Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Ironi Kuliah UIN: Katanya Kampus Islam tapi Jadi Mahasiswa Agamis Malah Dicap Aneh, Dihakimi dan Dijauhi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Oktober 2025
A A
Ironi kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN). Katanya kampus Islam dan diisi organisasi Islam, tapi mahasiswa-mahasiswi agamis malah dijauhi MOJOK.CO

Ilustrasi - Ironi kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN). Katanya kampus Islam dan diisi organisasi Islam, tapi mahasiswa-mahasiswi agamis malah dijauhi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dari nama lembaganya saja sudah terang benderang: Universitas Islam Negeri (UIN). Di dalamnya juga ada organisasi Islam mahasiswa yang sangat mendominasi. Maka, sudah sewajarnya jika ada sebagian banyak mahasiswa yang ingin menunjukkan identitas ke-Islamannya saat kuliah di kampus Islam tersebut. Menjadi mahasiswa agamis.

Namun, label “kampus Islam” faktanya tak memberi kesan “nyaman” bagi orang Islam sendiri. Identitas keagamaan justru menjadi alasan untuk dicibibir bahkan dijauhi.

Bercadar di Universitas Islam Negeri (UIN) kok dicurigai

Jika diminta, Aisyah (26), bukan nama asli, berani menunjukkan apa dalil-dalil tentang cadar atau busana panjang yang dia dan teman-temannya kenakan. Namun, tidak ada ruang diskusi untuk itu. Tahu-tahu ada wacana pihak kampus, UIN tempatnya kuliah, hendak melarang mahasiswi mengenakan cadar di kelas.

Boleh mengenakan cadar di luar kelas. Kalau di dalam kelas, ya harus dilepas. Kira-kira begitu.

Wacana itu mulai mencuat kala pada Maret 2018 UIN Sunan Kalijaga, Jogja, hendak melarang cadar di lingkungan akademik mereka. Lalu wacana makin menguat di sejumlah UIN pasca tragedi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya pada Selasa, (13/5/2018) silam.

“Saya tidak bercadar. Saya hanya mengenakan pakaian syar’i (serba panjang dan tertutup) sesuai sunnah Nabi Saw. Waktu itu, bukannya marah, beberapa teman saya yang bercadar menangis. Sedih. Karena dicurigai, orang-orang yang menutup wajah seperti di lingkaran kami kok kesannya menyembunyikan kejahatan,” ujar Aisyah, Minggu (19/10/2025).

Lebih sedih lagi, mereka yang mencoba menerapkan praktik Islam secara kaffah sejak dari busana, malah didiskriminasi di kampus yang terang-benderang mencatut label “Islam” sebagai nama institusi.

Sejumlah teman di forum kajian Aisyah bahkan bertekad: Jika larangan bercadar itu benar-benar diterapkan, mereka tak segan memilih keluar saja dari UIN. Daripada menggadaikan prinsip ber-Islam yang mereka pegang teguh.

Jadi Islam malah dipandang aneh di kampus Islam

Wacana tersebut pada akhirnya memang batal berlaku. Gelombang penolakannya terlampau besar. Namun, cara pandang sejumlah mahasiswa di UIN terhadap mahasiswi bercadar tak berubah.

Aisyah dan teman-temannya kerap merasa selalu menerima tatapan aneh. Di kelas pun, ketika Aisyah mencoba berargumen—dalam forum diskusi—dengan membawa poin-poin syariat, eh banyak mahasiswa yang bisik-bisik tak suka.

“Lucu sekali. Menjadi Islam malah terasingkan di kampus Islam,” ujar Aisyah dengan tawa sinis.

Aisyah juga mendengar selentingan-selentingan tidak menyenangkan terhadap forum kajiannya. Padahal forum kajiannya fokus mengajak anggota untuk lebih dekat dengan Allah Swt, sepenuh hati menjalankan sunnah-sunnah Nabi Saw. Tapi selalu dianggap menyebarkan paham radikal: Ber-Islam secara kaku.

“Biarlah cara ibadah kami spaneng. Karena kami merasa, bahkan dalam situasi mencoba khusyuk dalam beribadah pun, itu masih belum cukup untuk menebus dosa-dosa kami, baik yang kami sadari atau tidak. Rasulullah Saw saja, kekasih Allah Swt, dijamin masuk surga, tiap hari istikamah beristigfar seribu kali. Takut kalau Beliau berbuat salah pada Allah Swt,” beber Aisyah.

Universitas Islam Negeri (UIN): kampus Islam atau kampus ormas?

Tak hanya dari kalangan mahasiswi. Kalangan mahasiswa yang mencoba tampil agamis pun merasakan hal serupa. Misalnya yang dirasakan oleh Zaid (25), bukan nama asli.

Iklan

Zaid kini merasa lebih diterima. Karena setelah lulus dari UIN pada 2021 silam, dia mengajar di sebuah SMP Islam yang sejalan dengan kaidah ber-Islam yang Zaid pegang.

Kini Zaid merasa lebih leluasa mengenakan isbal (celana tak sampai mata kaki), menumbuhkan jenggot dan membiarkannya terurai panjang, serta menyelipkan kalimat-kalimat tasbih dalam setiap ucapannya. Keleluasaan itu tak ia dapat selama kuliah di UIN.

“Saya sebelum masuk UIN sudah bersiap, akan bersinggungan dengan model Islam yang bermacam-macam. Tapi ternyata banyak dari teman-teman yang justru tidak siap dengan kehadiran mahasiswa seperti saya,” ucap Zaid.

Mirip dengan Aisyah dan teman-temannya, Zaid dianggap sebagai sosok kaku dan tidak menyenangkan. Alhasil, dia tidak punya banyak teman di luar organisasi dakwah yang dia ikuti.

“Kami selalu disindir tentang Islam moderat. Misalnya, atas beberapa hukum Islam, saya selalu memberi pendapat mutlak: dosa atau tidak, haram atau makruh bahkan haram. Urusan pilih yang dosa atau tidak, pilih yang haram atau makruh, kan terserah. Cuma kan ketetapan hukumnya mutlak,” beber Zaid.

“Kami selalu dikritisi soal moderat itu oleh kelompok yang membawa label ormas Islam besar. Bro, ini Universitas Islam Negeri, bukan kampus ormas ijo,” sambungya.

Ngaku Islam tapi menolak kebenaran Islam

Cara pandang Zaid yang mencoba menegakkan syariat itu justru dinilai tidak toleran dan bahkan mengarah pada radikal. Lucu saja bagi Zaid, dituding tidak toleran oleh orang yang tidak mau menerima kebenaran.

“Itu ibarat ayat di Qur’an (Q.S al-Baqarah: 34):

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ۝

Ingatlah ketika Kami (Allah) berkata pada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir. Kira-kira begitu,” ujar Zaid.

Tak hanya dicibir, tapi juga dijauhi

Pada akhirnya Aisyah dan teman-temannya, juga Zaid, harus menghadapi keterasingan. Tak cuma dicibir, mereka juga cenderung dijauhi. Tidak hanya di kampus, tapi juga di lingkungan asal.

“Aku punya teman. Dulunya terbuka. Pakai hijab masih kelihatan dada. Pas kuliah di UIN dan ikut kajian kami, dia sadar dan belajar menutup aurat. Pas pulang kampung, katanya di kampungnya dia dianggap sesat, dijauhi tetangga dan kerabat,” kata Aisyah.

Aisyah dan teman-temannya sejatinya tidak ingin membangun tembok hanya karena (misalnya) sesimpel berbeda urusan busana. Tapi orang-orang lain malah merasa tak nyaman dengan keberadaan orang seperti Aisyah.

Anehnya, lanjut Aisyah, dia yang diajuhi, tapi malah orang lain menuding kelompok Aisyah menutup diri. Sehingga cap sesat pun tersemat.

“Padahal, walaupun nggak banyak, saya juga berteman kok dengan mahasiswi lain yang tidak bercadar. Tapi memang, uniknya di UIN, yang dinormalisasi itu bukan orang yang berpenampilan agamis. Melainkan yang bersolek dan menunjukkan lekuk tubuh,” tutup Aisyah.

Ada organisasi mahasiswa Islam, tapi jauh dari Islam

“Kalau aku, setidaknya tidak munafik. Terus terang soal hukum. Karena ada kelompok mahasiswa yang katanya moderat, militan di sebuah organisasi mahasiswa berlabel Islam, tapi jauh dari Islam,” kritik Zaid.

Kata Zaid, di UIN ada organisasi Islam untuk mahasiswa. Cukup besar dan dominan di kampus. Yang diusung, selain pergerakan, selalu narasi toleransi hingga aswaja.

Uniknya, bagi Zaid, nyaris tak ada cerminan Islam rahmatan li al-alamin yang organisasi Islam itu gembar-gemborkan. Adanya: persekusi atas organisasi mahasiswa lain (termasuk ke organisasi dakwah Zaid), huru-hara, dan diskusi yang hanya fokus pada kaderisasi alih-alih pada kajian ke-Islaman mendalam.

“Aku nggak ada masalah kami berbeda busana misalnya. Aku cingkrang—kalau pinjam istilah mereka—sementara mereka jeans. Yang aku sangsikan adalah, kalau ke mana-mana bawa peci, minimal ya jaga salat. Tapi, salat saja bisa diabaikan hanya untuk rapat atau diskusi yang berlarat-larat. Mokel saat puasa, sudah biasa,” sindir Zaid.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA:Realitas Mahasiswa dan Mahasiswi UIN, Tampak Agamis di Kampus tapi di Luar Mengerikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2025 oleh

Tags: kampus islammahasiswa UINmahasiswi bercadarorganisasi mahasiswaorganisasi mahasiswa islampilihan redaksiuinuniversitas islamuniversitas islam negeri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal.MOJOK.CO
Ragam

Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.