Tidak melulu di hari Jumat (sebagaimana lazimnya kebiasaan umat Islam di Jawa), Wapin (27) dan Emma (25) terbilang sering bertandang (ziarah) ke makam sang ibu. Dibuka dengan mengirim doa, lantas berlanjut dengan curhat-curhat panjang atas hari-hari yang mereka lalui.
Meski ada yang menyebut hal tersebut adalah kegiatan sia-sia bahkan ada yang menganggapnya lebay, tapi bagi keduanya, di sana lah mereka tetap bisa merasa pulang dan diterima.
Soal ikhlas memang masih sangat amatir
Belakangan ini, Wapin mengunggah konten video dirinya tengah curhat di hadapan pusara sang ibu di balik perkampungan bergang sempit di Surabaya, Jawa Timur. Menggunakan template CapCut, Wapin melengkapi konten videonya tersebut dengan latar lagu yang baru-baru ini viral: “Sesi Potret” – Enu Ft. Ari Lesmana.
“Kubertamu di rumah barumu. Tak ada kamu. Hanya papan dan namamu. Mana ocehan, wewangian khasmu. Jarak ini terlalu jauh, kalau rindu aku tak mampu.” Begitu penggalan lirik lagu tersebut yang belakangan nyaring terdengar di beranda media sosial Wapin. “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir. Manusia ini kehilanganmu…”
Ya, bagi pemuda pekerja swasta di Surabaya tersebut, ia memang masih sangat amatir perkara mengikhlaskan kepergian ibunya yang berpulang pada 2020 silam—di tengah mencekamnya situasi pandemi Covid-19.
Oleh karena itu, ia bodo amat ketika ada saudara yang memberi komentar: Kamu kok belum ikhlas-ikhlas, kasihan ibumu di sana. Intensitas Wapin ke makam sang ibu memang tinggi. Nyaris setiap hari. Bagi saudara Wapin, itu menandakan ketidakikhlasan. Jika Wapin tidak ikhlas, konon almarhumah akan merasa sedih dan susah di alam sana.
“Bahkan ada yang bilang, tren bikin konten itu lebay. Apalagi buat cowok yang dituntut kuat. Dan, sesering apapun aku ke makam ibu, itu tidak akan membangunkan beliau kembali. Jadi aku diminta ikhlas,” ujar Wapin, Kamis (4/6/2026).
“Tapi kenyataannya, aku memang belum bisa ikhlas. Kehilangan sosok ibu itu patah hati terbesar laki-laki, dan bagiku nggak akan bisa pulih,” sambungnya.
Merawat rumah barunya sebagaimana merawat rumah lamanya
Bagi Wapin, ah, tepat sekali lirik lagu “Sesi Potret”: Makam bukan sekadar gundukan tanah, tapi rumah baru tempat ibu mengistirahatkan tubuhnya.
Oleh karena itu, ia menganggap, sering-sering datang (ziarah) ke sana sama dengan sering-sering pula mendatangi rumah baru ibu. Ia yakin, seandainya beliau masih hidup, ketika suatu saat Wapin berumah tangga sendiri, pasti beliau akan sangat senang jika sering-sering dikunjungi olehnya.
“Tujuanku ke makam beliau, selain berdoa, curhat, ya bersih-bersih, merawat rumah barunya,” tutur Wapin.
Ia ingat, semasa kecil hingga dewasa, sang ibu—sebagai ibu rumah tangga—selalu sibuk bersih-bersih rumah, merawat rumah kecil yang mereka tinggali dengan sebaik-baiknya. Semata agar seluruh anggota keluarga (Wapin, ibu, bapak, dan adiknya) selalu merasa nyaman.
Tidak jarang ibunya meminta Wapin dan adik perempuannya untuk bantu-bantu merawat rumah. Kendati teramat sering Wapin merasa ogah-ogahan.
“Sekarang kami yang tersisa di rumah akhirnya selalu punya kebiasaan bersih-bersih rumah bersama. Sebagaimana merawat rumah lama yang pernah beliau tinggali, kini aku merasa berkewajiban membantu ibu merawat rumah barunya,” beber Wapin.
Bahkan ketika tidak ada daun-daun kering yang menumpuk di sekitar pusara, Wapin tetap mencoba merawatnya. Sesederhana sering membawakan bunga, karena semasa hidup, ibunya memang senang merawat bunga-bunga.
Curhat kegagalan di makam ibu: sepintas sia-sia, tapi memberi rasa lega
Lebih dari itu, “hobi” Wapin ziarah ke makam ibunya seringkali karena ia ingin curhat: mencurahkan banyak hal yang sudah ia lalui di hari-hari setelah ibu pergi.
Kangen dan kesedihan karena tidak bisa lagi mengecup punggung tangan kanan ibu sebelum dan sesudah bepergian, menatapnya sibuk di dapur atau menyiram bunga-bunga, mendengar suaranya saat membangunkan Subuh, atau sekadar duduk berdua di ruang tengah sembari menonton acara televisi kesukaannya. Itu lah yang selalu Wapin curahkan di hadapan pusara ibunya.
Lebih dalam, seringkali sembari menangis, Wapin mencurahkan hari-hari tidak menyenangkan ia harus ia hadapi: kegagalan atas suatu hal hingga omongan orang yang menyakitkan.
“Sepintas seperti sia-sia. Karena beliau nggak akan merespons curhatanku. Tapi entah kenapa aku merasa lega selepas ziarah. Karena meski begitu, beliau tetap menjadi sebaik-baik tempatku pulang sebagai anak kecil cengeng,” tutur Wapin.
“Sama seperti ketika ia hidup. Ia mendengar, membesarkan hati, dan yang paling penting: tidak menghakimi. Minimal, sekarang, di hadapan makam ibu aku masih bisa curhat apa saja, tanpa takut dihakimi,” tutupnya.
Makam ibu: tempat curhat dan pulang dari pekerjaan
Sama halnya, Emma juga memposisikan makam sang ibu di sebuah sudut desa di Kabupaten Semarang sebagai rumah barunya. Hakikat rumah adalah tempat pulang, maka ke makam sang ibu lah Emma sering pulang.
“Ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan pada 2022. Sebenarnya kecelakaan ringan, naik motor terus diserempet. Awalnya dibawa ke rumah sakit masih nggak apa-apa, tapi kemudian serangan jantung,” kenang perempuan asal Kabupaten Semarang tersebut.
Emma anak kedua dari dua bersaudara. Semenjak kakak perempuannya berumah tangga sendiri, Emma lah yang menghabiskan banyak waktu bersama ibunya.
Kepada ibunya lah, dulu, Emma kerap mengeluhkan banyak hal. Misalnya, tentang seorang teman yang menyebalkan hingga rekan kantor dan lingkungan kantor yang kejam.
“Dulu, setiap merasa tersakiti, mood jelek di kampus atau pas kerja, pikiranku adalah cepet-cepet pulang. Pengin curhat sambil nangis ke ibuku. Terus beliau akan nenangin, kadang juga abis itu masakin bakmi rebus kesukaanku,” beber Emma.
Ibu Emma sudah pindah di rumah barunya. Memang hanya segunduk tanah tanpa dapur yang bisa digunakan untuk memasak bakmi atau masakan ibu lain yang selalu dibuat dengan sentuhan kasih sayang tulus. Akan tetapi, rumah tetap lah rumah, tempat ia bisa pulang kapanpun.
Bagi Emma, pulang ke pusara ibunya tetap memberi energi besar. Selepas ia curhat sambil menangis, ia selalu membayangkan: bagaimana selama ini ibunya selalu meyakinkan: jahat kepada orang lain akan mempersulit hidup, maka tetaplah berbuat baik meski orang lain selalu bersikap buruk.
Meski kini sang ibu tidak bisa mengatakannya langsung, tapi energinya masih selalu bisa ia rasakan dari pusara kecil di sudut desa. “Begitu lah energi ibu. Selalu penuh penerimaan dan menopang anaknya agar tetap berdiri. Selalu menenangkan hati,” katanya.
Menemani sepanjang waktu meski dianggap keliru
Emma ingat, dulu sebelum ibunya selalu berpesan pada anak-anaknya: Kelak kalau kalian sudah hidup masing-masing, tetap temani ibu ya. Bukan semata menemani dengan selalu hadir di sisinya. Tapi sesederhana selalu berkirim kabar misalnya jauh, atau menyempatkan menjenguknya sesekali ketika sempat.
“Karena ibuku bukan orang egois. Ia membebaskan anak-anaknya. Asal anaknya nggak lupa. Gara-gara sinetron, beliau itu takut ditelantarkan anaknya, ditaruh di panti jompo misalnya.” Saat menceritakan ini, air mata Emma menetes, tapi disertai tawa.
Saat mengingatnya, momen saat ibunya berpesan demikian di sebuah momen lebaran, respons bapak, Emma, dan kakak perempuannya memang tergelak. Karena ketakutan tersebut berangkat dari sinetron.
“Aku berada di lingkungan agama yang kurang mewajari sering-sering ziarah ke makam ibu. Takutnya mengarah pada musyrik karena pemahaman, orang mati ya sudah, terputus dengan dunia, urusannya tinggal sama Tuhan,” kata Emma.
Namun demikian, sering-sering ziarah ke makam ibu adalah upaya Emma menunaikan janji pada almarhumah: selalu menemaninya sepanjang waktu. Sosok perempuan lembut tersebut memang sudah terputus dari dunia, tapi rumahnya tetap ada atas dunia ini, sehingga baginya: sering-sering menyambangi rumahnya (pusaranya) apa salahnya?
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
