Waktu pertama kali mencari kos, keberadaan dapur bersama biasanya menjadi salah satu daya tarik utama. Bayangannya selalu ideal. Ada dapur berarti bisa masak sendiri, makan lebih sehat, dan yang paling penting, pengeluaran bisa ditekan jauh lebih hemat.
Hal ini menjadi pertimbangan krusial bagi para anak rantau, entah itu mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan maupun pekerja yang sedang menabung.
Namun, di balik ekspektasi yang manis itu, fasilitas dapur bersama seringkali menyimpan sisi lain yang jauh dari kata ideal. Alih-alih menjadi tempat menghemat pengeluaran, fasilitas yang dibanggakan oleh ibu kos ini justru sering berubah menjadi tempat menguji kesabaran dan cerminan karakter asli para penghuninya.
Banyak penghuni suka nyolong barang dan makana di dapur kos
Salah satu masalah paling umum dan menyebalkan di dapur kos adalah barang yang tiba-tiba hilang. Rina (25), seorang pekerja swasta di Jogja, sangat paham rasanya menghadapi situasi ini. Sebagai pengguna aktif dapur dan kulkas bersama, Rina sering mendapati barang-barangnya raib tanpa jejak.
Kehilangan yang terjadi biasanya tergolong sepele. Sebutir telur yang lenyap dari kulkas, camilan yang bungkusnya sudah terbuka dan isinya tinggal separuh, hingga stok sayuran yang tiba-tiba berkurang.
“Jujur, yang bikin emosi itu bukan harga barangnya. Harga telur sebutir atau sisa sayur itu nggak seberapa,” kisah Rina, Selasa (12/6/2026).
“Tapi, rasa kesalnya itu datang karena kita merasa privasi kita dilanggar. Ditambah lagi, giliran ditanya baik-baik, nggak ada satu pun penghuni kos yang mau ngaku. Bikin jengkel banget.”
Barang sepele sampai yang mahal disikat habis
Saya sendiri, sebagai sesama penghuni kos yang sering menggunakan dapur bersama, dapat memvalidasi dan sering mengalami hal tersebut. Bedanya, saya seringkali lebih memilih untuk menoleransinya.
Kalau yang hilang cuma satu saset kopi instan atau sisa sayur, saya memilih untuk merelakannya daripada harus buang-buang tenaga untuk mencari tahu.
Namun, cerita dari beberapa teman di kantor membuktikan bahwa “tingkat kejahatan” di dapur kos bisa menyentuh level yang lebih parah. Beberapa teman mengeluh sangat terganggu karena barang yang hilang sudah masuk kategori mahal.
Ada yang pernah kehilangan kue yang baru dimakan secuil, hingga sekotak besar frozen food yang baru dibeli. Kalau situasinya sudah begini, bagi saya, membiarkan dan menoleransi perilaku tersebut jelas bukan pilihan yang bijak.
Bikin muak karena anak kos yang jorok
Selain urusan kulkas yang rawan maling, hal lain yang paling mengganggu saya secara pribadi adalah berhadapan dengan penghuni kos yang jorok. Menggunakan dapur bersama berarti harus siap mental melihat kekacauan yang ditinggalkan orang lain.
Sangat sering saya menemukan sisa masakan yang tidak dibersihkan oleh pemakainya. Makan tidak langsung dicuci, noda minyak berceceran di sekitar kompor, hingga sampah sisa potongan sayur yang dibiarkan berserakan di atas meja dapur.
Pemandangan paling klasik tentu saja adalah tumpukan panci atau piring kotor di wastafel. Alasan andalan yang sering dipakai biasanya adalah, “Sengaja direndam air dulu biar keraknya rontok.” Padahal, cucian itu direndam berhari-hari sampai airnya berbusa dan mampet.
Rina pun sangat mengamini hal ini. Ia bahkan pernah bersitegang dengan sesama penghuni kos perkara wastafel yang dibiarkan kotor berhari-hari. Dapur yang harusnya higienis untuk memasak makanan, malah berubah menjadi tempat yang menghilangkan selera makan.
“Ya gimana. Kalau dapur kotor mau masak pun sudah nggak mood,” ungkap Rina.
Bikin perang dingin di grup WA kos
Kalau barang sudah sering hilang dan wastafel terus-terusan kotor, masalah ini pada akhirnya akan merembet ke ruang digital: grup WhatsApp kos.
Melisa (27), pekerja rantau yang juga tinggal di kos dengan dapur bersama, membeberkan bagaimana fasilitas ini sering memicu keributan. Menurutnya, kalau ada satu pemicu saja di dapur, grup WA kos yang biasanya sepi bisa mendadak panas.
“Penghuni mulai saling curiga dan saling tuding,” ungkapnya, Selasa (12/6/2026).
Teguran di grup WA biasanya disampaikan dengan gaya menyindir secara halus. Misalnya, ada yang sengaja memotret tumpukan piring kotor atau kulkas yang berantakan, lalu mengirimkannya ke grup dengan pesan, “Tolong kesadarannya ya teman-teman, kita kan tinggal bareng-bareng.”
Sialnya, kata Meli, pesan itu seringnya hanya dibaca oleh seluruh anggota grup tanpa ada satu pun balasan pengakuan bersalah.
“Ujung-ujungnya, suasana kos jadi nggak enak. Kalau papasan di lorong atau di parkiran, rasanya canggung banget. Kita jadi serba salah dan main curiga satu sama lain,” katanya.
Memilih “berkompromi” daripada bersitegang
Karena lelah menghadapi “perang dingin” itu, Melisa akhirnya memilih untuk “berkompromi” dengan keadaan. Meskipun ia membayar biaya kos bulanan yang sudah mencakup fasilitas dapur dan kulkas bersama, Meli memilih untuk tidak lagi menggunakan fasilitas umum tersebut secara penuh.
Kini, ia memindahkan semua alat makan pribadinya seperti piring, gelas, panci kecil, dan sendok ke dalam kamarnya sendiri. Begitu juga dengan bahan makanannya.
Ia rela kamar kosnya yang ukurannya tidak seberapa itu menjadi sedikit lebih sempit karena dipenuhi barang-barang dapur.
“Daripada tiap mau masak harus jengkel mending bawa masuk semua ke kamar. Nggak apa-apa deh kamar agak sumpek,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
