Tahlilan ibu-ibu sejatinya merupakan aktivitas yang sangat positif. Diniatkan untuk saling merekatkan hubungan antar ibu-ibu di sebuah lingkup RT. Apalagi kegiatan tersebut berbalut “tahlilan”, di mana kalimat-kalimat tahlil, tasbih, dan istighfar dilafalkan secara serentak.
Persoalannya kemudian, esensi positif tersebut menjadi kabur ketika ada oknum ibu-ibu yang menyelipkan sesuatu yang tidak selayaknya ada di tengah-tengah lantunan kalimat-kalimat thayyibah tersebut.
Tahlilan ibu-ibu di desa: ruang keagamaan khusus untuk perempuan
Tidak setiap daerah punya tradisi tahlilan khusus ibu-ibu. Umumnya memang dikhususkan untuk laki-laki atau campur di momen kematian seseorang.
Namun, di Rembang, Jawa Tengah, ternyata ada sebuah desa yang punya kegiatan tahlilan khusus untuk perempuan. Yang ikut umumnya ibu-ibu di rentang usia 27 sampai 50-an tahun.
Pokoknya sudah menikah saja. Jadi kalau di bawah usia 27 tapi sudah menikah, biasanya sudah bisa ikut kegiatan tersebut.
“Acaranya rutin sebulan sekali. Digilir, misalnya bulan ini rumah siapa, bulan depan di rumah siapa. Kegiatan utamanya ya tahlil, baca Yasin, kirim doa untuk almarhum-almarhumah saudara yang sudah meninggal,” jelas Wanah (30), Minggu (25/4/2026), seorang ibu muda, ibu rumah tangga, yang sehari-hari mengurus satu anak dan kerap mengikuti kegiatan keagamaan di desanya.
Ada sistem kas dalam forum tersebut. Tiap bulan, setiap jemaah memasukkan uang kas yang nantinya akan diberikan ke jemaah lain yang mendapat giliran menjadi tuan rumah.
“Setiap setahun sekali ada juga kegiatan ziarah Wali Sanga, tapi khusus ibu-ibu,” sambung Wanah. Ia menegaskan, bahwa sebenarnya konsep dari kegiatan tersebut sangat positif.
Para ibu-ibu desa, termasuk Wanah, awalnya antusias karena kecenderungan orang di desanya memang suka dengan kegiatan keagamaan. Jangankan sekadar tahlilan, kalau ada pengajian atau selawat bersama—walaupun di desa sebelah atau pusat kecamatan—pasti rombongan datang kok.
Kalau Wanah sendiri mengaku sangat antusias kalau sudah ziarah Wali Sanga. Tentu saja karena nyari pahala ziarah, mencari barokah dari para wali di tanah Jawa, dan itung-itung sembari jalan-jalan.
Sayangnya, tahlilan ibu-ibu di desa justru menjadi ajang flexing: dari pakaian, bedak, hingga perhiasan
Meski begitu, atas saran suami, Wanah kemudian memutuskan keluar dari forum tahlilan ibu-ibu di desa tersebut.
Sejak awal bergabung pada 2020 lalu, Wanah sebenarnya sudah mafhum ketika mendapati banyak ibu-ibu selalu datang ke tahlilan dengan dandanan menor. Lipstik dan bedak tebal, pakaian bermotif ramai dan mencolok, rentengan gelang di tangan, hingga kalung menggantung di leher yang ditonjol-tonjolkan. Kesannya seperti orang mau karnaval.
Sebenarnya sudah kelihatan flexing secara halus. Tapi, Wanah mewajari karena hanya pada kesempatan itulah ibu-ibu di desa bisa mengenakan bedak, pakaian baru, dan perhiasan mereka. Karena sehari-hari amat jarang diajak keluar-keluar oleh suami.
“Kalau saya terbiasa sekadarnya, Mas. Saya lulusan pesantren, diajari nggak usah menor-menor seperti itu,” ungkap Wanah.
Namun, lambat-laun Wanah mendapati, flexing sejumlah ibu-ibu mulai menyinggung dan membuat insecure ibu-ibu lain yang tidak berdandan serupa.
Misalnya, dari paling remeh: mereka flexing dengan cara menceritakan jenis pakaian hingga harga perhiasan yang dipakai. Paling ngawur, menurut Wanah, ada yang tega blak-blakan menyinggung ibu-ibu lain seperti Wanah yang dandanannya biasa saja: Pakaianmu kok itu-itu aja, mbok sesekali pakai baju yang bagus.
“Itu menyinggung dan merendahkan. Akhirnya, satu persatu memilih jarang ikut. Tetep bayar kas, tapi nggak ikut. Alasannya, niatnya tahlilan ibadah, malah pakaian disinggung-singgung. Kalau saya, atas saran suami, ya sudah saya keluar,” beber Wanah.
Mengorek-ngorek aib bahkan memfitnah orang lain
Flexing bukan satu-satunya alasan kenapa Wanah akhirnya memutuskan keluar. Trigger paling besar sebenarnya datang dari aktivitas toksik yang sangat bertentangan dengan nilai keagamaan dan moral yang Wanah pegang.
Sebab, lambat laun Wanah mendapati, ada sekelompok ibu-ibu yang justru menggunakan momen tahlilan tersebut sebagai momen untuk gibah.
“Ya siapa saja bisa dikorek-korek aibnya. Bahkan yang mengarah ke fitnah pun ada. Bahkan ya, Mas, kalau ada satu anggota jemaah tahlilan ibu-ibu yang nggak hadir, itu juga bakal jadi bahan rasan-rasan,” terang Wanah.
Acara utama justru gibah, tahlil terkesan hanya menjadi sisipan
Keresahan serupa diungkapkan oleh Nisaul (27), perempuan asal Jombang, Jawa Timur. Ternyata di daerahnya juga ada tradisi semacam itu.
Nisaul memang tidak ikut dalam kumpulan tahlilan ibu-ibu. Tapi ibunya termasuk yang aktif. Dari kesaksian sang ibu, gibah justru seolah menjadi acara utama dalam tahlilan ibu-ibu, sementara tahlilan malah terkesan hanya menjadi sisipan.
“Kalau cerita ibuku ya, pas awal datang di lokasi tuan rumah, belum dimulai kan acaranya sambil nunggu jemaah lain datang. Itu nyambinya ya gibah,” ujar Nisaul.
“Terus nanti sehabis tahlilan, sambil makan suguhan, lanjut gitu. Ngeri memang. Ibuku sebenarnya ngelus-ngelus dada juga. Beliau kan bukan tipikal orang yang suka gosip, jadi kalau ada yang gibah beliau diam. Baru nyambung kalau ngomongin yang lain,” imbuhnya.
Hanya saja, kata Nisaul, ibunya belum berpikir hendak keluar. Karena memang sudah menjadi tradisi. Jadi sebagai etika bermasyarakat, ibu Nisaul masih bertahan di forum tersebut.
Kebiasaan mencela bingkisan hingga kondisi tempat tuan rumah bikin nurani teriris
Bagi ibu Nisaul, seturut pengakuannya, ada satu lagi kebiasaan dalam tahlilan ibu-ibu yang sangat mengiris nurani ibu Nisaul. Yakni kebiasaan mencela.
Ibu Nisaul kerap tidak habis pikir. Kok bisa ya ada ibu-ibu lain yang dengan entengnya mencela bingkisan pemberian si tuan rumah.
“Jadi kan kalau ada acara, tuan rumah menyediakan berkatan. Kalau ibuku, biasanya memang dia nggak hanya mengandalkan duit kas, tapi seringnya tombok sendiri juga buat ngasih berkatan yang agak variatif lah,” jelas Nisaul.
“Tapi ada juga yang, karena keterbatasan, akhirnya cuma mengandalkan uang kas. Jadinya berkatannya ya seadanya. Nah, ini pasti dicela-cela. Kalau bahasa Jawa-nya ya dipaido,” tambahnya.
Ibu Nisaul sering diam ketika ada obrolan tersebut. Namun, kalau sedang sangat kesal, ibu Nisaul biasanya mencoba menyampaikan secara halus: tidak seharusnya dicela, wong mampunya memang segitu. Yang penting kan ibadahnya: tahlil.
Forum dalam forum akhirnya tidak terhindarkan
Atas situasi semacam itu, ada imbas lain yang tidak terhindarkan, yakni munculnya forum dalam forum.
Sebab, ternyata, di dalam forum tahlilan ibu-ibu tersebut, ada fraksi-fraksi yang sangat kentara antara satu kelompok dengan kelompok lain. Alhasil, muncullah lingkaran dalam lingkaran.
“Dalam satu forum, tapi di dalamnya ada kotak-kotak. Kelompok si ibu A, kelompok si ibu B, dan iku benar terjadi. Ibuku bingung lah, karena beliau kan penginnya ya jangan gitu-gitu amat lah,” kata Nisaul.
Pada akhirnya, Nisaul dan ibunya melihat, kegiatan yang harusnya bisa menyambung silaturahmi dan menambah pahala, justru menjadi penyebab kerenggangan dan menumpuk dosa. Sangat disayangkan.
“Bukan kegiatannya buruk ya. Kegiatannya positif. Tapi sikap orang justru bikin kegiatan baiknya jadi nggak sesuai,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
