Bagi Nuri (27) konten di media sosial kini kurang menarik. Ia sering kesal saat menjumpai video lucu yang ternyata hasil dari kecerdasan buatan (AI). Selain tidak lucu lagi, ia merasa tertipu karena hampir mempercayainya.
“Enak-enak ketawa, terus pas lihat kolom komentar ternyata hasil AI. Mangkanya aku sering cek dulu. Tapi nggak enak juga kan ingin terhibur harus crosscheck dulu,” kata Nuri, Jumat (2/1/2026).
Nuri tak sendiri. Di beberapa konten video AI, banyak netizen yang juga menyesalkan hal serupa. Alhasil, tak jarang juga ada yang meragukan setiap konten yang mereka lihat. Takut tertipu dengan hasil video AI.
Masalahnya, AI tak hanya dipakai untuk video lucu saja. Saat bencana banjir di Sibolga, Sumatera Utara terjadi misalnya, salah satu oknum memanfaatkan AI agar videonya viral. Video tersebut menunjukkan erupsi gunung di tengah banjir Sibolga.
Menurut Cek fakta Liputan6.com, video erupsi gunung tersebut diragukan kebenarannya. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya mengklaim Gunung Sorik yang diperkirakan tersorot dalam video tersebut tidak dalam kondisi erupsi.
Kejadian-kejadian di atas mungkin terdengar sepele. Namun, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Indonesia atau CISSReC, Pratama Persadha mengingatkan ancaman AI di tahun 2026 akan semakin serius.
Penipuan berbasis AI
Chairman CISSReC, Pratama Persadha menyebut, kini AI bukan hanya sebagai alat bantu tapi mesin penggerak serangan siber modern. Di mana AI akan mengotomatiskan pengintaian, mengembangkan rantai eksploitasi, membuat phising yang meyakinkan dalam skala besar, dan meniru eksekutif dengan suara dan video yang hampir sempurna.
“Rekayasa sosial akan menjadi hampir tidak dapat dibedakan dari komunikasi yang sah,” kata Pratama melalui keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).
Berdasarkan laporan FBI, kelompok kriminal di dunia kini telah menggunakan AI untuk menghasilkan suara deepfake. Hal itu sering dipakai untuk melakukan penipuan dan pemerasan. Apalagi, sejak kuartal ketiga 2024, Indonesia telah menduduki peringkat pertama di dunia sebagai sumber serangan DDoS tertinggi selama satu tahun penuh.
Tak hanya itu, para pelaku ransomware (perangkat lunak berbahaya) juga berkembang lebih cepat berkat adanya AI. Mereka menggunakan AI untuk memindai internet secara terus-menerus, merantai kerentanan, dan melancarkan serangan dengan meminimalisir intervensi manusia.
“Kecepatan terjadinya pelanggaran keamanan akan meningkat secara dramatis. Organisasi dengan program pembaruan keamanan yang lemah, paparan yang tidak terpantau, atau kemampuan respons insiden yang tertinggal akan merasakan konsekuensinya secara langsung,” jelas Pratama.
Data privasi terancam
Selain itu, Pratama juga menyebut jika enkripsi sedang mengalami perubahan dramatis. Ia meluas ke sistem berupa log, identitas mesin, bidang basis data, memori, dan semua repositori cadangan. Dengan demikian, tekanan tidak akan datang dari enkripsi itu sendiri, tetapi dari tata kelola di baliknya.
“Manajemen kunci yang buruk akan menyebabkan dampak operasional yang lebih besar daripada sandi yang lemah,” kata Pratama.
Kini, beberapa organisasi sedang mempersiapkan diri untuk algoritma pasca-kuantum yang disetujui Institut Nasional Standar dan Teknologi (NIST), sementara pihak lawan mempercepat pencurian kunci menggunakan AI.
Selain itu, kompromi identitas akan tetap menjadi penyebab utama pelanggaran keamanan pada tahun 2026. Penyerang akan semakin mengandalkan pemutaran ulang token sesi, peniruan identitas eksekutif, pencurian identitas mesin, dan penyalahgunaan akun layanan.
“Organisasi yang tidak dapat mengartikulasikan dengan jelas, siapa yang memiliki akses ke apa dan bagaimana akses tersebut diatur, akan menghadapi insiden berulang. Program identitas yang matang akan menjadi jalan tercepat menuju pengurangan risiko yang terukur,” kata Pratama.
Yang tak kalah pelik, kata Pratama, pihak-pihak yang bermusuhan telah mengetahui bahwa satu pemasok yang lemah dapat membahayakan puluhan organisasi sekaligus akibat AI.
Serangan terhadap penyedia layanan terkelola seperti platform cloud, aplikasi SaaS, dan subkontraktor khusus akan meningkat. Dengan begitu, harapan bahwa perusahaan bertanggung jawab atas postur keamanan rantai pasokan mereka akan menjadi hal yang umum.
Pemerintah Indonesia harus bersiap
Pratama berharap pemerintah dapat memperkuat perlindungan infrastruktur digital serta data publik di tengah maraknya AI sebagai agenda prioritas utama. Langkah ini mencakup penerapan standar keamanan siber yang ketat di seluruh instansi, penguatan integrasi sistem pengamanan yang saling terhubung, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Hal itu dapat dilakukan melalui program pelatihan intensif dan sertifikasi profesional di bidang keamanan siber. “Seluruh upaya tersebut menjadi landasan penting bagi Indonesia dalam menjawab tantangan era digital sekaligus menjaga kedaulatan di ruang siber,” ujar Pratama.
Selain itu, perlu adanya Lembaga Perlindungan Data Pribadi sebagai implementasi nyata dari Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Lembaga ini diharapkan memiliki independensi kelembagaan dan kapasitas yang memadai untuk mengawasi kepatuhan terhadap regulasi, menangani insiden pelanggaran data, serta menjatuhkan sanksi kepada pihak yang tidak patuh.
Guna memberi payung hukum, pemerintah diharapkan segera mengesahkan aturan turunan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, serta RUU Keamanan dan Ketahanan Siber yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional.
Dari sisi kelembagaan, penguatan peran dan kewenangan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, dukungan teknologi, serta alokasi anggaran yang memadai bagi BSSN.
Dengan begitu, BSSN dapat menjalankan fungsi deteksi, respons, dan pemulihan insiden siber secara optimal. Lembaga tersebut juga harus didorong sebagai aktor utama dalam pengamanan infrastruktur kritis nasional, termasuk sektor energi, transportasi, dan telekomunikasi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Hati-hati Social Spy WhatsApp, Aplikasi Penipuan Berkedok Sadap! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












