Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Trauma Pelihara Kucing: Penuhi Ego di Masa Kecil, Saat Dewasa Malah Merasa Bersalah usai Anabul Kesayangan Mati

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
26 Maret 2026
A A
Trauma memelihara kucing sampai meninggal. MOJOK.CO

ilustrasi - trauma pelihara kucing karena merasa tak bertanggungjawab. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di Mojok, ada seorang reporter bergaya punk yang selalu memamerkan foto kucingnya kepada kami di kantor. Dengan bangga, ia biasa bercerita kalau Klingi—nama kucingnya yang ia rawat, pernah menangkap tikus dan diberikan kepada sang pemilik. Atau cerita lain saat Klingi tak suka saat dibelikan baju natal. Atau cerita lain lagi, saat Klingi sakit dan harus dibawa ke dokter. 

Meski menghabiskan sebagian gajinya, reporter bergaya punk itu tetap berharap Klingi sehat dan hidup lebih lama. Namun, kejadian naas menimpa Klingi, H-3 sebelum Lebaran. Saya yang memang suka dengan kucing dan sering mendengar ceritanya, ikut sedih saat rekan saya memberitahu bahwa Klingi telah berpulang pada Selasa (17/3/2026). 

Saya syok, apalagi dia. Sampai-sampai, lewat tulisannya yang berjudul “Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncakan, tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya akan Tetap Melakukannya” ini, saya yakin banyak pemilik hewan peliharaan yang ikut berduka membacanya. Begitu pula Khumairoh* (29), yang tiba-tiba mengirim pesan kepada saya dan menceritakan Ciko—nama kucingnya yang sudah meninggal dan kini menjadi penyesalannya bertahun-tahun.

Ciko, kucing pemalu yang membawa warna dalam keluarga

Khumairoh bercerita, sejak SD ia tak punya teman bermain di rumah. Ayah dan ibunya sibuk bekerja, sementara kakaknya sudah remaja dan lebih asyik bermain dengan teman sebayanya.

Oleh karena itu, Ciko adalah sahabat sekaligus keluarga yang ia cintai. 

Perempuan asal Surabaya itu ingat betul perjumpaan dirinya dengan Ciko. Malam itu, ibunya menunjukkan sebuah foto hewan berbulu warna abu-abu yang nampak kecil dan lucu. Tubuhnya masih kecil, sekitar 5 bulan baru lahir.  

“Ini kucing teman ibu, baru lahir. Adek mau?” tanya ibu Khumairoh.

Tanpa ragu sedikit pun, Khumairoh mengangguk dan langsung menjemput Ciko malam itu juga ke rumah teman ibunya. Saat ia dekati, Ciko langsung bersembunyi. Rupanya, sifat Ciko amat pemalu dibandingkan saudara-saudaranya.

Sebetulnya, Khumairoh tak sampai hati memisahkan Ciko dengan saudara-saudaranya yang sebenarnya sedang sakit, tapi teman ibunya tadi berhasil meyakinkan Khumairoh karena ia sudah tak sanggup mengurus lebih dari 5 kucing. 

Khumairoh pun berjanji dalam hati akan membawa Ciko kembali jika ia tidak nyaman di rumahnya nanti, agar tak terpisah dari ibunya yang sudah tua. Benar saja, hampir 3 hari, Ciko tak kunjung bisa beradaptasi. Ia masih takut keluar dan bersembunyi di kolong-kolong lemari.

Teman ibu Khumairoh berujar itu adalah hal yang wajar. Bahkan ia, diberitahu kalau tak lama setelah Khumairoh membawa Ciko pulang, saudara-saudaranya meninggal.

“Aku syok, sedih, nggak mau Ciko meninggal juga,” ujar Khumairoh.

Kepergian Ciko yang meninggalkan luka mendalam

Alhasil, Khumairoh yang masih berusia 12 tahun pada saat itu diminta untuk sering mengajak Ciko bermain dan tak lupa memberinya makan. Sampai akhirnya Ciko luluh dan mendekati Khumairoh dengan sendirinya. Ia bahkan sering menemani ibu Khumairoh salat subuh dan duduk mendengkur di samping sajadahnya. 

Ayah Khumairoh yang awalnya tidak suka dengan kucing, seiring waktu kerap memanggil nama Ciko untuk memberinya makan. Begitu pula kakak Khumairoh yang akhirnya lebih sering mengajak Ciko bermain hingga membuat Khumairoh sedikit iri.

Iklan

“Kesannya kayak kakakku lebih sayang Ciko dibanding aku, hehehe,” kelakarnya.

Khumairoh hanyalah satu dari sebagian orang yang menganggap kucing adalah keluarga mereka. Sebuah survei dari Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA) pada tahun 2025 menunjukkan, bahwa 99 responden mereka menganggap hewan peliharaan mereka sebagai bagian dari keluarga. Artinya, lebih dari sekadar hewan peliharaan.

Bagi Khumairoh sendiri, kehadiran Ciko menghapus perasaan kesepiannya di dalam rumah, sekaligus memberi warna pada keluarganya yang sejatinya penuh kasih. Tak sampai di situ, penelitian di atas juga menyebut bahwa dukacita atas kematian hewan peliharaan bisa sangat nyata. Bahkan, bisa lebih menyakitkan daripada kehilangan anggota keluarga manusia. 

Hal ini yang tidak terpikirkan Khumairoh sebelumnya. Saat dia merasakan kesedihan mendalam akibat kehilangan hewan peliharaan. Istilah ini biasa disebut sebagai pet bereavement.

Merawat kucing butuh kesiapan mental

5 tahun sudah Ciko tinggal bersama keluarga Khumairoh, tapi akhirnya ia meninggal. Menurut Khumairoh, Ciko jadi tak mau makan dan tidak seaktif biasanya. Khumairoh pun merasa bersalah karena tak melihat tanda-tanda itu sebelumnya. 

“Seiring bertambahnya usia, aku jadi jarang di rumah dan perlahan-lahan mengabaikan Ciko. Aku yang masih bocah SMA pada saat itu merasa sibuk luar biasa. Sore aktif kerja kelompok dan malamnya ikut ekstrakurikuler,” tutur Khumairoh.

Sampai esoknya, kala matahari belum terbenam sepenuhnya, Khumairoh menemukan Ciko sudah tidak bernyawa. Ia terkapar sendirian di ruang tengah. Khumairoh yang tadinya mengira Ciko hanya tidur, berusaha menggerak-gerakkan tubuh Ciko yang kurus. Namun, Ciko tetap bergeming. 

“Aku merasa hancur. Apa pun alasannya, aku terus merasa bersalah bahkan hingga kini, seandainya aku punya uang untuk bawa dia ke vet,” ujar Khumairoh sembari terisak, suaranya bergetar di panggilan telepon, “biarlah orang menghakimi (saya), karena memang benar adanya. Kalau tak becus, tak usah sok-sokan merawat kucing!” lanjutnya.

Sampai sekarang pun, Khumairoh mengaku menyesal memelihara kucing tanpa rasa tanggung jawab dan meninggalkan Ciko sendirian. Bahkan kejadian itu, kini menjadi trauma bagi dirinya.

Penelitian dari RSPCA di atas juga menyebut, hal itu bisa terjadi dan dialami manusia usai kehilangan hewan peliharaan.

“Pengalaman masa kanak-kanak kehilangan hewan peliharaan dapat berlangsung lama, sehingga kenangan akan hewan peliharaan yang dicintai sebagai anggota keluarga dapat melekat pada anak-anak hingga dewasa,” ujar Elizabeth Peel dan Damien W.Riggs dikutip dari Jurnal Death Studies, Rabu (25/3/2026).

Benar saja, seiring Khumairoh dewasa, ia masih takut untuk merawat kucing meski ingin sekali mengadopsi. Ia sadar merawat kucing adalah komitmen jangka panjang yang membutuhkan biaya, waktu, dan perhatian khusus.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: kucingkucing meninggalMerawat Kucingpelihara kucing
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Memelihara kucing.MOJOK.CO
Catatan

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja
Catatan

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO
Esai

Jangankan Membunuh Kucing, Jenderal Pembunuh Manusia Aja Kita Maafkan

19 Agustus 2022
cara merawat kucing berdasar jenisnya.
Kilas

Kiat Merawat Kucing Berdasarkan Jenisnya: Bulu Panjang, Pendek, hingga Rumahan

11 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Trauma memelihara kucing sampai meninggal. MOJOK.CO

Trauma Pelihara Kucing: Penuhi Ego di Masa Kecil, Saat Dewasa Malah Merasa Bersalah usai Anabul Kesayangan Mati

26 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.