Dalam Asuhan Nenek Miskin, Mahasiswa UNESA Bisa Lulus Cepat dengan IPK 4 hingga Bersiap Kuliah Luar Negeri

Ilustrasi - Mahasiswa UNESA bisa lulus cepat IPK 4 berkat nenek miskin (Mojok.co)

Tumbuh besar dalam asuhan nenek, seorang mahasiswa UNESA tumbuh sebagai sosok inspiratif dan membanggakan. Ia baru-baru ini mencatat prestasi sebagai lulusan tercepat S2 UNESA dengan IPK sempurna.

***

Saat berkunjung ke Surabaya pada Jumat, (9/2/2024), saya menginap di tempat seorang teman yang saat ini tengah melanjutkan studi di Islamic Study Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Sejak saya tiba di tempatnya di Wage, Sidoarjo (tidak jauh dari Terminal Bungurasih), ia tampak bergelut di hadapan laptop sembari memegangi kepala.

“Mumet, Jeh (sapaan lawas Suroboyoan, kata ganti “mas”),” ujarnya. Lalu ia pun memilih menutup laptopnya, meraih rokok di sampingnya, lalu menyulut dan mengisapnya dalam-dalam.

Teman saya itu mengaku sedang pusing-pusingnya. Betapa tidak, ia menjadi satu-satunya mahasiswa di kelasnya yang sampai saat ini belum mengajukan judul untuk tesisnya.

Pikirannya mampet, energinya habis. Karena di samping S2, ia juga masih harus mengemban tanggung jawab sebagai Waka Kesiswaan di sebuah SMP di Wage guna menyambung hidup.

“Nasibku sebenarnya nggak jauh beda sama orang ini. Aku hanya kalah soal tekad,” ujar teman saya yang yatim piatu itu sembari menunjukkan sebuah rilis dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), tentang seorang mahasiswa UNESA yatim piatu yang bisa lulus dari S2 dengan cepat dan IPK sempurna.

Cuma butuh waktu 1,4 tahun untuk lulus dari S2 UNESA

Untuk diketahui, mahasiswa UNESA yang lulus cepat dengan nilai sempurna itu bernama Mohammad Turi.

Pemuda asal Sampang, Madura itu menuntaskan masa studinya di program magister (S2) prodi Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) hanya dalam kurun waktu 1,4 tahun.

Melalui tesis berjudul, “Pengembangan Model Latihan Daya Tahan Aerobic untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama”, Turi (sapaan akrabnya) dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 4.00 dalam gelaran Wisuda ke-109 UNESA pada Kamis, (1/2/2024) lalu.

Orang tua meninggal, tumbuh dan besar dalam asuhan nenek

Di balik prestasi yang Turi torehkan, ternyata mahasiswa UNESA tersebut memiliki kehidupan yang terbilang cukup berat.

Saat masih berusia tiga tahun, kedua orang tua Turi meninggal dunia. Sejak saat itu, Turi berada dalam asuhan sang nenek dengan kehidupan penuh keterbatasan dan serba kekurangan.

Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi penghalang bagi mimpi-mimpi besar Turi.

Sebaliknya, terbiasa hidup dalam tekanan dan keterbatasan sejak kecil justru menjadikan Turi sebagai sosok yang tahan banting sekaligus memiliki tekad besar untuk mewujdukan apa yang ia impikan.

Kerja keras kuliah sambil cari uang di Surabaya

Sejak S1 hingga S2 di UNESA, Turi selalu bekerja keras, membagi waktu dan tenaga antara kuliah dan mencari uang. Agar ia masih bisa terus melanjutkan pendidikan.

“Selama berkuliah, saya juga diajak dosen-dosen untuk garap riset dan melakukan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap mahasiswa UNESA tersebut seperti yang Mojok kutip dari web resmi UNESA.

“Dari situ saya juga bisa belajar dan menambah pengalaman,” sambungnya.

Selain sering ikut riset dari para dosen, Turi juga mencari alternatif pemasukan lain dari event-event regional hingga nasional.

Capek sudah pasti. Akan tetapi, Turi sadar diri, ia tak seberuntung teman-temannya yang lain.

Turi menyadari, bagi orang seperti dirinya, tak ada waktu untuk bertenang-tenang diri jika ingin meraih impian.

“Kadang saya merasa capek bangat. Tetapi mau bagaimana lagi, ada impian yang harus saya capai,” tuturnya.

Baca halaman selanjutnya…

Kunci tetap berprestasi di tengah tekanan dan keterbatasan

6 hal yang mengantarkan mahasiswa UNESA raih prestasi

Setidaknya, ada enam hal yang menurut Turi berpengaruh besar dalam mengantarkannya meraih prestasi; lulus cepat dengan IPK 4.

Dalam Asuhan Nenek Miskin, Mahasiswa UNESA Bisa Lulus Cepat dengan IPK 4 hingga Bersiap Kuliah Luar Negeri MOJOK.CO
Muhammad Turi, mahasiswa UNESA yang menginspirasi (Dok. UNESA)

“Bisa sampai di titik ini sebenarnya karena enam hal, yakni kerja keras, komitmen, konsistensi, disiplin, berpikiran ke depan dan fokus pada diri sendiri. Itu rahasia versi perjuangan saya,” bebernya.

Selain enam faktor internal tersebut, Turi tak menampik bahwa apa yang ia capai saat ini sedikit banyak tidak lepas dari tangan-tangan baik yang mengulur padanya (faktor eksternal).

Turi mengaku, apa yang ia capai tak luput dari dorongan dan dukungan dari teman-teman dan dosen-dosennya di FIKK.

“Ada banyak sekali dosen atau guru besar inspirasi saya di kampus,” ungkap Turi.

“Dari mereka saya mendapatkan banyak wawasan dan suntikan motivasi yang membuat saya harus terus belajar dan meraih cita-cita setinggi-tingginya,” imbuhnya.

Kerasnya hidup yang Turi jalani, juga jatuh bangun yang pernah ia alami, kini berbuah manis.

Dalam kesempatan Wisuda ke-109 UNESA tersebut, Turi mendapat tawaran beasiswa S3 di UNESA.

Di samping itu, Turi sendiri saat ini tengah melakukan persiapan untuk lanjut kuliah di luar negeri, sebuah impian yang ingin Turi capai selanjutnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Pemuda Banten Diejek Hanya Pantas Jadi Kenek Angkot: Eh Tembus UGM, Kini Punya Profesi Mentereng

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version