Curhat Guru Honorer di Kalimantan Timur yang Nggak Mau Jadi PNS karena Banyak Aturan

Curhat Guru Honorer di Kalimantan Timur yang Nggak Mau Jadi PNS karena Banyak Aturan MOJOK.CO

Ilustrasi Curhat Guru Honorer di Kalimantan Timur yang Nggak Mau Jadi PNS karena Banyak Aturan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Di saat orang-orang ingin diangkat jadi guru P3K atau PNS, seorang guru di Kalimantan Timur ini pilih tetap jadi guru honorer. Alasannya simpel, nggak ingin banyak beban kerja dan aturan.

***

Namanya minta disamarkan jadi Disa (30) seorang guru honorer di sebuah kabupaten di provinsi paling kaya di Indonesia, Kalimantan Timur. Ia menghubungi Mojok untuk menyampaikan keluh kesahnya yang tak biasa. 

“Saya adalah salah satu honorer yang tidak memimpikan menjadi ASN atau PNS,” katanya mantap saat menghubungi Mojok, Kamis (25/1/2024).

Bedanya ASN dan PNS adalah ASN mencakup semua pegawai yang bekerja di lembaga pemerintahan. Sedangkan PNS adalah mereka yang diangkat secara resmi untuk bekerja di kantor pemerintahan. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) termasuk bagian dari ASN.

Dapat uang pensiun dan pendapatan stabil tak membuat ingin jadi ASN/PNS

Disa yang jadi guru di SMK menyatakan, tidak hanya satu atau puluhan orang, terutama senior-seniornya yang sudah jadi ASN atau PNS yang menanyakan dia kapan untuk maju menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) atau menjadi PNS. Namun, dengan mantap ia mengatakan, tidak berminat menjadi ASN. 

“Biasanya setelah itu saya dapat wejangan panjang lebar,” kata Disa. 

Menurut Disa ada beberapa faktor yang membuat ia tidak ingin menjadi ASN atau PNS. “Pilihan tidak menjadi ASN murni karena saya memiliki tujuan hidup lain. Simpelnya adalah, saya nggak mau kerja kantoran, penuh peraturan sampe pensiun,” kata Disa. 

Disa juga tidak peduli ketika orang menilai bahwa jadi ASN atau PNS itu punya kehidupang yang stabil dari sisi gaji. 

Menurut Disa, meski menjadi ASN menjanjikan uang pensiun dan gaji stabil, tetap saja tujuannya hidup bukan melulu pada upah. Tapi kebahagiaan bekerja. “Sepertinya sudah bakal tidak bahagia untuk saya bekerja dengan profesi ini. Semakin saya masuk ke dalam sistem, semakin saya ingin keluar,” ujarnya.

Gelisah karena melihat ASN senior memanfaatkan guru honorer

Disa lantas bercerita bagaimana ia merasa gelisah selama bekerja di lingkungan satuan pendidikan sebagai guru honorer. Semuanya berawal dari adalah kesenjangan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) guru ASN dan non-ASN. 

“Adalam peraturan, honorer hanya sebagai pembantu ASN yang berhalangan, tidak pula terikat dengan kode etik guru. Tugas tambahan seperti wali kelas, pembina eskul ada pada tugas ASN, bahkan guru piket pun tidak menjadi tugas honorer,” kata Disa.

Disa menilai, jadi ASN itu membuat orang arogan. Misalnya saja, karena merasa jadi ASN sehingga seenaknya menolak tugas yang seharunya jadi tanggungjawabnya. “Di sekolah saya ada ASN yang menolak menjadi wali kelas, atau jadi guru piket. Padahal itu beban pekerjaan mereka, bukan pekerjaan honorer seperti kami,” kata Disa. 

Ia melihat ASN senior yang merasa  sudah sepuh selalu melempar tugas yang nggak ada duitnya ke guru honorer. “Dalihnya yang muda yang maju, kita-kita ini udah tuek udah capek,” kata Disa menirukan guru ASN senior di tempatnya bekerja. 

Kadang saking capeknya, ingin sekali ia menimpali omongan itu, “sudah bau tanah juga ya, bu.” Namun, tentu saja ungkapan itu tidak ia sampaikan, hanya dalam hati saja.

“Kalimat “yang muda yang maju” sudah mengalami perubahan makna di telinga pagawai non-ASN, terutama yang muda. Tidak lagi kami melihat ini sebagai kalimat positif,” kata Disa.

Menurut Disa, ia dan teman-temannya kadang memilih jalan untuk tidak menunjukkan kemampuan dalam berinovasi atau improvisasi. Tujuannya agar tidak mendapat limpahan tugas yang seharusnya jadi tugas guru ASN. 

“Bukan membatasi, tapi lebih ke menyelamatkan diri agar tidak memulu ditunjuk meng-handle pekerjaan yang bikin capek diri,” kata Disa.

Baca halaman selanjutnya

Gaji jadi honorer di Kalimantan Timur tinggi

Gaji jadi guru honorer di Kaltim tinggi

Disa menceritakan latar belakang dirinya. Ia aslinya merupakan sarjana ilmu politik. Bukan lulusan dari perguruan tinggi ilmu keguruan. Ia menjadi guru karena pada saat itu, sekolah dalam kondisi mendesak membutuhkan guru. 

“Jadi kepala sekolah saat itu jadi guru, dan ada mata pelajaran yang memang gurunya tidak harus linier dengan jurusan yang ia ambil,” kata Disa.

Ini juga yang menjadi persoalan jika Disa ingin menjadi ASN P3K yaitu ijazahnya harus linier dengan mata pelajaran yang diampu. Bisa sebenarnya ia menjadi ASN P3K yaitu kuliah ulang untuk mendapatkan ijazah. Atau alternatif lainnya, ia tidak mengajar mata pelajaran yang ia ampu sekarang, tapi membajar sejarah atau ilmu-ilmu sosial lainnya. 

“Namun, karena memang tidak berniat jadi ASN ya saya bertahan saja dengan posisi yang sekarang ini,” kata Disa.

Menurut Disa, gajinya sebagai guru honorer di Kalimatan Timur cukup tinggi dibandingkan di wilayah lain di Indonesia. Rata-rata untuk guru honorer di Kaltim bisa dapat Rp2,5 juta per bulan. Khusus di sekolah Disa, per bulan ia mendapat Rp3 juta, tapi gaji ini dibayarkan setiap tiga bulan sekali atau dirapel.

Menurut Disa, ada dua jenis guru honorer di sekolahnya. Yang pertama, guru honorer yang gajinya dari provinsi. Sedangkan satu lagi, guru honorer yang gajinya  menjadi tanggungan Dinas Pendidikan Provinsi. Ia merupakan guru honorer yang menjadi tanggungan dinas pendidikan. 

“Kalau guru honorer yang jadi tanggungan pemerintah provinsi di sekolah saya tidak ada. Sekarang mereka sudah jadi P3K,” kata Disa.

Pilih buka usaha kecil-kecilan dan jadi freelance

Gaji honorer yang Disa terima tergolong bersar dibandingkan gaji honorer di daerah lain yang berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta di wilayah kota besar, dan di daerah sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Bahkan bisa kurang dari angka tersebut.

“Kalau besaran gaji, baik itu yang pemda atau dinas yang menentukan kepala sekolah. Jadi setiap tahun kepela sekolah akan mengajukan besaran gaji atau dana untuk para honorer, itu mengapa gaji saja berbeda dengan sekolah-sekolah lain,” kata Disa.

Disa masih memikirkan opsi untuk resign di kemudian hari. Gaji tiga juta untuk dirinya yang masih sendiri sebenarnya cukup. Tapi untuk orang yang sudah berkeluarga tentu saja tidak akan cukup. “Upah minimum kabupaten di tempat saya Rp3,5 juta,” kata Disa.

Sampai memiliki ketetapan hati untuk keluar, ia membuka usaha kecil-kecilan dan mengerjakan beberapa pekerjaan sebagai freelance. “Freelance kadang kalau dihitung jam kerjanya melebihi jam kantor biasa, tapi bagi saya itu lebih nyaman daripada jadi ASN,” ujarnya. 

Pelamar P3K untuk formasi guru di Kaltim Rendah

Mengutip Antara, jumlah pelamar ASN untuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk formasi guru ternyata minim peminat . Saat penutupan pendaftaran pada 11 Oktober 2023, dari 2.493 formasi, yang melamar atau mendaftar hanya 1.512 pelamar. 

“Ini menimbulkan pertanyaan, mengapa jumlah tenaga guru honorer di Kaltim tidak memaksimalkan dengan mengikuti perekrutan PPPK ini,” kata Reza Febriyanto Analis Kepegawaian Ahli Muda Bidang Pengadaan Pemberhentian, dan Informasi (PPI) ASN BKD Kaltim.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Guru Les Lebih Menjanjikan Ketimbang Jadi Guru Honorer

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version