Bagi orang yang lebih terbiasa naik kereta api—walaupun KA ekonomi Sri Tanjung—tentu akan punya kesan berbeda ketika naik bus ekonomi seperti Sumber Selamat. Seperti seorang penumpang yang berbincang dengan saya sepanjang perjalanan Jombang-Jogja pada Minggu (29/3/2026).
Saat bus ekonomi Sumber Selamat berhenti di depan stasiun Jombang, kondisi dalam bus sebenarnya sudah penuh sesak penumpang. Semua kursi sudah penuh. Banyak penumpang berdiri berdesakan dari depan hingga belakang. Tapi karena mengejar waktu, ya sudah saya tetap naik dengan risiko akan berdiri lama.
Berdiri Mojokerto-Madiun hingga mata kunang-kunang
Setiap penumpang yang berdiri pasti berharap bisa lekas duduk. Masalahnya, sejak melaju dari Jombang, alih-alih banyak penumpang turun di pemberhentian berikutnya (Kertosono atau Nganjuk), ternyata kernet bus masih terus menjejal penumpang.
Saat bus ekonomi Sumber Selamat melintasi Nganjuk, seorang penumpang laki-laki di belakang saya, sudah berkali-kali mengembuskan napas panjang.
“Aku berdiri dari Mojokerto, Mas. Mau ke Klaten,” ujar laki-laki 28 tahun bernama Ekananta saat saya tanya sudah berdiri dari mana? “Mata sudah kunang-kunang.”
Wajah Ekananta sudah tampak pucat. Ia berkali-kali tampak menyenderkan kepala ke lekukan lengan sembari berpegangan pada rak bagasi.
Untungnya, ketika bus memasuki Madiun, arus keluar-masuk penumpang lebih imbang. Yang keluar banyak, yang masuk juga banyak.
Sehingga, ketika penumpang turun, ada sejumlah kursi kosong. Di momen itu, saya lantas gercep mengambil duduk yang ternyata juga diikuti oleh Ekananta. Ia langsung menyandarkan punggungnya dengan napas lega.
User kereta api (KA) ekonomi sebenarnya lebih nyaman dengan kursi bus Sumber Selamat
Sebenarnya hari itu bukan kali pertama Ekananta naik bus Sumber Selamat. Beberapa kali ia menggunakan moda transportasi tersebut untuk perjalanan Klaten-Mojokerto. Bedanya, dalam beberapa kali kesempatan itu, ia belum pernah merasakan momen sial harus berdiri sepanjang Mojokerto Madiun.
Selain itu, selama ini memang ia lebih sering menggunakan kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung. Tarifnya toh sama: Rp88 ribuan.
“Sebenarnya ya, Mas, yang enak dari bus Sumber Selamet ini walaupun ekonomi tapi AC-nya berfungsi baik. Kondisi dalam bus juga nggak buruk. Armadanya terawat lah,” kata Ekananta.
“Misalnya, aku paling suka sama kursinya. Kursinya kan enak buat nyandar, nggak tegak seperti Sri Tanjung. Terus jarak antarkursi juga agak renggang, sehingga kaki bisa sedikit selonjor,” sambungnya.
Tentu berbeda jika naik kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung. Sudahlah kursi tegak lurus. Dengkul juga nekuk lurus dengan potensi tabrakan dengan dengkul penumpang lain di depan.
Ada jeda untuk rokok sebatang
Bagi perokok seperti Ekananta, salah satu yang bisa ia nikmati dari naik bus ekonomi Sumber Selamat adalah: biasanya akan berhenti agak lama di terminal tertentu. Biasanya menyesuaikan jam makan kru bus.
Momen tersebut biasanya digunakan penumpang untuk ke toilet. Ekananta pun begitu. Selain itu, setelah dari toilet, sebelum kembali naik bus, ia punya jeda waktu untuk mengisap rokok barang sebatang.
“Kan di dalam bus penumpang nggak boleh rokok. Jadi pas berhenti, kesempatan buat rokok. Sepanjang perjalanan nggak bisa rokok sepet aja, Mas, hahaha,” kata Ekananta.
Sementara kalau di kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung, aturannya sudah jelas kalau penumpang tidak boleh merokok di dalam gerbong kereta. Selain itu, durasi berhenti yang terlalu singkat tidak memungkinkan bagi penumpang untuk sebats dulu.
Tapi tetap pilih kereta api (KA) ekonomi karena tidak mau “tersiksa”
Apalagi setelah kejadian berdiri sepanjang Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Caruban-Madiun, Ekananta merasa: memang rasa-rasanya ia lebih cocok naik kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung ketimbang bus Sumber Selamat.
Memang, kursi bus Sumber Selamat lebih nyaman. Ada jeda waktu juga untuk merokok. Akan tetapi, berdiri—terlebih dengan berdesakan—rasa-rasanya tidak akan mampu Ekananta ulangi. Wong pengalaman pertama itu saja ia sudah hampir pingsan kok.
“Sudah nggak apa-apalah dengkul linu dan punggung sakit karena kursi tegak-berhadapan Sri Tanjung. Tapi yang penting bisa duduk,” kata Ekananta. “Toh kalau capek duduk, biasanya aku jalan ke toilet. Sekadar jalan, berdiri sebentar, terus balik lagi.”
Selain itu, rasa-rasanya ia lebih nyaman kereta api ekonomi karena perjalanan di atas rel terasa lebih aman. Berbeda dengan ketika naik bus Sumber Selamat: gaya nyopir yang ugal-ugalan (salip sana, salip sini, serobot kanan, serobot kiri) membuat penumpang di dalam kursi harus ikut oleng kanan-kiri.
Dalam posisi duduk saja situasi tersebut terasa tidak nyaman. Apalagi saat berdiri.
Naik bus Sumber Selamat terasa lebih panjang, nggak sampai-sampai
Meski melaju kencang, jalan raya jelas berbeda dengan rute rel kereta api. Bagi Ekananta, naik bus Sumber Selamat terasa menjadi perjalanan yang sangat panjang. Sehingga capeknya kerasa.
Duduk terlalu lama membuat bokong terasa panas. Terus karena cara melaju bus Sumber Selamat yang ugal-ugalan, membuat Ekananta merasa tidak aman.
“Ya kan sering ada berita, bus ini sering kecelakaan sampai ada istilah Sumber Bencono. Makanya, kadang aku merasa, kok nggak sampai-sampai. Maksudku, kalau sudah sampai tujuan, kan aku lega, ternyata aku selamat,” kelakar Ekananta.
Ekananta sempat memberi argumen ini pada seorang teman yang merupakan user loyal bus Sumber Selamat. Si teman langsung menyarankan: kalau mau sensasi cepat sampai, naiklah bus Sumber Selamat di jam malam.
Namun, saran itu tidak menarik bagi Ekananta. Kalau masih bisa naik Sri Tanjung, ya sudah naik Sri Tanjung saja lah. Sama-sama Rp88 ribuan, setidaknyamannya kursi Sri Tanjung, masih lebih nyaman naik kereta api ekonomi ketimbang bus Sumber Selamat.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Alasan Bus Sumber Selamat Tetap Jadi Andalan meski Ugal-ugalan, Orang yang Naik Punya Siasat biar “Aman” karena Celaka Mengancam Kapan Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
