Cerita Mahasiswa UGM Jadi Joki Prakerja Demi Biaya Kuliah, Hasil Sebulan Dua Kali UMR Jogja

Gen Z Broken Home asal Jakarta Sukses Jadi ‘Joki Prakerja’, Lulus UGM Tanpa Bantuan Duit Orang Tua.mojok.co

Ilustrasi Cerita Mahasiswa UGM Jadi Joki Prakerja Demi Biaya Kuliah, Hasil Sebulan Dua Kali UMR Jogja (Mojok)

Seorang mahasiswa UGM sudah sejak 2021 lalu membuka jasa sebagai joki Prakerja. Dalam sebulan, ia bisa mengantongi “upah” hampir dua kali UMR Jogja. Dari penghasilannya ini, ia bisa lulus kuliah tanpa sepeser pun bantuan uang orang tuanya.

Bagi Andi* (24), mahasiswa UGM asal Jakarta, semua harus bisa diuangkan untuk bertahan hidup di kerasnya perantauan. Jualan Netflix pernah ia lakukan, dan nyatanya cukup membantunya tetap berpenghasilan selama pandemi Covid-19. Selepasnya, ia memilih menjadi joki program Prakerja karena ternyata lebih menghasilkan.

Cerita bermula sekitar pada pertengahan 2021 lalu, saat pandemi Covid-19 sedang hebat-hebatnya. Hampir setiap hari, tetangga kosnya mengeluh karena selalu gagal lolos program Kartu Prakerja. “Awalnya enggak tahu apa itu Prakerja dan mengapa tetanggaku itu sampe segitunya kecewa karena gagal lolos,” kisah Andi kepada saya, Minggu (24/12/2023) akhir tahun lalu.

Berniat membantu, Andi pun mencari tahu. Ia riset kecil-kecilan soal apa itu Prakerja, bagaimana mekanisme pendaftaran, bagaimana cara lolos, dan sebagainya. Dia pun mencoba peruntungan mendaftarkan tetangga kosnya itu di gelombang berikutnya.

“Ternyata lolos. Akhirnya aku suruh bantu-bantu lagi. Sebagai imbalan aku dikasih setengah dari insentif Prakerja yang dia dapat.”

Makin banyak orang yang minta tolong

Nyatanya, desas-desus tangan ajaib Andi yang berhasil meloloskan tetangganya ke program Prakerja itu langsung jadi buah bibir. Tetangga kos lain–yang mayoritas pengangguran akibat pandemi–pun berbondong minta bantuannya.

Melihat ada peluang, mahasiswa UGM ini pun menyeriusi bidang perjokian tersebut. Ia mulai dengan mendata satu-satu calon kliennya, mengumpulkan berkas dan identitas mereka, hingga membuat perjanjian bermeterai. Kata Andi, meski ini sifatnya “nolongin”, tapi tetap saja harus ada profesionalitas karena melibatkan uang yang tak sedikit.

Di luar dugaan, ternyata ada 10 orang yang minta bantuannya. Total jumlahnya bertambah lagi menjadi 12 orang. Semua orang ini Andi tolong. Mayoritas dari mereka adalah tetangga kos, meski beberapa orang ada yang dari luar.

Hebatnya, 12 orang ia bantu itu semuanya lolos. Mahasiswa UGM ini pun mengaku siap-siap panen cuan kala itu. Sebab, berdasarkan perjanjian, ia berhak menerima separuh dari hasil insentif Kartu Prakerja.

Penghasilan bulanan mahasiswa UGM ini dua kali UMR Jogja

Secara teknis, Andi tak berhenti di tahap mendaftarkan saja. Dalam program Prakerja, ada beberapa pelatihan dan workshop daring yang wajib diikuti para peserta agar insentif bisa cair.

“Jadi secara teknis aku juga gantiin mereka di acara pelatihan dari via Zoom. Mengerjakan tes juga yang sebenarnya soal tesnya sederhana banget,” kata Andi.

Sebagai informasi, insentif dari Prakerja adalah sebesar Rp600 ribu tiap bulan. Ia cair sebanyak empat kali. Artinya, berdasarkan perjanjian, dalam sebulan Andi bisa mengantongi Rp300 ribu dari tiap klien. Ini belum termasuk insentif survei sebesar Rp50-100 ribu per survei.

Jika kita hitung, setidaknya tiap bulan mahasiswa UGM ini bisa mengantongi Rp3,6 juta dari total 12 klien yang ia bantu. Termasuk insentif-insentif lain, jumlahnya bahkan bisa mencapai Rp4 juta.

Jumlah ini berarti dua kali lipat UMP DIY, yang pada 2022 lalu–saat Andi aktif menjoki–angkanya berada di Rp1,8 juta. Lumayan, bukan?

Baca halaman selanjutnya…

Mampu beli barang-barang mewah dan lulus kuliah tanpa bantuan ortu.

Bisa beli barang-barang mewah 

Mahasiswa UGM ini menyebut, kehidupannya benar-benar berubah sejak ia menjadi joki Prakerja. Bagaimana tidak, kesulitan-kesulitan yang ia alami sejak datang ke Jogja tak lagi dia rasakan.

Paling sederhana saja, dia sudah tak susah lagi buat makan sehari-harinya. Tagihan kosnya, yang dulu pernah ngaret, kini sudah tidak ia khawatirkan lagi. 

“Dulu makan aja susah. Sekarang tinggal milih aja mau makan di mana,” kelakar Andi.

Barang-barang berharga juga mampu ia beli. Sejak jadi joki Prakerja, Andi membeli ponsel dan laptop baru untuk menunjang kuliahnya.

Lulus kuliah di UGM tanpa bantuan orang tua

Lebih penting lagi, Andi juga mampu bertahan hidup di Jogja sampai lulus kuliah. Sebelumnya, kisah Andi ini pernah Mojok muat dalam liputan “Jadi Joki Prakerja, Gen Z Broken Home Jakarta Bisa Lulus UGM Tanpa Kiriman Duit Orang Tua”.

Sejak awal kuliah di Jogja, kehidupan mahasiswa UGM ini amat struggle. Kedua orang tuanya–yang tiba-tiba bercerai–tidak mau lagi mengurusi perkara uang kuliahnya. Padahal, Andi dapat UKT Rp2,2 juta per semester. Hal tersebut bikin dia down, bahkan sempat berpikir mengundurkan diri dari UGM meski baru awal masuk.

Namun, berkat menjadi joki Prakerja ini, ia mampu bertahan di kerasnya perantauan. Hingga lulus kuliah di UGM pada akhir 2023 pun, semua biaya dia tanggung sendiri. Tak ada sepeser pun andil kedua orang tuanya. 

“Soal duit ini haram atau halal ayo berdebat. Toh, jadi joki juga tetep ada usahanya kan? Paling enggak Prakerja itu lebih berguna dari orang tuaku,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Nasib Ironis Mahasiswa UGM Jadi Joki Skripsi, Udah Lulusin Banyak Orang tapi Dirinya Malah Enggak Lulus-Lulus

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

Exit mobile version