Kalau bukan karena traktiran/gratisan, seorang mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah asal PTN Surabaya—dengan uang saku pas-pasan—sepertinya tidak akan pernah merasakan makan di restoran All You Can Eat (AYCE) seumur hidupnya.
Pengalaman pertama makan di AYCE itu pun menjadi momen kocak bagi mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah tersebut. Perpaduan antara kebingungan, kenorakan, dan aji mumpung yang menggelikan kalau dikenang.
Hari-hari mahasiswa PTN Surabaya: berteman dengan rasa lapar
Sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah di PTN Surabaya, apalagi sama sekali tanpa support biaya dari orang tua, Adro (24) harus menekan penggunaan uang beasiswanya. Sebulan jatah untuk hidupnya cuma Rp700 ribu.
Di Surabaya, untung masih mudah menemukan makanan dengan harga murah. Rp8 ribuan bahkan masih ada di gang-gang sempit perkampungan area kampus.
“Warteg kalau kalap mesti mahal. Kalau aku di Warteg batasi diri cuma harus habis Rp10 ribu. Itu berarti dapat nasi, telur, dan sayur. Itu udah cukup,” ungkap Adro berbagi cerita belum lama ini. “Makanan murah banyak, asal tahan makan gitu-gitu aja.”
Umumnya ia makan sehari dua kali. Sering juga hanya makan sehari sekali: masak nasi sendiri, lalu beli lauk di Warteg. Makan di sore hari itu akan dibanyakin nasinya, biar kenyang sekalian, kemudian tertidur untuk menghadapi rasa lapar di hari berikutnya.
Pelanggan Warteg ketiban untung dapat traktiran All You Can Eat (AYCE)
Ada satu momen tidak terlupakan bagi Adro sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah yang lebih akrab dengan rasa lapar. Yakni ketika seorang teman dekatnya ingin merayakan ulang tahun dengan beberapa teman dekatnya.
Kala itu, teman Adro yang memang dari keluarga kaya itu mengajak Adro dan dua temannya yang lain—sesama mahasiswa PTN Surabaya yang miskin—makan di sebuah restoran AYCE.
“Sebagai pelanggan Warteg dan warung sederhana di harga Rp8 ribuan, aku dan dua temanku itu bingung sekaligus seneng. Seneng karena makan gratis. Bingung karena baru kali itu aku denger ada yang namanya All You Can Eat. Jenis makanan apa itu,” ujar Adro dengan tawa geli.
Tapi ya sudah. Adro dan dua teman lainnya dari PTN Surabaya yang sama datang saja ke titik lokasi yang dikirim teman kayanya tersebut melalui share location.
“Gembel” di tengah pergaulan orang kaya, bingung sama konsep All You Can Eat
Saat menginjakkan kaki di restoran AYCE, tiga mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah tersebut tak pelak langsung malu dan minder. Bahkan kepikiran untuk balik badan—tidak jadi masuk.
Bagaimana tidak. Di parkiran, dipenuhi mobil. Di dalam restoran, penuh diisi oleh orang-orang kaya. Dengan pakaian bagus, hp bagus, dan identitas orang kaya sejenisnya.
Sementara Adro dan dua temannya lebih terlihat seperti “gembel”. Baju dan celana dengan warna pudar dan lusuh, sandal jepit murahan, dan wajah kumus-kumus seperti belum mandi berhari-hari.
“Pas temenku nyuruh ambil makanan, kami bingung lah. Jadi temenku itu udah reservasi, dia datangnya nyusul. Jadi kami tinggal ambil menu aja. Ya aku tahu All You Can Eat itu artinya kurang lebih bisa makan daging sepuasnya. Kupikir kan tinggal pesen, ternyata ambil sendiri,” tutur Adro.
Masalahnya, Adro dan dua temannya tidak tahu sama sekali jenis-jenis daging dan aneka menu yang bisa diambil. Mereka bertiga kebingungan. Alhasil, asal ngambil saja. Modal mana yang kelihatan menarik, ya itu yang diambil.
Kekenyangan sampai diam-diam membungkus untuk dibawa pulang
Karena asal memilih yang tampak menarik, meja panjang tempat mereka bertiga terisi penuh dengan menu-menu AYCE yang telah mereka ambil. Bingung cara masak dan makannya gimana? Jelas.
Tapi dengan curi-curi pandang dari sekeliling, mereka akhirnya bisa lah memasak. Walaupun agak ngawur. Yang penting terlihat matang, langsung dilahap. Lhab lheb lhab lheb sampai semua menu AYCE di meja tiga mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah itu pelan-pelan tandas.
“Itu pertama kali aku makan di restoran, pertama kali juga merasakan All You Can Eat. Rasanya pengin nangis karena saking, oh ternyata seenak itu ya, makan daging-dagingan tidak harus pakai nasi,” ucap Adro.
Saking banyaknya daging yang mereka ambil, mereka tak pelak kekenyangan. Masih tersisa beberapa yang belum dilahap.
“Karena kalau nggak habis takut didenda, sumpah, aku dan temanku itu diam-diam bungkus pakai tisu. Biar nggak ketahuan hahaha,” kata Adro dengan gelak tawa.
Kekenyangan dan kenikmatan sesaat, bangun tidur langsung berteman dengan rasa lapar lagi
Pulang dari restoran AYCE tersebut, Adro dan dua temannya sesama mahasiswa miskin PTN Surabaya seperti orang mabuk. Berjalan sempoyongan untuk mencapai kos masing-masing.
“Sisa daging itu kumakan lagi agak tengah malam, kumakan pakai mie instan,” begitu pengakuan Adro.
Bedanya dengan saat makan di restoran, daging yang ia makan di kos itu terasa agak hambar. Sebab, ia sadar, rasa kenyang dan nikmat yang baru saja ia rasakan hanya sesaat saja. Besok pagi, dan hari-hari setelahnya, ia akan kembali berteman dengan rasa lapar.
Dan memang begitu yang terjadi. Bangun tidur, perut Adro mulai keroncongan. Lapar sudah kembali menyerang. Ia harus beranjak dari kasur dengan mode survival lagi: “Ah, Warteg lagi, Warteg lagi.”
Self reward sederhana setelah dompet lebih terisi
Adro lulus kuliah dari PTN Surabaya pada 2025 lalu. Kini ia sudah bekerja. Dompetnya lumayan lebih terisi dari masa bertahan hidup selama menjadi mahasiswa penerima KIP Kuliah.
Adro mengaku, sesekali ia memberi dirinya self reward usai menjalani hari-hari dengan kerja keras: lupa waktu hingga kekurangan jam tidur.
“Kalau ada duit, ya makan AYCE, atau sekadar makan yang agak enak. Itu kalau makan pasti terngiang masa lalu: era lebih sering nyiksa diri (dengan rasa lapar) ketimbang memberi asupan yang memanjakan diri,” seloroh Adro.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa Lain Akrab dengan Kafe dan Bioskop, Saya Anak KIP Kuliah Harus Jualan Semalaman demi Bahagiakan Ortu meski Dicaci Orang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













