Di malam jelang Valentine, saya harus ikut “war” memesan penginapan yang ada di Jogja. Berburu kamar berbintang dengan sepasang kekasih yang penuh nafsu tanpa status menikah alias kumpul kebo. Padahal, saya hanya ingin staycation sendiri mumpung libur panjang. Bukannya mengurangi stres, saya malah pusing duluan.
Staycation sendiri di Hari Valentine adalah rencana konyol
Libur panjang sudah menanti sejak Sabtu (14/2/2026) hingga Selasa (17/2/2026). Ini saatnya “budak korporat” seperti saya menikmati hari dengan berbagai cara. Ada yang pergi wisata, tidur nyenyak di rumah, atau bahkan memilih tidak libur untuk mengejar deadline pekerjaan.
Saya sendiri memutuskan menghindari keramaian. Sebagai orang yang kerja di Jogja—tempat langganan wisatawan dari berbagai daerah, alih-alih pergi ke Malioboro, mengunjungi wisata Merapi, atau ke Pantai Parangtritis, saya berencana staycation sendirian di sebuah penginapan terjangkau daerah Sleman Selatan. Sekaligus menantang diri untuk melakukan liputan “investigasi” kecil-kecilan alias penugasan jelang Valentine.
Staycation sendiri merupakan salah satu kegiatan tren di kalangan Gen Z untuk menghilangkan stres tanpa mengeluarkan banyak uang. Menurut studi oleh para pakar perjalanan di easyJet, selain efisiensi biaya, peningkatan tren ini juga ditunjang dari kemudahan pemesanan penginapan lewat akses digital.
Namun, perencanaan staycation H-2 sebelum Sabtu (14/2/2026) tidaklah mudah bagi saya. Alih-alih healing, saya malah dibikin mumet. Sebab saya harus berebut tiket dengan orang-orang yang juga menyewa penginapan. Tak hanya warga lokal tapi juga wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Penginapan di Jogja berbondong-bondong kasih paket spesial Valentine
Sebagai salah satu destinasi wisata yang dicintai, Jogja menghadapi dinamika yang unik setiap kali memasuki periode libur panjang seperti Imlek, jelang puasa, serta Valentine. Terutama kenaikan okupansi penginapan di Jogja.
Dalam laporan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel tahun 2023, Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta (BPS DIY) mencatat, biasaya kenaikan terjadi dimulai dari hotel-hotel berbintang, sebelum akhirnya merambah ke hotel kelas di bawahnya.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY juga melaporkan bahwa biasanya libur panjang menjadi momen utama yang memengaruhi lonjakan okupansi hotel, yakni mencapai 98,7 persen di akhir Januari hingga awal Februari 2025. Belum lagi penginapan-penginapan di Jogja dengan harga lebih terjangkau yang meningkatkan persaingan pasar.
Guna mengatasi masalah tersebut, beberapa penginapan di Jogja juga memanfaatkan momen untuk menjaga pendapatan melalui unit bisnis makanan dan minuman (F&B) mereka, khususnya saat Valentine.
Tak sedikit pula yang menawarkan paket romantic dinner atau paket staycation untuk menarik pasar lokal dan pasangan muda. Salah satunya di Sangraha Bhojana, bagian dari Sumberwatu Heritage dekat Prambanan.
“Kami punya paket khusus, makan malam romantis di hari Valentine. Ada candlelit table (meja dengan lilin), live music, serta curated dinner untuk dua orang,” ucap Nurul selaku tim marketing Sumberwatu Heritage saat Mojok ajak berbincang, Jumat (13/2/2026).
Makna Valentine yang sudah bergeser
Maka wajar, hampir seluruh penginapan di Jogja penuh tamu. Saat saya mengecek beberapa aplikasi pemesanan hotel di Hari Valentine, beberapa status kamar masih ada yang tersisa 1 ruangan dan ada yang tersisa 3 ruangan. Adapun, harganya sudah melambung jauh dari harga normal.
Saya maklum, sebab ada banyak tanggal merah yang berdekatan di Februari. Mulai dari weekend, cuti bersama tahun baru Imlek, hingga menyambut hari pertama puasa.
Belum lagi, weekend minggu ini bertepatan pula dengan Valentine. Hari yang tak lagi dimaknai dengan memberi bunga atau cokelat semata, melainkan momen spesial untuk menyalurkan hasrat fisik pasangan alias kumpul kebo.
Survei dari Kinsey Institute menunjukkan bahwa sekitar 54 persen pasangan melakukan hubungan seksual pada Hari Valentine. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari libur lain atau akhir pekan biasa. Sementara survei YouGov pada 2023 bahkan mencatat bahwa 40 persen orang merasa “lebih aktif” secara seksual di hari ini dibandingkan hari lainnya.
Fenomena ini bikin saya risih. Takut kalau ternyata saya dapat penginapan zonk alias kamar yang berada di antara pasangan penuh nafsu tanpa status menikah alias kumpul kebo.
Banyak tamu nekat ‘transit’ atau kumpul kebo di Hari Valentine
Nyatanya, Hari Valentine bukan hanya jadi kekhawatiran saya yang ingin staycation di Jogja. Bagi pengurus penginapan seperti Ahmed (bukan nama sebenarnya), Hari Valentine justru menuntut dirinya lebih waswas daripada senang karena jumlah tamu yang naik signifikan.
Dia adalah penjaga sekaligus pengurus di salah satu penginapan daerah Sleman Selatan yang saya kunjungi untuk staycation. Ahmed bercerita kalau beberapa hari terakhir ini alias jelang Hari Valentine dan libur panjang, dia kesulitan tidur. Takut salah menerima tamu yang ingin kumpul kebo.
“Saya harus lebih waswas lagi Mbak ngecekin tamu pas Hari Valentine. Mulai dari ngecek data di sistem sampai tamu yang datang secara langsung,” kata Ahmed usai sembari mengurus proses check-in saya pada Jumat (13/2/2026).
“Karena kalau nggak jeli, saya bisa kebobolan tamu yang macam-macam. Ya mohon maaf, contohnya pasangan tanpa status pernikahan yang mau berhubungan badan atau masih di bawah umur,” lanjutnya.
Ahmed tak menampik, di hari kasih sayang seperti ini ada saja tamu perawakan bocah SMP atau mahasiswa yang mau menginap di tempatnya. Walaupun mereka mampu membayar, Ahmed tetap tak mau menerima.
“Biasanya mereka pasti tanya-tanya dulu ke saya, bisa ‘transit’ nggak? Jadi cuma sewa kamar 1-2 jam-an gitu. Kalau sudah ada tanda begitu, langsung saya tolak secara halus. Saya bilang, penginapan ini nggak untuk ‘gitu-gitu’ (berbuat mesum),” tutur Ahmed.
Pengurus penginapan wajib tahu gerak-gerik tak wajar
Sebagai pengurus penginapan yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun, Ahmed mengaku harus jeli mengamati tamu saat Valentine. Sebab, kata dia, melihat identitas seperti KTP saja tidaklah cukup.
Ada yang statusnya “belum menikah” padahal sudah, hanya karena kartunya belum diperbaharui. Bahkan ada yang secara sadar menunjukkan surat nikah mereka sehingga mempermudah Ahmed memverifikasi.
Di sisi lain, Ahmed meyakini bahwa menanyakan tujuan tamu secara langsung untuk menginap adalah hal yang tidak etis. Baginya, privasi tamu tetaplah nomor satu. “Makanya di sini bahkan nggak ada CCTV,” ucapnya.
Dengan begitu, mau tidak mau, Ahmed harus belajar dari pengalaman untuk tahu ciri-ciri tamu dengan niat tidak wajar. Biasanya yang tidak wajar itu begini, kata Ahmed, ada seorang perempuan yang datang duluan untuk check-in. Namun, tidak lama setelahnya, ada laki-laki yang masuk ke kamarnya.
“Jadi rupanya, si laki-laki ini nunggu di luar dari tadi. Terus si perempuan ini dibiarin check-in. Bisa juga sebaliknya ya, tapi kebanyakan pembagian perannya seperti itu. Agak aneh saja, kenapa kok nggak datang langsung berdua seperti selayaknya suami-istri?” kata Ahmed.
Dosa memang urusan masing-masing, tapi tanggung jawab moral harus ada
Ahmed sebenarnya bukan mau ikut campur atau sok suci. Walaupun penginapan itu bukan miliknya, dia ingin bertanggung jawab agar tidak merusak citra penginapan tersebut. Terlebih, bosnya juga terbilang ketat dalam mengawasi.
Bayangkan, beberapa hari lalu saja Ahmed hampir kena sanksi hanya karena satu laporan yang terbilang sepele. Masalahnya, laporan itu langsung diterima oleh pusat tanpa melalui Ahmed terlebih dahulu yang bekerja langsung di lapangan.
“Jadi tamunya ini sewot karena katanya ada sabun yang ketinggalan. Nah, pas saya sudah temukan isinya memang kosong. Habis. Tapi dia tetap marah-marah minta uangnya kembali 30 persen,” kata Ahmed.
“Saya hampir kena sanksi bos, ujung-ujungnya juga dia (tamu) nggak minta sabunnya kembali. Padahal, bisa saja saya kirim. Urusan jadi beres. Saya pun nggak perlu sampai dapat teguran langsung oleh pusat,” lanjut Ahmed menghela napas.
Fakta razia di Hari Valentine yang bikin saya lebih khawatir
Ahmed pun tak menampik ada banyak penginapan di sekitar Jogja yang terkenal menyediakan ‘transit’. Dia menyebutkan beberapa lokasi yang dia tahu kepada saya, bahkan ada penginapan berlabel ‘syariah’ yang masih jadi jujugan anak muda untuk kumpul kebo.
“Ya sebetulnya itu memang tergantung dari penjaganya. Kalau saya tetap menjaga sumber penghasilan saya agar tetap halal. Saya juga nggak mau, sok mben, anak atau cucu saya kena masalah serupa terus dirazia petugas,” kata Ahmed.
Perkara razia ini memang bukan hal baru. Tahun 2019, petugas Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menciduk 6 pasangan bukan suami istri sah dalam gelar razia hotel dan kost eksklusif di Kabupaten Sleman jelang Ramadan.
Bukan mustahil jika penggerebekan dilakukan saat Hari Valentine. Di Gresik misalnya, petugas menemukan fakta bahwa penjualan alat kontrasepsi di sejumlah minimarket dan toko modern meningkat sejak malam dan Hari Valentine.
Mengetahui temuan tersebut, sekilas terbesit penyesalan dalam diri saya yang ingin staycation sendiri di Hari Valentine. Saya sudah enggan duluan membayangkan penggerebekan di penginapan yang saya tempati.
Kendati saya ditetapkan tidak bersalah nantinya karena tak terbukti membawa lawan jenis, saya tetap risih. Karena niat awal saya ingin healing jadi makin pusing, padahal saya hanya ingin menikmati staycation dengan nyaman di hari libur.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: “Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
