Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Pengamat Imbau Bulog untuk Revisi Pengadaan GKP agar Petani Tak Setor Gabah “Aneh-aneh”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Januari 2026
A A
Petani kibulin bulog kirim gabah kering panen "aneh-aneh. MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengamat imbau Bulog untuk merevisi kebijakan pengadaan gabah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Khudori mengimbau Bulog untuk memperbarui kebijakan gabah kering panen (GKP) agar semua pengadaannya kualitas di tahun 2026. Tak terkekang oleh kebijakan efisiensi.

Perintah lisan semata menimbulkan dampak buruk

Tugas-tugas berat menunggu Bulog. Dari pengadaan, pengelolaan hingga penyaluran. Untuk pengadaan, tahun 2026 ini komoditasnya diperluas. Tidak hanya gabah atau beras, tapi juga jagung, dan kedelai. 

Pengadaan mencakup 4 juta ton setara beras, 1 juta ton jagung, dan 70 ribu ton kedelai. Bulog juga kebagian sekitar 720 ribu kiloliter minyak goreng rakyat bernama MinyaKita dari produsen. 

Menurut Pengurus Pusat PERHEPI, Khudori karyawan Bulog di lapangan sudah bekerja jemput bola menyerap gabah petani di berbagai daerah yang sedang ada panen. Kebetulan panen bersamaan musim hujan. Gabah yang dipanen saat hujan kadar airnya bisa tinggi, apalagi gabah dari sawah yang kebanjiran. 

“Jemput bola mencegah petani jadi korban harga jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) senilai Rp6.500 per kilogram gabah kering panen (GKP),” jelas Khudori.

Akan tetapi, dalam tata kelola pemerintahan yang baik, pemberian tugas secara lisan harus dihindari. Karena bisa jadi ajang cuci tangan bagi pemberi penugasan apabila di kemudian hari ada masalah dan berpeluang memakan korban. Termasuk masalah hukum.

“Oleh karena itu, Bulog dan pemberi penugasan sebaiknya segera menuntaskan hal ini,” tegas Khudori.

Revisi Inpres Nomor 6 Tahun 2025 tentang gabah kering panen

Meski begitu, Khudori tak menampik jika Bulog sukses menjalankan tugas dengan menyerap 3 juta ton setara beras tahun lalu, melalui pengadaan gabah kering panen (GKP) semua kualitas seharga Rp6.500/kg. Dan akan dilanjutkan di tahun ini.

“Masalahnya, kebijakan yang tertuang dalam poin kedua Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Produksi Dalam Negeri Serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah tersebut, hemat saya hanya berlaku di tahun 2025,” kata Khudori.

“Inpres ini adalah dasar hukum pembelian gabah kering panen (GKP) semua kualitas Rp6.500/kg untuk target pengadaan beras 3 juta ton,” lanjutnya.

Jika dugaan Khudori benar, ia berharap Inpres perlu direvisi. Sebab, ketika dasar pembelian gabah kering panen (GKP) semua kualitas Rp6.500/kg belum ada, Bulog tak punya dasar melakukan penyerapan saat ini. 

“Idealnya, revisi Inpres sudah tuntas akhir tahun lalu agar saat memasuki awal tahun 2026 Bulog bisa langsung bekerja. Selain itu, revisi Inpres seharusnya sudah menimbang baik-buruk pembelian GKP semua kualitas. Proses menimbang itu didasarkan pada evaluasi menyeluruh kebijakan 2025,” jelas Khudori.

Bulog terima gabah kering panen “aneh-aneh”

Dengan adanya aturan baru gabah kering panen (GKP), Khudori yakin petani masih untung. Sebab jujur saja, kata dia, petani hari-hari ini tak belajar tentang memproduksi gabah berkualitas dan justru memanfaatkan peluang.

“Pada awal penyerapan yakni sekitar Maret-April 2025, gabah ‘aneh-aneh’ disetorkan ke Bulog. Dari gabah berkadar air tinggi, berbutir hijau dan banyak hampa hingga gabah berkecambah,” kata Khudori.

Iklan

Ia menduga gabah yang diterima Bulog tersebut didapat dari petani, tengkulak, pedagang atau yang lain. Oleh karena itu, ia mengimbau Bulog untuk melakukan evaluasi. Salah satunya dengan mengindikasikan rendemen giling gabah. 

Data per 9 Desember 2025, rendemen giling dari gabah kering panen (GKP) semua kualitas yang diserap oleh Bulog berkisar 32,53 persen hingga 54,70 persen atau rerata 51 persen. Angka itu naik sedikit dari posisi 20 September 2025 yakni rendemen sekitar 50,8 persen. Tapi, tetap lebih rendah dari standar BPS yakni 53,38 persen.

“Ini karena gabah yang diserap Bulog tidak homogen dengan kadar air, butir hampa dan hijau melampaui standar tadi,” kata Khudori.

Pentingnya survei untuk petani serta Bulog

Selain dari penyerapan gabah oleh Bulog, indikasi rendemen turun juga terbaca dari data BPS saat mensurvei konversi gabah ke beras tahun 2025. Menurut Khudori, survei yang dilakukan sejak tahun 2018 itu mengindikasikan banyak perubahan, baik di level usaha tani, pascapanen maupun penggilingan. 

“Di level usaha tani, varietas padi yang mayoritas ditanam petani tentu bergeser. Bantuan alat dan mesin pertanian, termasuk combine harvester yang masif beberapa tahun terakhir, tentu kian banyak merambah sawah-sawah petani,” tutur Khudori.

“Demikian pula, selama 7 tahun konfigurasi mesin penggilingan dan kelengkapannya hampir bisa dipastikan sudah berubah. Ini semua memengaruhi rendemen giling,” lanjutnya.

Khudori berharap survei konversi gabah ke beras terus dilakukan BPS tahun ini, meski ia tak menampik adanya kebijakan baru soal efisiensi anggaran. Namun, survei tetap penting dilakukan untuk membantu petani serta Bulog menghasilkan gabah kering panen (GKP) yang berkualitas.

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Stok Beras Bulog Capai 4 Juta Ton, Lalu Gunanya untuk Rakyat Apa kalau Harganya Masih Anomali? atau liputan lain di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: buloggabah kering panenGKPkonversi gabah ke beras
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

banjir sumatera. MOJOK.CO
Mendalam

Bencana di Sumatra: Pengakuan Ayah yang Menjarah Mie Instan di Alfamart untuk Tiga Orang Anaknya

1 Desember 2025
Stok Beras Bulog 2025 Aman. MOJOK.CO
Aktual

Stok Beras Bulog Memang Berlebih di Gudang, tapi Tak Jamin Masyarakat Bisa Beli dan Petani Sejahtera

24 November 2025
Swasembada Pangan di era Prabowo. MOJOK.CO
Aktual

Memahami “Bahasa Bayi” Swasembada Pangan yang Dibanggakan Presiden Prabowo selama Satu Tahun Menjabat di Saat Petani Makin Nelangsa

21 Oktober 2025
Beras Bulog capai 4 juta ton. MOJOK.CO
Ragam

Stok Beras Bulog Capai 4 Juta Ton, Lalu Gunanya untuk Rakyat Apa kalau Harganya Masih Anomali?

2 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.