Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur (dok. Pemkot Jogja)

Di kawasan perkotaan yang padat, memiliki pekarangan luas untuk bercocok tanam sering kali hanya menjadi angan-angan. Lahan yang ada umumnya sudah habis tertutup oleh permukiman, aspal, atau beton cor. Namun, warga Kampung Wirobrajan, Kota Jogja, punya cara tersendiri untuk menyiasati keterbatasan tersebut.

Alih-alih menyerah pada keadaan, Kelompok Tani Swa Katon Asri di wilayah ini memilih untuk memanfaatkan setiap jengkal ruang yang tersisa. Tembok-tembok kampung, teras kecil, hingga barang bekas disulap menjadi area pertanian yang produktif. 

Hasilnya, mereka mampu menciptakan sebuah langkah nyata untuk mewujudkan ketahanan pangan langsung dari gang pemukiman warga.

Tembok dan galon bekas jadi lahan pengganti

Di area Pendopo Sumarah, Jalan Setiyaki, warga tidak menanam sayur di atas hamparan tanah gembur layaknya petani di pedesaan. Mereka menggunakan media tanam alternatif seperti wall planter (kantung tanam dinding), polybag, hingga wadah dari galon air mineral bekas.

perkebunan di jogja.MOJOK.CO
Warga Wirobrajan, Jogja, menggunakan media tanam alternatif. Antara lain wall planter, polybag, hingga wadah dari galon air mineral bekas. (dok. Pemkot Jogja)

Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini, menjelaskan bahwa metode ini adalah jalan keluar paling masuk akal bagi warga kota.

Belum lama ini, kelompoknya membuktikan hal tersebut dengan melakukan penanaman 1.200 bibit sawi dan selada air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok kawasan tersebut.

Wall planter menjadi solusi karena lahan di perkotaan terbatas. Kami memanfaatkan tembok-tembok yang ada untuk media tanam sehingga tetap produktif,” jelas Yantini.

Berdiri sejak 2017 dan mulai aktif di Pendopo Sumarah pada Februari 2022, kelompok ini tidak hanya menanam satu atau dua jenis sayuran.

Memanfaatkan ragam media tanam vertikal dan wadah daur ulang tersebut, mereka sukses membudidayakan cabai, terong, tomat, seledri, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman buah seperti pepaya, pisang, mangga, sawo, dan kelengkeng.

Pertanian skala kampung yang dikelola warga Wirobrajan terbukti memberikan dampak ekonomi langsung. Sayuran dan buah yang ditanam bukan sekadar penghias tembok gang, melainkan ditujukan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan harian keluarga. (dok. Pemkot Jogja)

Menghemat pengeluaran dapur lewat panen mandiri

Pertanian skala kampung yang dikelola warga Wirobrajan terbukti memberikan dampak ekonomi langsung. Sayuran dan buah yang ditanam bukan sekadar penghias tembok gang, tetapi juga ditujukan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan harian keluarga.

Menurut Yantini, kemandirian dan kesehatan warga adalah salah satu target utama dari aktivitas kelompok taninya.

“Kami mengikuti program pemerintah untuk ketahanan pangan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mandiri dengan mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang organik dan tentunya lebih sehat,” kata Yantini.

Kegiatan urban farming di Wirobrajan ini tidak didesain sebagai program musiman. Kegiatan ini juga dibantu oleh beberapa universitas.

Lebih dari itu, hasil panen yang didapat juga membawa perputaran ekonomi kecil di dalam kampung. Sayuran segar tersebut tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi dijual kembali kepada warga sekitar dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan standar harga pasar.

“Hasil panen terong dijual sekitar Rp4.000 per kemasan kepada warga RW 4. Tanaman dalam polybag juga dipasarkan dengan harga mulai Rp25.000, sedangkan tanaman terong dalam media tanam dapat mencapai Rp50.000,” tambahnya.

Misi jangka panjang menjadi pusat edukasi di Jogja

Kegiatan urban farming di Wirobrajan ini tidak didesain sebagai program musiman. Sejak mendapat pembinaan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, serta menjalin kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan kelurahan, kemantren, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Polbangtan—kawasan ini mulai diproyeksikan sebagai sentra pembelajaran.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Sagiyo, yang mulai mendampingi kelompok ini sejak Januari 2026, melihat adanya potensi pengembangan yang besar. Setelah berhasil menghidupkan kembali aktivitas pertanian yang sempat vakum, fokus utamanya kini adalah inovasi edukasi bagi masyarakat luas.

Ke depan, Sagiyo menargetkan kawasan tersebut akan dilengkapi dengan variasi komoditas yang lebih beragam, seperti jagung, kacang tanah, padi, hingga bawang merah. Tujuannya agar area ini semakin lengkap dan representatif sebagai destinasi edukasi pertanian perkotaan.

“Tujuan kami bukan hanya menanam untuk konsumsi rumah tangga, tetapi menjadikan tempat ini sebagai pusat belajar. Warga bisa belajar cara menanam, pengendalian hama, hingga budidaya tanaman di sini,” pungkas Sagiyo.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: warta.jogjakota.go.id

BACA JUGA: Mengupas Misi Masjid Deresan Sleman yang Suka Borong Sayur dari Petani, Punya Banyak Gebrakan yang Layak Ditiru Masjid Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version