Dalam konsumsi unggas-unggasan, bebek goreng sering keluar sebagai juara. Namun sebenarnya, masih ada sate “donal” entok di Jogja yang bisa mengalahkan bebek goreng sebagai juara bertahan.
***
Sebelum puasa, ada istilah closing-an yang dilakukan untuk menutup hari-hari akhir. Inilah yang saya lakukan untuk mengakhiri hari sebelum harus menahan lapar, yaitu dengan berburu kuliner ke Sate Donal Pak Min yang terletak di Magersari, Ngeksigondo, Kaliurang Barat, Sleman, Jogja.
Warung makan sederhana yang melawan menu makan umumnya
Selasa, 17 Februari 2026, teman saya, Hanung (23), mengajak makan setelah duduk cukup lama di sebuah coffe shop di kawasan Kaliurang. Karena bingung memilih makanan, Hanung yang berasal dari Wonogiri—tetapi sudah lebih warlok dari warga Jogja sendiri—berperan sebagai pemandu wisata dan memberi kami rekomendasi.
Rekomendasinya adalah sate yang dibuat dari olahan daging entok. Disebutnya, sate donal. Ia berada dalam daerah yang sama dengan coffe shop yang kami kunjungi saat itu.
Hanya sekitar 4 menit jarak tempuh dengan motor, kami telah tiba di sebuah warung makan sederhana yang tidak perlu nyentrik, tetapi jelas berbeda karena menu yang ditawarkannya.
“Sate bebek,” kata Hanung ketika merekomendasikan.
“Ada sate bebek?” tanya saya tidak percaya.
Jawabannya, keliru. Tidak salah, tapi tidak juga benar. Yang dimaksudkan adalah sate entok yang hampir mirip, tetapi berbeda dengan bebek.
Namun sekalipun begini, saya tidak sepenuhnya komplain. Sebab, setelah merasakan sendiri untuk pertama kali, saya akan menyarankan semua orang untuk mencoba. Meski harus menempuh hampir 1 jam perjalanan dari Kaliurang bawah, rasa yang menyapa saat mencicipi entok dalam bentuk sate sungguh membayar tunai perjuangan mencapai lokasi ini.

Tidak perlu tambahan, rasa sate entok sudah menggiurkan
“Enak,” kata Jatayu (22), teman lain yang mencoba lebih dulu saat sate dihidangkan.
“Pakai ini?” saya menunjuk bumbu kacang.
“Nggak pake juga udah enak,” katanya.
Lantas, saya langsung mencicipi dan dibuat tercengang.
Sate donal mengalahkan sate ayam yang perlu takaran bumbu kacang yang tidak terlalu lunak, tidak juga kental, untuk dapat enak. Ia juga tidak harus didampingi kecap agar tidak terlalu medhok seperti sate kambing.
Dibandingkan dengan masakan unggas sejenisnya, seperti bebek, juga jelas masih bertahan. Bebek goreng yang sering dielu-elukan, termasuk oleh saya, perlu komponen tambahan untuk dapat memenangkan pertandingan. Bebek goreng tidak akan lengkap tanpa sambal yang cocok, seperti sambal hitam, matah, atau korek.
Intinya adalah sate entok adalah kenikmatan yang disajikan dengan “jujur” dan apa adanya.

Jadi olahan entok yang direkomendasikan di Jogja
Bukan hanya saya yang ingin mengulangi pengalaman ini kembali. Ada banyak orang yang sependapat sehingga Sate Donal Pak Min Kaliurang mendapat rating 4,7 dari 268 orang di Google Maps.
Salah seorang pengguna bernama Suprihatin menuliskan, sate dari olahan daging entok ini membuatnya ketagihan. Harga yang murah sesuai dengan ukuran sate yang tidak kecil, daging yang empuk, sampai porsi nasi yang banyak, membuatnya sama seperti saya—ingin datang lagi.
“Porsinya menurutku murah banget. Satenya nggak pelit, ukurannya besar besar. Nasinya juga banyak. Untuk dagingnya empuk, nggak alot, nggak amis, pokoknya bikin ketagihan,” katanya, seperti dikutip dari ulasan maps.
Sate entok di Jogja diboyong dari Cilacap
Kisahnya, Mojok pernah menuliskan artikel ini sebelumnya. Mojok menelusuri warung sate sederhana yang terbilang unik ini.
Ternyata, pasangan suami-istri yang mendirikan usaha ini adalah abdi dalem. Mereka juga telah mempunyai usaha sejak lama, bukan sate bebek sebelumnya, tetapi tak cukup ramai.
Dagangan mereka mulai diminati saat anak pertamanya yang sedang tinggal di Kroya, Cilacap, mengusulkan untuk menjual sate dari daging entok. Kebetulan, sang anak sudah menjual makanan serupa dan mendapat penghasilan yang cukup lumayan.
“Akhirnya kami coba untuk buat di sini. Resepnya ya dari anak kami itu,” kata Suparmin.
Mencoba berjualan sate entok di Kaliurang nyatanya menjadi keputusan yang tepat di tahun 2000 itu. Peminatnya cukup banyak sebab belum banyak olahan entok di Jogja saat itu.
Dalam satu hari pada masa awal membuka usaha, warung ini bisa memotong 17-18 ekor entok yang diperoleh dari peternak di sekitar.
Hadir dalam cita rasa Jogja
Meski dibawa dari Cilacap, sate entok yang dihidangkan di Warung Sate “Pak Min” Kaliurang disuguhkan dalam versi Jogja.
Satenya dibumbui beberapa kali selama proses pembakaran untuk menghilangkan bau dan rasa amis. Ia juga ditaburkan lada saat proses pembakaran sehingga memunculkan sedikit rasa pedas.
Selanjutnya, bumbu kacang berwarna coklat kehitaman dengan potongan bawang merah disajikan terpisah. Bisa ditambahkan sebagai pelengkap, bisa juga tidak, karena rasa satenya yang sudah sedap. Ia bisa disesuaikan selera.
Sama halnya seperti cita rasa sate yang dikenal dengan bumbu dominan manis seperti kebanyakan masakan Jogja. Manis menjadi rasa yang paling pertama dikenali indera perasa saat mencicipinya, tetapi juga disajikan potongan cabai yang dapat dimakan bersama apabila menginginkan rasa pedas.
Sate bebek di sini menjadi pilihan kuliner menarik untuk dicoba. Dengan membanderol harga Rp35 ribu, ada sedikitnya dua keuntungan yang dapat dinikmati dalam satu waktu: enam tusuk sate entok yang empuk, ditemani hawa dingin di kaki Merapi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Sate Donal Pak Min Kaliurang, Racikan Lezat Penjaga Rumah Peristirahatan Sultan Jogja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














