Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

PPG Jadi Syarat Wajib Guru Daftar CPNS: Alih-alih Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Malah Menyulitkan Guru Meraih Kesejahteraan

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
3 April 2024
A A
PPG Jadi Syarat Wajib Guru Daftar CPNS: Alih-alih Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Malah Menyulitkan Guru Meraih Kesejahteraan

PPG Jadi Syarat Wajib Guru Daftar CPNS: Alih-alih Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Malah Menyulitkan Guru Meraih Kesejahteraan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pedagogi adalah kunci

“PPG dan S1 menurutku tetep beda sih, Mas.”

“S1 itu lebih banyak materi jurusan. Sedangkan pedagoginya nggak banyak. Kalau di PPG jelas fokus di pedagogi. Sinau ngajare luwih okeh lah. Kalau disamain, jelas nggak bisa dibilang sama.”

“Pun aku pernah dengar, agar guru sama dengan profesi yangg lainnya makanya dibuat profesi. Misal koyo perawat po dokter do jupuk profesi. Dosen pun seperti itu. Lalu, mereka punya sertifikat.”

Saya tak bisa mengelak tentang hal ini. sertifikat adalah kunci di masa kini. Bootcamp dan kelas-kelas bertumbuhan karena sertifikat pengakuan kemampuan ini benar-benar memudahkan orang cari kerja. Sebelum winter tech terjadi, semua orang berlomba-lomba menjadi QA, data analyst, dan programmer. Winter tech pun tak menyurutkan “penyembahan” pada sertifikat.

Hanya saja, jika sertifikasi dianggap kunci, lalu bagaimana nasib orang-orang yang kuliah S1 pendidikan, tapi tak punya kesempatan untuk PPG? Apakah ilmu yang mereka dapat, tak bisa dianggap cukup untuk modal mengajar?

Kuatkan dasarnya, bukan memberi tambahan

“Saya jawab nanti ya, Mas, setelah kuliah.”

Mbak Yusri meminta saya untuk menunggu dia selesai kuliah untuk menjawab pertanyaan saya. Dan sama seperti Arif, saya memilih untuk melakukan hal lain sembari menunggu. Beberapa jam kemudian, ponsel saya bergetar. Dari layar, terlihat bahwa Mbak Yusri sudah menjawab.

Pertanyaan saya ke Arif dan Mbak Yusri ini sama. Untuk perkara PPG sebagai syarat jadi ASN, keduanya punya pendapat yang terlihat sama. Tapi, Mbak Yusri langsung menyasar ke hal lain yang menurut saya esensial, yaitu basic alias S1-nya.

“Justru ini yang juga saya tanyakan kepada para pengambil kebijakan. Pada intinya kan ingin meningkatkan kualitas pembelajaran dengan meningkatkan kualitas guru, kenapa harus dengan PPG? Memangnya lulusan S1 pendidikan yang memang mencetak calon guru belum cukup berkualitas? Apa yang salah?”

“Saya sama sekali tidak mempermasalahkan jika PPG ditujukan untuk orang-orang dari nonpendidikan yang ingin jadi guru. Tapi jika semua disamaratakan, seolah tidak ada gunanya belajar ilmu pedagogi di S1 pendidikan. Kalo gitu, berarti mending S1 murni, jelas-jelas lebih mendalami materi.”

Ketika isu PPG pertama kali bergulir, kalau tak salah 2014, saya ingat betul resistensi mahasiswa pendidikan begitu besar. Amat besar, malah. Seingat saya, ada dialog antara petinggi kampus dengan mahasiswa-mahasiswa pendidikan yang resah dengan hal ini. suara mereka sama: kuliah pendidikan tapi nggak dianggap bisa ngajar, bagaimana bisa? Lalu untuk apa praktik mengajar, kuliah microteaching, serta magang mengajar di luar kampus?

Terlebih ketika jurusan murni punya kans yang sama untuk jadi guru. Tentu saja bagi mereka aneh. Sebagai mahasiswa jurusan murni, saat itu pun juga merasa aneh. Kalau mau jadi guru, ngapain sejak awal ngambil jurusan murni?

Memangnya PPG menjamin?

Jika memang lulusan S1 dianggap kurang mumpuni dalam mengajar, harusnya solusinya bukan bikin PPG. Tapi, perbaiki kualitas jurusan S1-nya. Mbak Yusri menekankan hal ini juga.

“Belum tau (apakah memperbaiki S1 akan lebih baik ketimbang PPG). Tapi memangnya PPG juga menjamin? Jujur, saya tidak yakin.

Iklan

Setidaknya, dengan memperbaiki kualitas S1, tidak ada istilah ‘tidak berguna belajar ini itu’ dan lulusan-lulusannya bisa langsung bekerja dengan baik tanpa banyak ini dan itu.”

Khusus di bidang pendidikan matematika, tidak dapat dimungkiri banyak lulusan yang sudah menjadi guru tapi masih memiliki miskonsepsi tentang materi matematika itu sendiri. Ini berdampak pada ‘kesalahan’ yang jadi turun temurun. Jelas, seharusnya peran S1 pendidikan adalah menjadikan lulusannya setidaknya menguasai materi yang akan diajarkan nanti, nyatanya tidak.”

“Ah, intinya, kalo pertanyaannya, apakah kualitas S1 pendidikan harus diperbaiki, saya bisa langsung jawab, IYA, SANGAT HARUS.”

Lalu, perlukah PPG untuk CPNS?

Sebagai penutup, saya kembali ke pertanyaan awal yang jadi dasar kenapa liputan ini muncul: apakah bagi guru yang ingin daftar CPNS, wajib menjalani PPG dulu?

Bagi Arif, dia tetap pada pendapat awal. Semua bisa jadi ASN, semua bisa daftar CPNS, tapi habis itu baru wajib PPG.

“Ra bakal munafik aku mas, karena aku sudah punya serdik, tentu akan milih yang PPG jadi prioritas Jadi PNS, Mas. Tapi, kalau dari segi efektivitas, semua diberi kesempatan yang sama untuk jadi ASN, baru wajib PPG. Jadi nggak ada kesenjangan sosial saat tes ASN.”

Jawaban Mbak Yusri sudah jelas bisa kita tahu. Tapi, dia lebih detil memberi solusi, alih-alih mewajibkan PPG untuk guru.

“Untuk S1 Pendidikan, perbaiki kualitas sejak S1. ASN tidak perlu PPG, bootcamp/pelatihan saja untuk mensosialisasikan kurikulum mah. Untuk non-pendidikan, baru wajib PPG. Kalau udah jadi ASN, kalo masih perlu ada pelatihan, boleh.”

***

Agar guru bisa hidup sejahtera, tak bisa dimungkiri, jadi ASN adalah jawabannya. Tapi, jika aturan baru ini benar-benar berlaku, saya rasa, masalah kesejahteraan tidak akan segera selesai, karena segalanya jadi makin rumit. Untuk daftar CPNS yang belum tentu keterima aja, jadi lebih rumit.

Tapi ya, sejak kapan negara ini tidak bikin segala hal jadi rumit?

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Nasib Sarjana PPG yang Katanya Nggak Pintar-pintar Amat Saat Mengajar

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 April 2024 oleh

Tags: CpnsgurukesejahteraanPendidikanPPG
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO
Kilas

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.