“Our culture is not your costume,” tulis salah satu akun yang terlihat sepintas begitu saya membuka Instagram saat seorang selebritas mengunggah konten #OpenToWork yang tagarnya sering digunakan oleh pengangguran untuk mencari kerja, pada 25 Januari 2026 lalu. Dalam hati, saya menyetujui.
Huru-hara platform pencari kerja
Dalam rentang waktu itu, media sosial menjadi heboh. Terutama, platform yang menjadi wadah bagi orang-orang yang di antaranya belum mendapatkan pekerjaan, LinkedIn.
Masuknya salah seorang publik figur ke LinkedIn sudah pernah terjadi. Namun, katakan, misalnya, Anies Baswedan yang bergabung pada 2024 lalu masuk dengan cara yang berbeda. Sematan deskripsi “Governor of Jakarta (2017-2022)” tidak membuat Anies menggunakan LinkedIn, setidaknya sejauh ini, untuk secara aktif mencari kerja.
Itulah yang saya kira membuat orang-orang menyambut saat Anies meramaikan LinkedIn. Sama seperti alasan yang dituliskan di Instagram pribadi @aniesbaswedan, tujuannya adalah berjejaring.
“Tapi serius nih, buat yang mau berjejaring dengan saya via LinkedIn, silakan mampir di sini ya: https://www.linkedin.com/in/aniesrasyidbaswedan (klik linktree di bio),” bunyi keterangannya, Senin (7/10/2024).
Yang dilakukan Anies, berbeda dengan yang baru-baru ini terjadi. Ada cermin sosial yang perlu direfleksikan lagi. Bahwa tekanan pencari kerja, sampai pada platform kerja, bukanlah sesuatu yang bisa diperdagangkan.
Ada selebritas ikut #OpenToWork
Sebagai informasi, kalau kamu mencari kerja melalui LinkedIn, kamu bisa menyalakan fitur notifikasi melalui #OpenToWork. Apabila mengizinkan, pemberitahuan itu juga akan ditampilkan di foto profil—menegaskan urgensi pencari kerja.
Praktik ini kemudian diterapkan oleh salah seorang selebritas, Prilly Latuconsina. Ia mengubah profil sebagai pencari kerja di LinkedIn, lalu mengumumkan di Instagramnya.
Lantas saja, kolom komentar menjadi ramai. Ada yang menyemangati, ada yang menuding nirempati. Terlebih, melawan hukum pencari kerja, bukannya mengejar kesempatan bekerja, kolom komentar malah diisi oleh para jenama yang mengantre mengajak kolaborasi.
Pengangguran masih menjamur, usaha kerjanya dipakai iklan
Setelah mengumumkan kabar tersebut, tawaran kerja sama masuk menjadi sebuah strategi marketing—begitulah yang digunakan warganet. Sudah salah langkah di awal, langkah selanjutnya semakin tidak tepat.
Pengguna medsos berkomentar bahwa siasat ini terkesan menutup mata dengan kesulitan yang dialami banyak orang. Sebab, penggunaan #OpenToWork yang seharusnya untuk menemukan pekerjaan disalahgunakan sebagai kampanye sebuah iklan.
“‘Open to work’ bukan tren dan tidak seharusnya menjadi permainan brand. Itu realitas yang dialami banyak orang, realitas yang keras. Ini nggak keren,” ujar akun dengan nama pengguna @natashamelinda.
Akun tersebut menyoroti kerja keras jutaan orang yang harus bersaing untuk dapat memperoleh kerja. Selaras dengan laporan Trading Economics yang mencatat kenaikan persentase pengangguran di Indonesia.
Tingkat pengangguran mencapai 4,85 persen pada kuartal ketiga 2025 dari 4,76 persen pada kuartal pertama 2025, dengan jumlah pengangguran tetap sekitar 7,46 juta. Dalam lingkup ASEAN, Indonesia juga tercatat memiliki tingkat pengangguran paling tinggi.
Dalih belajar, terasa bagai ejekan untuk pengangguran
Sekalipun salah satu alasan yang dikemukakan adalah keinginan membuka peluang belajar hal baru. Hal baru yang disebutkan tidak mempunyai nilai baru dari sudut pandang yang berbeda, justru dianggap sebagai sebuah hinaan terhadap mereka yang sehari-hari berusaha bertahan secara serabutan—melakukan semua, bukan coba-coba, untuk hidup.
“Ini tuh kayak mockery buat kita yang berjuang tiap hari, terus faktanya (kesempatan kerja) itu datang ke mereka dengan sangat lebih mudah. Ya, kayak diejek,” kata Almira (23), Kamis (5/2/2025).
Sebagai pekerja kantoran di Jakarta yang memahami betul sulitnya menemukan pekerjaan hari ini, Almira menilai, kemudahan yang membanjiri selebritas sebagai pencari kerja, ketika menerapkan cara orang-orang biasa, disebabkan percobaan perlawanan terhadap arus yang seharusnya. Skema pencarian kerja profesional mereka jelas tidak sama karena punya nama. Lalu, ironisnya, yang memberikan nama adalah orang-orang yang harus menghadapi kesulitan sehari-harinya.
“Mereka kan terkenal karena kita. Kita, sebagai orang-orang kalangan menengah ke bawah, terobsesi dengan gimana hidup mereka terlihat mudah di TV. Kita jadi insecure, tapi harus berhenti buat tetap hidup. Terus, ada yang mencoba jadi kita. Itu rasanya kayak hinaan ketika mereka berlagak susah,” ungkapnya.
Lagak susah dari orang nggak susah ada sejak yang sudah-sudah
Columbia Political Review dalam artikel yang menyoroti cosplaying poverty menunjukkan, fenomena ini terjadi sejak yang sudah-sudah. Pakaian bekas yang dikenakan oleh kalangan menengah-bawah dinilai sebagai lusuh, tetapi muncul tren thrifting yang mengubah pemaknaannya dari sudut pandang golongan atas. Jenama fesyen pun memanfaatkan gagasan pakaian dengan konsep usang, terinspirasi vintage, dan semacamnya.
Persepsi publik menjadi timpang. Tidak sama ketika orang kaya yang memakai celana jeans belel dan orang miskin. Yang satu akan dianggap trendi, sedangkan yang lainnya dinilai tidak mampu.
Lebih jauh, Pierre Bourdieu menerangkan konsepnya dalam ketidaknetralan selera. Berbagai faktor memengaruhi hal yang dianggap subjektif tersebut, bahkan dapat menjadi penanda kelas. Ini kemudian menguntungkan pemilik modal simbolik, seperti selebritas yang telah mengantongi reputasi tertentu, untuk bersaing dengan orang biasa yang memulai dari nol.
Riset yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi menunjukkan rentang waktu dalam mencari pekerjaan. Macam-macam variabel memengaruhi durasinya, seperti jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan. Hasilnya, rata-rata waktu remaja (15-24 tahun) dan dewasa (55 tahun ke atas) membutuhkan 11,30 bulan untuk mencari kerja, sedangkan kelompok umur produktif (25-54 tahun) butuh 10,08 bulan.
Dibandingkan dengan unggahan selebritas yang ingin mencari kerja melalui platform sama dengan orang biasa, dalam kurun waktu kurang dari 24 jam bisa disaksikan dan dipastikan lebih dari 10 kesempatan kerja akan bersaing untuk dapat meminang pekerjanya. Tentu, tidak akan terjadi pada para pencari kerja sesungguhnya yang berlomba-lomba mengisi aplikasi pekerjaan paling awal begitu lowongan dibuka.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Lulusan Universitas Jadi Sarjana Pengangguran, Langsung Dituntut Bapak Ganti Rugi Biaya Besar Semasa Kuliah sampai Hidup Kebingungan dan artikel Mojok lainnya di rubrik Liputan
