Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Februari 2026
A A
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau bukan karena traktiran/gratisan, seorang mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah asal PTN Surabaya—dengan uang saku pas-pasan—sepertinya tidak akan pernah merasakan makan di restoran All You Can Eat (AYCE) seumur hidupnya. 

Pengalaman pertama makan di AYCE itu pun menjadi momen kocak bagi mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah tersebut. Perpaduan antara kebingungan, kenorakan, dan aji mumpung yang menggelikan kalau dikenang. 

Hari-hari mahasiswa PTN Surabaya: berteman dengan rasa lapar

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah di PTN Surabaya, apalagi sama sekali tanpa support biaya dari orang tua, Adro (24) harus menekan penggunaan uang beasiswanya. Sebulan jatah untuk hidupnya cuma Rp700 ribu. 

Di Surabaya, untung masih mudah menemukan makanan dengan harga murah. Rp8 ribuan bahkan masih ada di gang-gang sempit perkampungan area kampus. 

“Warteg kalau kalap mesti mahal. Kalau aku di Warteg batasi diri cuma harus habis Rp10 ribu. Itu berarti dapat nasi, telur, dan sayur. Itu udah cukup,” ungkap Adro berbagi cerita belum lama ini. “Makanan murah banyak, asal tahan makan gitu-gitu aja.”

Umumnya ia makan sehari dua kali. Sering juga hanya makan sehari sekali: masak nasi sendiri, lalu beli lauk di Warteg. Makan di sore hari itu akan dibanyakin nasinya, biar kenyang sekalian, kemudian tertidur untuk menghadapi rasa lapar di hari berikutnya. 

Pelanggan Warteg ketiban untung dapat traktiran All You Can Eat (AYCE)

Ada satu momen tidak terlupakan bagi Adro sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah yang lebih akrab dengan rasa lapar. Yakni ketika seorang teman dekatnya ingin merayakan ulang tahun dengan beberapa teman dekatnya. 

Kala itu, teman Adro yang memang dari keluarga kaya itu mengajak Adro dan dua temannya yang lain—sesama mahasiswa PTN Surabaya yang miskin—makan di sebuah restoran AYCE. 

“Sebagai pelanggan Warteg dan warung sederhana di harga Rp8 ribuan, aku dan dua temanku itu bingung sekaligus seneng. Seneng karena makan gratis. Bingung karena baru kali itu aku denger ada yang namanya All You Can Eat. Jenis makanan apa itu,” ujar Adro dengan tawa geli. 

Tapi ya sudah. Adro dan dua teman lainnya dari PTN Surabaya yang sama datang saja ke titik lokasi yang dikirim teman kayanya tersebut melalui share location. 

“Gembel” di tengah pergaulan orang kaya, bingung sama konsep All You Can Eat

Saat menginjakkan kaki di restoran AYCE, tiga mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah tersebut tak pelak langsung malu dan minder. Bahkan kepikiran untuk balik badan—tidak jadi masuk. 

Bagaimana tidak. Di parkiran, dipenuhi mobil. Di dalam restoran, penuh diisi oleh orang-orang kaya. Dengan pakaian bagus, hp bagus, dan identitas orang kaya sejenisnya. 

Sementara Adro dan dua temannya lebih terlihat seperti “gembel”. Baju dan celana dengan warna pudar dan lusuh, sandal jepit murahan, dan wajah kumus-kumus seperti belum mandi berhari-hari. 

“Pas temenku nyuruh ambil makanan, kami bingung lah. Jadi temenku itu udah reservasi, dia datangnya nyusul. Jadi kami tinggal ambil menu aja. Ya aku tahu All You Can Eat itu artinya kurang lebih bisa makan daging sepuasnya. Kupikir kan tinggal pesen, ternyata ambil sendiri,” tutur Adro. 

Iklan

Masalahnya, Adro dan dua temannya tidak tahu sama sekali jenis-jenis daging dan aneka menu yang bisa diambil. Mereka bertiga kebingungan. Alhasil, asal ngambil saja. Modal mana yang kelihatan menarik, ya itu yang diambil.

Kekenyangan sampai diam-diam membungkus untuk dibawa pulang

Karena asal memilih yang tampak menarik, meja panjang tempat mereka bertiga terisi penuh dengan menu-menu AYCE yang telah mereka ambil. Bingung cara masak dan makannya gimana? Jelas. 

Tapi dengan curi-curi pandang dari sekeliling, mereka akhirnya bisa lah memasak. Walaupun agak ngawur. Yang penting terlihat matang, langsung dilahap. Lhab lheb lhab lheb sampai semua menu AYCE di meja tiga mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah itu pelan-pelan tandas. 

“Itu pertama kali aku makan di restoran, pertama kali juga merasakan All You Can Eat. Rasanya pengin nangis karena saking, oh ternyata seenak itu ya, makan daging-dagingan tidak harus pakai nasi,” ucap Adro. 

Saking banyaknya daging yang mereka ambil, mereka tak pelak kekenyangan. Masih tersisa beberapa yang belum dilahap. 

“Karena kalau nggak habis takut didenda, sumpah, aku dan temanku itu diam-diam bungkus pakai tisu. Biar nggak ketahuan hahaha,” kata Adro dengan gelak tawa. 

Kekenyangan dan kenikmatan sesaat, bangun tidur langsung berteman dengan rasa lapar lagi

Pulang dari restoran AYCE tersebut, Adro dan dua temannya sesama mahasiswa miskin PTN Surabaya seperti orang mabuk. Berjalan sempoyongan untuk mencapai kos masing-masing. 

“Sisa daging itu kumakan lagi agak tengah malam, kumakan pakai mie instan,” begitu pengakuan Adro. 

Bedanya dengan saat makan di restoran, daging yang ia makan di kos itu terasa agak hambar. Sebab, ia sadar, rasa kenyang dan nikmat yang baru saja ia rasakan hanya sesaat saja. Besok pagi, dan hari-hari setelahnya, ia akan kembali berteman dengan rasa lapar. 

Dan memang begitu yang terjadi. Bangun tidur, perut Adro mulai keroncongan. Lapar sudah kembali menyerang. Ia harus beranjak dari kasur dengan mode survival lagi: “Ah, Warteg lagi, Warteg lagi.”

Self reward sederhana setelah dompet lebih terisi

Adro lulus kuliah dari PTN Surabaya pada 2025 lalu. Kini ia sudah bekerja. Dompetnya lumayan lebih terisi dari masa bertahan hidup selama menjadi mahasiswa penerima KIP Kuliah. 

Adro mengaku, sesekali ia memberi dirinya self reward usai menjalani hari-hari dengan kerja keras: lupa waktu hingga kekurangan jam tidur. 

“Kalau ada duit, ya makan AYCE, atau sekadar makan yang agak enak. Itu kalau makan pasti terngiang masa lalu: era lebih sering nyiksa diri (dengan rasa lapar) ketimbang memberi asupan yang memanjakan diri,” seloroh Adro. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mahasiswa Lain Akrab dengan Kafe dan Bioskop, Saya Anak KIP Kuliah Harus Jualan Semalaman demi Bahagiakan Ortu meski Dicaci Orang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2026 oleh

Tags: all you cat eatayceayce surabayabeasiswaBeasiswa KIP Kuliahkip kuliahkonsep ayceptn surabayarestoran ayce
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO
Edumojok

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO
Edumojok

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.