok M Nggak Aman, tapi Tetap Jadi Tujuan karena Lebih Takut Nggak Dianggap Keren ketimbang Jadi Korban Kejahatan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version