Jika tidak ada persoalan yang menyangkut tanah warisan, hubungan saudara kandung di desa memang bisa tampak sangat guyub-rukun. Namun, jika sudah berurusan dengan sertifikat tanah, terciptalah toxing sibling relationship: saudara kandung justru bak mafia tanah, menjadi orang paling jahat dan licik terhadap saudara kandungnya sendiri.
***
Persoalan tanah warisan di desa memang kerap menjadi momentum terjadinya toxic sibling relationship. Saya sudah beberapa kali menulisnya di Mojok: antarsaudara kandung bisa berisik saling berebut tanah warisan padahal orang tua masih hidup. Hanya warisan orang tua yang diinginkan, tapi tidak dengan merawat orang tua di masa renta mereka.
Di tahap mengerikan, untuk menggambarkan betapa busuknya saudara kandung jika menyoal harta, mereka bisa menggelapkan sertifikat tanah milik saudara kandung sendiri. Dan konflik tersebut akan dibawa sampai mati.
Tipu muslihat saudara kandung, gadaikan sertifikat tanah untuk memperkaya diri sendiri
Darmadi (50) terbius oleh omongan kakak pertamanya yang bertamu pada suatu siang di tahun 2010-an. Kakak Darmadi membujuk agar Darmadi menyerahkan dua sertifikat tanah milik Darmadi. Satu, sertifikat tanah untuk rumah yang Darmadi dan anak-istrinya tempati. Dua, sertifikat tanah tegalan jati.
Saat itu, Kakak Darmadi bilang akan menggunakan sertifikat tanah tersebut untuk mengajukan pinjaman di bank. Uangnya akan digunakan untuk merintis bisnis jual-beli bibit tanaman.
“Saya tergiur karena dia bilang, soal nebus, nanti dia yang urus. Kalau bisnis sukses, nanti saya bisa ikut kerja sama dia, biar saya nggak merantau-merantau lagi ke Malaysia,” ujar warga desa asal Rembang, Jawa Tengah, itu dalam obrolan bapak-bapak sembari menanti pengumuman awal puasa Ramadan 2026 dari pemerintah.
Darmadi mengaku saat itu dirinya seperti digendam. Tanpa pikir panjang dan berembuk dengan istri terlebih dulu, ia justru langsung mengiyakan bujuk rayu si kakak: menyerahkan dua sertifikat tanah miliknya secara cuma-cuma.
Dengar-dengar, kakak Darmadi memang merintis bisnis jual-beli bibit tanaman dan konon sejumlah bisnis lain. Di momen itu, ia seperti lupa kalau menggunakan sertifikat tanah milik Darmadi. Bahkan lupa kalau punya saudara Darmadi. Dari situlah toxic sibling relationship tercipta antarkeduanya.
Menagih sampai mati, karena terancam tak punya tempat tinggal dan tanah warisan buat anak-istri
Konflik antara Darmadi dengan keluarga kakaknya tersebut berlangsung cukup panjang.
Sejak sang kakak tampak hidup makmur, Darmadi berkali-kali sengaja mendatangi kediaman sang kakak di desa kecamatan (memang tidak tinggal satu desa dengan Darmadi). Darmadi berkali-kali bertanya dan meminta, “Apakah sertifikat tanah miliknya sudah ditebus? Kalau sudah, mana, ingin kuambil.”
Kakak Darmadi berkali-kali juga menegaskan kalau sertifikat tanah itu memang sudah ditebus. Namun, kalau diminta, ia selalu bilang akan mengantarnya sendiri ke rumah Darmadi.
“Waktu itu saya takutnya dia balik nama pakai cara licik. Kalau begitu, saya bisa kehilangan rumah dan tanah tegalan, yang itu sudah saya siapkan sebagai tanah warisan untuk anak-istri,” ujar Darmadi.
Darmadi nyaris putus asa. Ditagih pakai cara baik-baik, tidak mempan. Cara agak tegas, malah dianggap memancing permusuhan. Jelas ia merasa terpukul dan merasa bersalah kepada anak-istrinya.
Sampai akhirnya, saat kakak Darmadi jatuh sakit, menjelang kematiannya pada 2023, ia berkata jujur pada Darmadi: sertifikat tanah itu tidak dibalik nama. Dan memang sudah sempat ditebus. Namun, belum lama ini dimasukkan bank lagi, entah untuk keperluan apa. Yang jelas, pada media 2010-2013-an itu, kakak Darmadi sempat menikah lagi (poligami).
“Kalau aku mau ambil, aku harus tebus sendiri. Katanya begitu. Hampir saya pukul dia, karena butuh uang tidak sedikit untuk menebus. Tapi saya tahan-tahan, nanti malah makin rumit urusannya,” kata Darmadi.
Untungnya, istri pertama kakak Darmadi adalah perempuan baik. Ia membantu Darmadi menebus sertifikat tanah miliknya tersebut hingga jatuh kembali ke tangannya, sebelum ia terusir dan kehilangan dua aset warisan untuk anak-istri.
Saudara kandung: mafia tanah berkedok adik sendiri, curi sertifikat tanah demi dapat warisan sesuai keinginan
Masih di Rembang, cerita serupa dituturkan oleh Waliah (40), seorang ibu-ibu asal Rembang, yang belakangan tengah terlibat toxic sibling relationship dengan adik kandungnya sendiri. Pemicu utamanya tidak lain adalah persoalan pembagian tanah warisan.
Waliah saat ini mendiami sebuah rumah bersama suami, dua anak, dan ibu Waliah yang memang sudah sepuh dan tinggal menunggu ajal.
Ibu Waliah memang pernah bilang, rumah yang didiami Waliah saat ini, yang masih atas nama mendiang bapak Waliah, kelak akan menjadi hak Waliah beserta suami dan dua anaknya. Karena memang tidak banyak tanah warisan yang bisa dibagikan.
“Kalau saya dapat rumah ini, adik saya dapat sepetak kebun kecil. Dia nggak terima mungkin. Terus sertifikat tanahnya dicuri,” ucap Waliah.
Pencurian itu terjadi pada suatu hari ketika Waliah, suami, dan dua anaknya menunggui ibu Waliah saat dirawat di Puskesmas. Saat itu, sepengakuan tetangga-tetangga Waliah, adik Waliah memang masuk rumah.
Ketika ditegur tetangga, “Sedang cari apa?”, adik Waliah dengan licin menjawab kalau ia sedang mengambil beberapa barang dan pakaian untuk dibawa ke Puskesmas. Jelas tidak ada yang curiga kalau adik Waliah itu akan berbuat aneh-aneh. Tidak tahunya, adik Waliah justru berbuat bak mafia tanah.
“Sudah dibalik nama. Sertifikat tanah sudah atas namanya. Kami ajak rembukan baik-baik nggak mau. Ya berarti kami nggak punya apa-apa,” keluh Waliah getir.
Bingung urus di jalur hukum dan tak mau kedonyan
Beberapa tetangga sebenarnya memberi tahu Waliah kalau kasus balik nama sertifikat tanah secara sepihak oleh salah satu ahli waris itu merupakan pelanggaran administratif dan bisa diurus melalui jalur hukum.
Namun, Waliah dan suaminya sepakat tidak mau ribet-ribet. Ia tidak mau terlalu kedonyan (tamak pada dunia) dengan terlibat rebutan tanah warisan dengan adik kandung sendiri. Walaupun hak rumah tersebut sebenarnya sudah diberikan sang ibu untuk Waliah.
“Aku cuma mau minta, kalau ibu meninggal nanti ya dibantu urus. Sekarang yang ngurus masa tuanya biar kami nggak masalah. Setelah itu, kalau rumah ini diambil, ya gampang nanti. Bisa ikut orang tua suami sementara, sambil mengumpulkan uang untuk bangun rumah sederhana. Biar nanti dia (adik Waliah) dibalas saja sama Allah di akhirat,” tutup Waliah.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
