Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah di Universitas Terbaik Malah Merasa Gagal: Kampus Sibuk Naikkan Ranking Dunia, tapi Melupakan Nasib Alumninya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Oktober 2025
A A
Gaji Fresh Graduate Alumni UI, UGM. MOJOK.CO

Ilustrasi - Alumni Kampus Besar (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di universitas terbaik, seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) tak selamanya jadi jaminan masa depan cerah. Banyak yang merasa gagal. Sebab, di saat kampus sibuk memoles diri, mereka melupakan nasib alumninya sendiri.

***

Hari itu, sekitar akhir 2024 di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, ribuan toga hitam berderet rapi. Senyum para wisudawan menyiratkan harapan besar: gelar sarjana dari kampus mentereng bakal menjadi tiket emas menuju masa depan yang lebih baik.

Salah satunya Andini (25), bukan nama sebenarnya, lulusan baru yang sudah membayangkan karier gemilang begitu keluar dari kampus berlogo makara ini. 

Namun, harapan itu nyatanya panggang jauh dari api. Setengah tahun lebih setelah lulus kuliah, jangankan dapat kerja, email lamaran kerja dibalas saja tidak.

“Kalaupun ada yang balas, isinya pesan penolakan,” kata perempuan asal Jawa Timur ini saat dihubungi Mojok, Senin (29/9/2025) malam.

“Aku pikir lulusan UI itu gampang cari kerja, ternyata sama saja,” imbuhnya nya pelan.

Orang tua jual rumah, tapi anaknya alami ratusan penolakan saat lamar kerja

Kisah Andini berawal dari pengorbanan keluarganya yang begitu besar. Dia bercerita, orang tua di kampung sampai rela menjual rumah peninggalan kakeknya agar dirinya bisa kuliah di UI, universitas yang dianggap terbaik di Indonesia. 

Harapan orang tuanya sederhana: begitu wisuda, anak mereka langsung disambar perusahaan besar, gajinya layak, dan nasib keluarga pun ikut terangkat. 

Namun, di balik toga dan foto wisuda yang dia upload ke media sosial, realitas tak seindah itu. Andini sudah mengirim lebih dari 100 lamaran kerja, sebagian bahkan tidak pernah mendapat balasan. 

“Satu kali pernah berhasil masuk tahap akhir wawancara di perusahaan multinasional, tetapi gagal hanya karena dianggap kurang berpengalaman,” ungkapnya getir.

Ironisnya, selama kuliah ia terbiasa menulis paper akademik, presentasi dengan istilah-istilah rumit, dan mengutip jurnal internasional. Tapi ketika berhadapan dengan HR, yang ditanyakan justru hal-hal sederhana: bagaimana bekerja dalam tim, bagaimana menghadapi konflik, bagaimana mengelola target penjualan. 

“Aku bahkan merasa kuliahku di UI nggak pernah menyinggung soal keterampilan praktis itu,” kata Andini. “Gelar sarjana UI tidak otomatis bikin aku lebih siap.”

Kampus sibuk kerja ranking dunia, tapi abai sama nasib alumninya

Fenomena yang dialami Andini sebenarnya bukan cerita tunggal. Laporan World Bank berjudul “Skills for the Labor Market in Indonesia” menegaskan adanya jurang antara bekal akademik lulusan perguruan tinggi dan keterampilan nyata yang dibutuhkan dunia kerja. 

Iklan

Banyak mahasiswa keluar dari kampus dengan pengetahuan teoretis. Tetapi kurang dibekali kemampuan digital, komunikasi, dan problem-solving—persis yang dituntut pasar tenaga kerja modern.

Lebih jauh, banyak kampus yang lebih sibuk mengejar peringkat internasional ketimbang mengisi jurang itu. Hampir tiap tahun kampus-kampus seperti UI, UGM, hingga Unair dan ITB merayakan posisi mereka di daftar QS World University Rankings atau Webometrics. 

Indikator yang digunakan seperti jumlah publikasi internasional, sitasi, reputasi akademik, hingga keberadaan dosen asing, menjadi tolok ukur kebanggaan. 

Bagi kampus, semakin tinggi ranking, semakin besar peluang menarik mahasiswa baru, kerja sama riset, dan dana hibah. Masalahnya, indikator-indikator itu tidak berkaitan langsung dengan nasib alumni di pasar kerja. 

“Bagiku, prestise kampus itu penting untuk branding, aku akuin. Tapi buat perusahaan tempat kita kerja nanti, yang dicari kan keterampilan praktis,” ungkap Andini.

Senada dengan UI, alumni UGM juga bernasib sama, alami mismatch

Cerita serupa juga dialami Yudha (25), alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). Berbekal lulus dengan predikat cumlaude dari salah satu program studi ilmu sosial, dia yakin bisa segera bekerja.

Ekspektasinya pun tinggi: lulus dari “kampus kerakyatan”, bisa langsung kerja. Nyatanya, butuh waktu hingga setahun dengan puluhan lamaran kerja disebar untuk berhasil mendapat pekerjaan.

Itupun, dia “cuma” dapat kontrak kerja jangka pendek sebagai tenaga administrasi. 

“Dulu waktu kuliah, saya pikir gampang banget dapat kerja. Apalagi predikat sarjana dari UGM. Nyatanya malah saya kalah bersaing dengan lulusan politeknik yang lebih terbiasa dengan skill teknis,” keluhnya.

Data tracer study salah satu fakultas di UGM pada 2024 lalu mengonfirmasi keresahan Yudha. Di antara responden jenjang sarjana (S1), sekitar 66,31 persen alumni memang sudah bekerja ketika survei dilakukan. Tetapi rata-rata waktu tunggu hingga mendapat pekerjaan tetap berkisar antara 0–4 bulan setelah lulus. 

Sebagian besar pun akhirnya bekerja di bidang berbeda dari keilmuan mereka. Artinya, gelar dari kampus ternama tidak otomatis menuntun ke pekerjaan yang sesuai, apalagi menjanjikan kestabilan.

Baca halaman selanjutnya…

Bukti nggak nyambung antara ranking kampus tinggi sama nasib alumni.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2025 oleh

Tags: alumni UGMalumni uialumni universitas indonesiamahasiswa ugmmahasiswa uipilihan redaksis1 uiUGMuiUniversitas Gadjah Madauniversitas indonesiauniversitas terbaik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal.MOJOK.CO
Ragam

Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
daftar isi dan daftar pustaka skripsi.MOJOK.CO

Daftar Isi dan Daftar Pustaka: “Sepele” tapi Bikin Saya Nyaris Tak Lulus Kuliah, Menyesal Tak Pernah Mempelajari Cara Membuatnya

5 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.