Kampus yang berkelanjutan bukan sekadar tampak “hijau” dari luar, melainkan mendorong mahasiswanya untuk turut aksi di lapangan sebagai agen perubahan. Isu ini menjadi topik penting dalam agenda UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM).
***
Sekitar 350 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkumpul di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM pada Selasa (15/9/2026). Dalam pertemuan itu, mereka membahas soal “Advancing Sustainable Campuses through Governance, Digitalization, and Integrated Performance”.
Topik itu menjadi penting dalam ajang pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia atau UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026, guna menegaskan peran perguruan tinggi sebagai bagian dari proses keberlanjutan.
Urgensi ini semakin terasa di tengah tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Misalnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada beberapa bulan terakhir akibat kondisi iklim serta aktivitas manusia. Guna mengatasi masalah tersebut, perguruan tinggi seharusnya dapat berperan lewat riset dan teknologi.
Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, berharap kampus hijau dapat menjadi center of excellence yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebijakan, serta teknologi dengan kebutuhan masyarakat.
“Kolaborasi dapat dilakukan melalui KKN Tematik, magang, rehabilitasi lahan, konservasi, perhutanan sosial, serta pengembangan keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Kearifan Kampus Hijau dalam falsafah Jawa
Keberlanjutan sejatinya telah mengakar kuat dalam kearifan lokal, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Menurutnya, keberlanjutan sama halnya dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana.
Kearifan tersebut mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada aturan, kelembagaan, kepemimpinan, pengawasan, dan kesediaan menahan kepentingan jangka pendek demi keselamatan masa depan.
Jogja sendiri mendapat julukan sebagai Kota Pendidikan, artinya ia memiliki posisi strategis untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai laboratorium peradaban hijau. Di dalamnya, ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, teknologi tidak sekadar menjadi inovasi, dan mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi tumbuh sebagai generasi yang memahami tanggung jawab merawat kehidupan.
“Kampus Hijau diharapkan mampu mendorong pengurangan emisi, pengelolaan air, ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, mobilitas rendah karbon, serta riset yang menjawab persoalan ekologis secara nyata,” ujar Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti yang mewakili Sri Sultan dalam sambutannya di UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026.
Pemeringkatan untuk membandingkan praktik baik
Namun, komitmen tanpa pengukuran data yang transparan hanya akan berjalan senyap. Di sinilah digitalisasi UI GreenMetric berperan sebagai instrumen yang menerjemahkan niat keberlanjutan ke indikator yang dapat diukur.
Mulai dari penilaian program, yang kemudian dipantau melalui data. Hasilnya, bisa dilihat dari perubahan perilaku. Untuk mewujudkan itu semua, digitalisasi dapat memperkuat transparansi dan membantu seluruh unsur kampus hijau bergerak dalam arah yang sama.
Ketua Panitia UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026, Indra Wijaya Kusuma, mengatakan digitalisasi adalah jembatan penting agar berbagai upaya keberlanjutan di bidang lingkungan, energi, sampah, transportasi, pendidikan, dan tata kelola dapat berjalan efektif sekaligus terukur.
“UI GreenMetric tidak semata-mata menjadi ajang pemeringkatan melainkan dapat menjadi tolok ukur bagi perguruan tinggi untuk belajar, membandingkan praktik baik, sekaligus memperbaiki kinerja keberlanjutan,” tegasnya.
Dengan demikian, angka dan indikator tidak berhenti sebagai capaian administratif, tetapi menjadi dasar untuk melihat perubahan yang benar-benar terjadi di lingkungan kampus hijau.
Program Kampus Hijau harus memberikan dampak berkelanjutan
Lebih dari itu, Ketua UI GreenMetric Vishnu Juwono menegaskan penilaian perguruan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi pada kemampuannya mengubah perilaku dalam skala besar. Misalnya, perubahan penggunaan listrik di kampus hijau yang membuat sivitas akademika sadar untuk mengurangi konsumsi energi.
Artinya, penilaian utama dilihat dari perubahan kebiasaan ribuan mahasiswanya. Seberapa jauh program kampus hijau mereka memberi dampak jangka panjang, sehingga pengetahuan dan perilaku tersebut berpotensi terus hidup ketika mereka kembali ke masyarakat.
“Karena itu, keberlanjutan tidak dapat bergantung pada satu proyek atau segelintir orang yang memiliki kepedulian. Seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari tata kelola, fasilitas, laboratorium, kantin, anggaran, hingga proses pembelajaran, perlu bergerak sebagai satu ekosistem keberlanjutan,” kata Vishnu.
Pada akhirnya, pemeringkatan bukan garis finis. Ia menjadi cermin untuk melihat sejauh mana sebuah kampus bergerak dan apa yang masih harus diperbaiki. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan komitmen keberlanjutan tetap hidup dalam keputusan dan kebiasaan sehari-hari.
Sebab, kampus yang benar-benar hijau bukan hanya yang tampak hijau dari luar. Kampus hijau adalah kampus yang mampu menyalakan perubahan—dari ruang kelas, laboratorium, dan lingkungan kampus hingga kehidupan masyarakat. Seperti filosofi urip iku urup, ilmu pengetahuan semestinya menjadi cahaya yang memberi manfaat dan menjaga kehidupan.
Sumber: Humas Pemda DIY
BACA JUGA: Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
