Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Curahan Hati Mahasiswa Papua yang Kesulitan ‘Mengetuk Pintu’ Pemilik Kos di Jogja

Boby Adiputra Rajagukguk oleh Boby Adiputra Rajagukguk
23 September 2024
A A
Curahan Hati Mahasiswa Papua yang Kesulitan 'Mengetuk Pintu' Pemilik Kos di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Curahan Hati Mahasiswa Papua yang Kesulitan 'Mengetuk Pintu' Pemilik Kos di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pintu-pintu kos di Jogja sempat tertutup bagi sebagian mahasiswa asal Papua. Stereotipe dan pengalaman masa lalu yang buruk sering kali menjadi alasan utama penolakan. 

Namun, di balik tantangan ini, mereka tak henti-hentinya berjuang untuk meruntuhkan stigma dan membuka jalan bagi hubungan yang lebih baik antara mereka dan para pemilik kos.

Mojok sendiri bertemu dengan salah seorang mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) asal Papua bernama Yeka* (25). Ia mengungkapkan, pandangan negatif terhadap mahasiswa Papua seringkali disebabkan oleh pengalaman buruk dari pemilik kos sebelumnya dengan orang-orang dari Timur.

“Kalau satu yang berbuat, semuanya kena imbasnya,” tegasnya dengan nada kesal saat Mojok wawancarai Rabu (11/09/2024). 

Banyak aturan tak tertulis yang bikin mahasiswa Papua susah dapat kos

Selain stereotipe, ada hal lain yang bikin mahasiswa asal Papua di kesulitan mendapatkan kos di Jogja. 

Salah satunya, aturan tak tertulis warga setempat yang mengharuskan pemilik kos bertanggung jawab penuh atas perbuatan mahasiswa asal Timur itu.

Misalnya, sebagaimana diceritakan Yeka, apabila terdapat kerusakan atau kegaduhan yang dilakukan oleh mahasiswa Papua, maka pemilik kos tersebut yang harus bertanggung jawab.

Hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa, pertama mahasiswa Papua kerap gaduh bahkan berpotensi bikin kerusakan. Dan kedua, kalaupun kerusakan terjadi, pemilik kos harus menanggung penuh semua kerugian.

“Bagi saya kebijakan ini tidak hanya merugikan kami, tetapi juga memengaruhi pandangan warga Jogja kepada kami para mahasiswa yang tidak tahu apa apa,” ujar Yeka, mengungkapkan ketidakadilan yang ia rasakan.

Mojok juga sempat berbincang dengan salah satu pemilik kos di kawasan Pringgodani, Jogja, bernama Bekti (68), pada Jumat(6/09/2024). Ia mengungkapkan bahwa tidak semua para mahasiswa Papua berbuat buruk, sebagaimana yang dibayangkan orang-orang selama ini. 

“Meskipun saya memiliki pengalaman buruk dengan mereka, tapi bukan berarti semuanya begitu ‘kan. Buktinya mahasiswa Papua lain yang saya terima aman saja kok,” tegas Pak Bekti salah satu pemilik kos yang menerima mahasiswa Papua. 

Ia juga menambahkan, meskipun terdapat pengalaman buruk, seperti telat bayar yang kos, hal tersebut tidak hanya ditemukan dari mahasiswa Papua. Mahasiswa dari daerah lain, tak sedikit yang melakukan hal serupa.

“Toh, sama juga kan, Mas. Jadi ya ngapain harus beda-bedain mereka,” tegas Pak Bekti berusaha mematahkan stereotipe negatif tentang mahasiswa Papua.

Susah dapat kos, asrama jadi solusi

Sebagai solusi sulitnya mendapatkan kos di Jogja, beberapa mahasiswa Papua akhirnya memilih tinggal di asrama khusus yang disediakan oleh institusi atau komunitas mereka. 

Iklan

Asrama tersebut pada akhirnya menjadi “tempat aman” bagi mereka yang kesulitan menemukan kos-kosan. 

“Ada beberapa kos yang memang khusus menerima kami, karena sudah terlalu sulit mencari tempat lain,” ujar Yeka, menjelaskan situasi yang dihadapi beberapa temannya. 

Salah satunya, asrama yang pernah Yeka tempati disediakan langsung oleh USD. Hampir setahun ia tinggal di asrama sebelum akhirnya mendapatkan kos dan jadi tempat tinggalnya sampai lulus awal 2024 ini.

Selain menawarkan rasa aman, bagi Yeka, asrama juga menanamkan nilai-nilai disiplin kepada para penghuninya. Ia mengakui bahwa tinggal di asrama telah membentuk sikap dan perilaku mereka menjadi lebih baik, membuat mereka lebih sopan dan teratur. 

“Anak asrama itu pasti dianggap sopan, tapi kami tetap saja sering ditolak kalau mau ngekos di luar,” ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan. 

Saya juga pernah melihat langsung penolakan tersebut. Meskipun mereka datang dengan cara yang sopan, pemilik kos tetap menolaknya.

“Budaya kami memang suka berkelompok, tapi itu bukan berarti kami tidak mau berbaur,” kata Yeka.

Perlunya dialog terbuka demi dapat melangkah ke depan

Yeka juga sempat melakukan upaya-upaya untuk mematahkan stereotipe negatif terhadap mahasiswa Papua. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mulai membangun hubungan yang baik dengan warga. Misalnya, melalui obrolan-obrolan santai dengan masyarakat sekitar. 

Tidak hanya itu, ia juga pernah membantu pemilik kos merekomendasikannya kepada teman-temannya yang sedang mencari kos. Secara tidak langsung, Yeka juga membantu sesama mahasiswa Papua yang sedang kesulitan mencari kos.

Ke depan, Yeka pun berharap adanya dialog lebih terbuka antara mahasiswa Papua dan pemilik kos di Jogja. Baginya, cara terbaik untuk mengatasi stigma ini adalah dengan memberikan kesempatan bagi ia dan teman-temannya untuk menunjukkan bahwa mereka bisa bertanggung jawab dan hidup berdampingan dengan baik.

“Lebih bagus kalau kita tanya langsung, biar ada informasi yang jelas, bukan hanya mengandalkan pengalaman buruk masa lalu,” sarannya kepada para warga di Jogja. 

Penulis: Boby Adiputra Rajagukguk

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Suara Hati Mahasiswa UGM Asal Papua Ungkap Beratnya Kuliah di Jogja Meski Dianggap “Papua Kedua”

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 23 September 2024 oleh

Tags: Mahasiswa Jogjamahasiswa papuamahasiswa usdUniversitas Sanata Dharma
Boby Adiputra Rajagukguk

Boby Adiputra Rajagukguk

Artikel Terkait

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
unisa jogja, kekerasan dalam hubungan.MOJOK.CO
Aktual

Mahasiswa UNISA Jogja Alami Kekerasan dalam Hubungan Asmara, Kampus Ancam DO Pelaku

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.