Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 Februari 2026
A A
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO

Ilutrasi - “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks? (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu, Hari Valentine identik dengan momen manis untuk menunjukkan kasih sayang yang tulus. Namun sekarang, maknanya seolah makin melenceng dan jadi makin sempit. 

Kini, banyak orang menganggap valentine bukan lagi soal bunga atau cokelat, tetapi “malam puncak untuk urusan ranjang”. Seolah-olah, cara paling sah untuk membuktikan cinta adalah dengan menyalurkan hasrat fisik kepada pasangan.

Banyak orang merasa “lebih aktif” berhubungan seks di malam valentine

Fenomena ini bukan sekadar omong kosong, karena ada data nyata yang membuktikannya. Menjelang 14 Februari, toko-toko ritel global mencatat lonjakan tajam pada penjualan kondom, alat tes kehamilan, hingga pakaian dalam seksi (lingerie), hingga 40 persen ketimbang hari biasa. Semuanya laku keras seolah menjadi “seragam wajib” untuk merayakan malam kasih sayang tersebut.

Survei dari Kinsey Institute juga menunjukkan bahwa sekitar 54 persen pasangan melakukan hubungan seksual pada Hari Valentine. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari libur lain atau akhir pekan biasa. Sementara survei YouGov pada 2023 bahkan mencatat bahwa 40 persen orang merasa “lebih aktif” secara seksual di hari ini dibandingkan hari lainnya.

Dan, pada akhirnya, jejak kemeriahan valentine ini bisa terlihat jelas sembilan bulan kemudian. Data dari Layanan Kesehatan Inggris (NHS) menunjukkan adanya kenaikan angka kelahiran bayi sekitar bulan November. Artinya, banyak pasangan yang memang “lebih aktif” secara seksual di pertengahan Februari.

Menurut Chris Wilson, seorang kolumnis majalah TIME, hal ini terjadi karena suasana romantis dan simbol-simbol cinta yang bertebaran di Hari Valentine memang mendorong pasangan untuk merasa lebih intim. Sayangnya, keintiman tersebut seringkali hanya disederhanakan menjadi hubungan seks, yang akhirnya membuat makna kasih sayang yang lebih dalam jadi terlupakan.

Di kalangan mahasiswa Jogja pun sama saja, valentine identik dengan “seks”

Kalau kalian pikir itu fenomena khas negara-negara Barat, kalian salah. Nyatanya, budaya “ngeseks” di Hari Valentine sudah sampai di Indonesia–bahkan di Jogja.

Waktu kuliah dulu, saya pernah punya kenalan seorang penjaga hotel kelas melati di kawasan Sleman Utara. Menurut dia, ada dua momen besar (high season) tempat kerjanya diserbu para mahasiswa.

“Pas valentine sama tahun baru. Mau valentine itu weekend atau nggak, selalu aja banyak mahasiswa datang,” ujarnya kepada Mojok, Senin (9/2/2026).

“Nggak mau suudzon mereka berbuat macam-macam, dan nggak mau tahu juga. Tapi pernah punya pengalaman, banyak kondom dibuangin di tempat sampah kamar,” jelasnya.

Beberapa media nasional juga pernah memotret fenomena ini. Antara, misalnya, pernah memberitakan sebanyak 26 pasangan bukan suami istri terjaring “Razia Valentine” oleh petugas Satpol PP di sejumlah hotel Kota Surabaya, pada 2023 lalu.

Bahkan, bergeser sedikit ke Gresik, Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Dispol) Gresik pernah menemukan fakta bahwa penjualan alat kontrasepsi di sejumlah minimarket dan toko modern meningkat sejak malam dan Hari Valentine.

Di kampus-kampus, obrolan soal check-in bersama pacar saat malam valentine sudah jadi hal biasa. Nyaris tak ada anggapan tabu. Namun, yang menjadi pertanyaan berikutnya, sejak kapan budaya harus ngeseks di Hari Valentine ini muncul?

Gara-gara budaya calling beralih menjadi dating

Jika menelusuri sejarah budaya modern, kita akan menemukan bahwa nuansa sensual atau seksual dalam Hari Valentine bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari perubahan besar dalam cara kita berpacaran yang didorong oleh pasar, alias kapitalisme.

Iklan

Melalui bukunya, Consuming The Romantic Utopia (1997), Eva Illouz menjelaskan bahwa dahulu, di era Victoria, cinta dianggap sebagai emosi yang suci. Pertemuan antara pria dan wanita terjadi di ruang tamu rumah si wanita, di bawah pengawasan ketat orang tua. Tradisi ini disebut calling–istilah Indonesia: apel atau ngapel. 

Di ruang tamu itu, tidak ada tempat untuk keintiman fisik yang berlebihan. Fokusnya adalah pada karakter dan sopan santun. Namun, pada awal abad ke-20, tradisi ini runtuh dan digantikan oleh dating atau berkencan. Perubahan ini sangat drastis, pasangan tidak lagi duduk diam di rumah, tetapi pergi “keluar” untuk mencari hiburan.

Inilah titik balik utamanya. Ketika romansa pindah dari ruang tamu pribadi ke ruang publik komersial, seperti bioskop, restoran, dan hingga lantai dansa, dinamika hubungan berubah total. Pasar kemudian mulai menyediakan tempat-tempat yang remang-remang. 

Di dalam gedung bioskop yang gelap, misalnya, pasangan menemukan jenis privasi baru yang tidak mungkin didapatkan di rumah orang tua. Kegelapan teater menjadi tempat berlindung yang aman untuk berpegangan tangan atau berciuman, menjadikan hiburan publik sebagai sarana untuk mengeksplorasi keintiman fisik.

Kapitalisme makin memberi ruang pada penyempitan makna valentine

Perubahan ini semakin dipercepat dengan hadirnya mobil. Dalam budaya konsumen, mobil bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah “ruang tamu berjalan.” 

Mobil memberikan pasangan muda kebebasan untuk pergi jauh dari pengawasan keluarga. Di dalam mobil yang tertutup, mereka menemukan ruang privat yang intim, yang memungkinkan terjadinya eksplorasi seksual yang lebih jauh. 

“Lagu-lagu dan budaya populer kala itu bahkan sering menyindir bagaimana mobil menjadi lokasi utama untuk petting atau bermesraan, jauh dari mata orang tua yang menyelidik,” tulis Eva Illouz.

Di sinilah peran pasar dan iklan menjadi sangat krusial dalam membentuk nuansa valentine yang kita kenal sekarang. Industri periklanan menyadari bahwa untuk menjual produk, mereka tidak bisa hanya menjual fungsi barang tersebut; mereka harus menjual janji akan “daya tarik” dan “gairah.” 

Iklan-iklan mulai mengaitkan produk kecantikan, sabun, dan pakaian dengan janji romansa yang “panas.” Pesannya jelas: “jika kamu ingin dicintai, maka kamu harus terlihat menarik secara fisik.” 

“Romansa tidak lagi tentang penyatuan jiwa semata, tetapi juga tentang daya tarik seksual yang bisa ditingkatkan melalui konsumsi barang,” imbuhnya.

Valentine, sebagai puncak perayaan romansa ini, menjadi etalase utama bagi logika tersebut. Pasar menjual gagasan bahwa cinta yang intens dan bergairah membutuhkan “atmosfer” yang tepat–dan atmosfer itu bisa dibeli. Makan malam dengan cahaya lilin, liburan ke tempat terpencil, atau hadiah-hadiah mewah dipasarkan sebagai cara untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi keintiman. 

“Budaya konsumen mengajarkan kita bahwa momen romantis yang sempurna adalah momen yang intens, mendebarkan, dan sering kali bermuara pada ketertarikan fisik.”

Jadi, jika valentine masa kini terasa kental dengan nuansa seksual, itu karena budaya modern telah mendefinisikan ulang cinta. Cinta bukan lagi sekadar hubungan romantis, tapi petualangan yang mendebarkan (thrill).

Cinta bukan lagi soal perasaan, tapi transaksi “untung-rugi”

Logika kapitalisme yang dijelaskan Illouz ini diperkuat oleh konsep The Marriage Market dalam sosiologi ekonomi. Jika Illouz fokus pada bagaimana pasar menyediakan “ruang” fisik bagi pasangan, teori ini menyoroti hal yang lebih dalam: bagaimana romansa modern sebenarnya telah berubah menjadi arena transaksional.

Di sinilah letak pergeseran paling fatal; cinta bukan lagi sekadar soal penyatuan emosi, melainkan soal “investasi” dan “imbalan”.

Menurut ekonom yang mempopulerkan teori ini, Gary Becker, dalam kacamata ekonomi, setiap kencan mewah, bunga mahal, hingga makan malam romantis di hotel berbintang dianggap sebagai “modal” yang sengaja dikeluarkan. Secara bawah sadar, pasar membangun narasi bahwa ketika seseorang telah mengeluarkan biaya besar untuk menciptakan “atmosfer yang sempurna”, maka muncul semacam kontrak psikologis yang tidak tertulis.

“Pihak lainnya sering kali merasa memiliki ‘utang budi’ atau kewajiban moral untuk memberikan balasan yang setimpal,” kata Becker dalam studinya yang berjudul A Theory of Marriage (1973).

Di sinilah seks kemudian masuk ke dalam perhitungan. Keintiman fisik akhirnya diposisikan sebagai bentuk imbalan yang dianggap sah atas investasi materi yang sudah dilakukan sepanjang hari.

Akibatnya, muncul logika untung-rugi: jika investasi finansialnya tinggi, maka ekspektasi akan hasil fisiknya pun harus tinggi. Seks di malam valentine akhirnya bukan lagi luapan kasih sayang yang spontan, tetapi penyelesaian dari sebuah transaksi emosional. 

“Seseorang merasa berhak mendapatkan atau wajib memberikan keintiman karena ‘harga’ yang dibayar sudah sangat mahal,” imbuh Becker.

Pada titik ini, pada akhirnya, valentine benar-benar telah kehilangan kesuciannya, karena cinta telah diringkas menjadi sekadar alat tukar dalam “pasar” kasih sayang yang dingin. Kalau kata orang dulu, “valentine bukan budaya kita”. Sekarang, budaya valentine telah bergeser maknanya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: hari kasih sayanghari valentinelipsuslipsus valentinepilihan redaksiseks bebasValentine
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan
Ragam

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
unisa jogja, kekerasan dalam hubungan.MOJOK.CO

Mahasiswa UNISA Jogja Alami Kekerasan dalam Hubungan Asmara, Kampus Ancam DO Pelaku

10 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

11 Februari 2026
Gojek, gocar instant.CO

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.