Warung nasi padang Jogja dicap ngawur dan menyalahi cita rasa tanah kelahirannya. Namun, dari piring nasi padang tersebut ada perantau yang terselamatkan dompetnya kala tanggal tua dan ada kerinduan kampung halaman yang terobati.
***
Selama lima tahun tinggal di Jogja, Akbar (25), perantau asal Jambi, menemukan satu makanan yang paling sering ia cari ketika rindu rumah: nasi padang. Masalahnya, pencarian itu justru sering berakhir dengan rasa kecewa.
Bagi Akbar, banyak warung nasi padang Jogja belum mampu menghadirkan rasa yang ia kenal sejak kecil di Sumatra. Ia merasa bumbu beberapa warung cenderung lebih ringan, bahkan sambalnya terasa berbeda dari makanan yang biasa ia makan di kampung halaman.
“Di sini itu hambar rasanya dan sambal di sini condong manis. Padahal, nasi padang yang asli itu rasanya cuma dua, pedas dan asin! Udah banyak aku nyobain tapi belum nemu yang pas,” ujar Akbar kepada saya melalui WhatsApp, Jumat (25/9/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa ada cita rasa yang berbeda antara nasi padang di Jogja dan nasi padang yang ia kenal. Mulai dari bumbu dan juga penyajian yang jauh berbeda.
“Bumbunya. Kalau di Sumatra itu lebih kuat. Di sini kadang rasanya kayak sudah disesuaikan sama lidah orang Jogja, bahkan dari penyajian saja sudah sangat berbeda, kalau di Sumatra itu kuahnya beneran kental dan juga pekat, kalau di sini lebih cair dan memang kurang nampol,” jelasnya.
Masalahnya, nasi padang Jogja itu bukan cuma soal rasa, tapi pilihan lauknya juga tidak lengkap
Akbar tidak hanya mempermasalahkan rasa. Ia juga membandingkan pilihan lauk dan sayur yang ia temui di rumah makan nasi padang Jogja dengan makanan yang biasa ia jumpai di Sumatra.
“Kalau lauk sih di sini emang jarang ada rendang daging. Cuma ayam, tapi itu pun asin aja rasanya,” katanya.
Menurut Akbar, pilihan sayur juga terasa berbeda. Ia lebih sering menemukan daun singkong di warung nasi padang Jogja, sementara ia terbiasa dengan gulai nangka.
“Kalau sayur di sini rata-rata pakai daun ubi. Kalau di sana biasa pakai gulai nangka,” ujarnya.
Yang paling ia cari justru tempoyak. Makanan berbahan durian fermentasi itu memang memiliki kedekatan dengan kuliner Jambi. Kajian tentang kuliner Jambi menyebut tempoyak sebagai salah satu makanan khas daerah tersebut dan penggunaannya berkembang dalam sambal, gulai, hingga olahan ikan.
“Yang paling kerasa banget kurangnya itu adalah nggak ada tempoyak,” kata Akbar.
Jadi, ketika ia mengatakan nasi padang Jogja “ngawur”, yang ia maksud bukan seluruh rumah makan di Jogja. Ia sedang membandingkan sepiring nasi yang ia makan dengan memori rasa yang ia bawa dari rumah.
Harga murah membuat nasi padang Jogja sulit dibenci
Namun, ada satu alasan yang membuat Akbar tetap kembali membeli nasi padang Jogja yakni harga. Persoalan harga tersebut yang menjadikan nasi padang di Jogja itu mudah dimaafkan.
“Karena murah, Mas. Semua rasa manis dan asin yang aneh dari warung nasi padang Jogja itu masih bisa termaafkan karena harganya murah,” jelas Akbar.
Harga tersebut bukan sekadar klaim Akbar. Di media sosial Threads, perbincangan soal harga menu warung nasi padang Jogja menunjukkan makanan dengan harga sekitar Rp10 ribuan masih mudah ditemukan. Padang Murah, misalnya, mencantumkan nasi ayam goreng Rp11 ribu dan nasi telur mulai Rp9-10 ribu.
Media lokal juga pernah mencatat nasi padang Rp10 ribu sebagai salah satu pilihan makan murah bagi mahasiswa di Yogyakarta, terutama ketika uang mulai menipis pada akhir bulan.
“Rp15 ribu sudah dapat es teh dan kerupuk. Murah dan kenyang!” kata Akbar.
Jadi penyelamat dompet perantau ketika tanggal tua
Bagi perantau seperti Akbar, harga murah membuat nasi padang punya fungsi lain. Makanan itu bukan lagi soal mencari rasa yang paling mendekati kampung halaman, tetapi juga cara bertahan sampai kiriman atau gaji berikutnya.
“Secara tidak langsung, menjadi penyelamat dompet saya. Apalagi kalau lagi males masak. Dengan Rp10-11 ribu sudah dapat nasi ayam pop sama sayur. Kalau dibanding makanan lain, ya lumayan banget,” ujar Akbar.
Fenomena itu bukan hal aneh di Jogja. Pilihan makanan murah memang menjadi bagian dari strategi mahasiswa dan pekerja dengan anggaran terbatas. Bahkan ada pilihan nasi padang yang menjual paket sekitar Rp10 ribu hingga Rp16 ribu. Akbar akhirnya punya kompromi sendiri. Lidahnya boleh protes, tetapi dompetnya justru berterima kasih.
Sepiring nasi padang memang tidak sama, namun mengobati kerinduan akan kampung halaman
Ada satu hal lain yang membuat Akbar dapat berkompromi, yakni suasananya. Menurutnya, beberapa penjual nasi padang di Jogja ada yang berasal dari Sumatra. Ketika ia menemukan penjual yang masih menggunakan bahasa daerah, pengalaman makan itu terasa berbeda.
“Kalau ketemu yang orang Sumatra asli terus ngomongnya pakai bahasa Sumatra, rasanya kayak ke rumah saudara,” katanya.
Bagi Akbar, sepiring nasi padang Jogja akhirnya memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia merasa rasanya tidak selalu sesuai dengan ingatannya tentang makanan di kampung halaman. Di sisi lain, nasi itu tetap mampu menghadirkan sedikit suasana rumah.
“Nggak sama memang. Tapi setidaknya ada rasa Sumatranya,” ujarnya.
Lima tahun merantau membuat Akbar belajar menerima kompromi kecil itu. Ia tidak selalu mendapatkan nasi padang dengan rasa yang ia cari. Ia juga belum menemukan tempoyak yang membuatnya merasa benar-benar kembali ke Jambi.
Tetapi ketika tanggal tua datang dan uang tinggal Rp15 ribu, sepiring nasi ayam, sayur, sambal, es teh, dan kerupuk sudah cukup membuatnya kenyang. Mungkin di situlah nasi padang Jogja punya fungsi lain bagi perantau. Bukan selalu soal autentik atau tidak autentik, melainkan tentang bagaimana makanan murah bisa sekaligus mengisi perut dan sedikit mengurangi rindu rumah.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
