User bus ekonomi seperti Sumber Selamat jelas kagok ketika pertama kali menikmati fasilitas kereta makan (kantin) di dalam kereta api. Awalnya memang bisa buat bergaya, tapi ujungnya bikin merana usai memesan dan membayar makanan.
***
Sebagai orang yang juga merupakan user bus ekonomi seperti Sumber Selamat, ekspektasi saya soal makan di kereta api sudah saya turunkan. Sebab, sebagaimana di fasilitas transportasi umum sejenis (seperti terminal, tol, dan bandara), sering kali makanannya overprice.
Saya sendiri toh sebenarnya bukan tipikal orang yang suka jajan atau beli-beli makanan ketika di perjalanan. Untuk antisipasi lapar, sebelum berangkat bepergian saya pasti akan beli makan dulu atau minimal beli camilan berat. Jadi camilan itu bisa saya makan sewaktu-waktu tanpa harus beli-beli lagi.
Tapi bagi user bus ekonomi, sensasi makan di kantin kereta api tetap membuat penasaran. Alhasil, momen pertama kali ada di gerbong tersebut disambut dengan antusias dan ekspektasi tinggi.
Kalau naik bus ekonomi Sumber Selamat, cuma ada pecel Madiun dan nasi rawon sekepal
Kalau naik bus ekonomi seperti Sumber Selamat, tentu akan familiar dengan keberadaan pedagang asongan. Umumnya menjajakan air mineral dan aneka minuman dingin, tahu asin, lumpia, lemper, hingga bakpao.
Namun, di beberapa titik pemberhentian, ada juga loh pedagang asongan yang menjajakan makanan berat. Misalnya, di Terminal Madiun, pasti ada pedagang pecel yang mengasong bungkus-bungkus pecelnya di dalam bus. Di Terminal Madiun pula, ada pedagang yang menawarkan bakso hingga sate Ponorogo.
Pemandangan semacam itu sudah sangat akrab bagi Prian (25) tiap menempuh perjalanan Jogja-Kertosono menggunakan bus ekonomi Sumber Selamat. Hanya memang dia tidak membeli. Mentok-mentok membeli tahu asin sebagai pengganjal perut.
“Aku pernah dua kali naik bus selain Sumber Selamat. Naik bus PATAS Eka. Itu kan bayar karcisnya sudah sekalian kupon makan di Ngawi. Ya dua kali itu makan nasi di tengah perjalanan naik bus. Itu pun menunya nggak ada yang bikin kenyang. Nasi rawon cuma sekepal, dagingnya cuma tiga potong kecil-kecil,” ujar Prian, Selasa (24/2/2026).
Tergoda makan di kantin kereta api karena lapar dan buat gaya
Prian bukannya tidak pernah naik kereta api sama sekali. Beberapa kali ia juga naik kereta api. Prian bukannya tidak tahu pula kalau kereta api memiliki kantin yang bisa dituju. Bukan sekadar pramugrai yang datang menawarkan menu dari gerbong ke gerbong, kursi ke kursi.
“Awalnya memang nggak tertarik. Tapi karena aku beberapa kali lihat konten kuliner di kereta, aku jadi tertarik kan. Apalagi, momen waktu makan pertama kali di kantin kereta api itu aku juga lagi lapar,” ungkap Prian.
Hal pertama yang Prian lihat saat memasuki kantin kereta api adalah: beberapa tempat duduk+meja makan yang persis di dekat jendela. Dalam kepalanya, cocok sekali untuk membuat foto atau video yang nanti bisa diunggah di media sosial. Tapi Prian kepalang salah sangka dengan menu-menu yang tersaji.
Kesalahan karena hanya lihat daftar dan gambar menu
Saat datang ke meja pesanan, mata Prian langsung tertuju ke daftar menu. Mencoba mencari yang menarik. Sampai kemudian pilihan ia jatuhkan ke nasi goreng, karena rasa-rasanya ia hanya cocok makan menu tersebut.
Kesalahan Prian adalah: ia hanya fokus pada menu, tapi telat menyadari harga yang harus dibayarkan untuk menebus nasi goreng itu.
“Ternyata harga nasgor Rp35 ribu. Rata-rata segitu sampai Rp40 ribu. Aku kan kaget. Waduh, masa nasgor semahal itu,” ucap Prian.
Tapi ya mau bagaimana lagi. Dia sudah kepalang tanggung memesan dengan penuh percaya diri. Tapi baru dia sadari kalau sebenarnya ada harga lebih mura: Popmie.
User bus ekonomi Sumber Selamat makan di kantin kereta api: terlanjur berekspektasi berujung merana
Karena sudah kepalang memesan, Prian pun hanya bisa berekspektasi: kalau harganya segitu mahal, ah sepertinya nasi gorengnya bukan sebagaimana nasi goreng yang kerap ia beli di gerobak pinggir jalan.
Bagi user bus ekonomi Sumber Selamat kaum mendang-mending seperti Prian, nasi goreng seharga Rp35 ribu jelas terlampau mahal. Sebab, biasanya, di gerobak pinggir jalan, ia bisa membeli nasi goreng di harga Rp12 ribu hingga Rp15 ribu.
“Tapi pas menu terhidang, saya makin nyesel sudah pesan nasgor. Ternyata ekspektasiku aja yang terlalu tinggi. Rasa biasa saja, lebih bikin kenyang nasgor gerobakan juga,” ucap Prian sembari terkekeh mengingat momen pertama kali makan di kantin kereta api tersebut.
Tapi ternyata bukan hanya Prian yang pernah merasakan hal yang sama. Sebab, saat menceritakan pengalamannya tersebut, beberapa teman Prian sembari tertawa juga mengakui hal serupa.
Misalnya, oke beli bakso seharga Rp25 ribu dari yang kalau sehari-hari beli di harga Rp10 ribu-Rp15 ribu. Oke, beli cuanki karena kalau di gambar menu tampak sangat menggoda.
Akan tetapi, menu-menu itu berujung memberi penyesalan bagi kaum mendang-mending dan berkantong tipis seperti Prian dan teman-temannya. “Memang, kalau masih di level mendang-mending nggak usah coba-coba deh. Belum cocok mengeluarkan duit agak banyak untuk sesuatu yang nggak sesuai ekspektasi. Tapi ya sudah lah, aku tetep love KAI,” pungkas Prian diiringi tawa.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













