Ramadan tidak cuma berisi perdebatan metode hisab atau rukyat al-hilal untuk penentuan awalnya. Tapi juga ada perdebatan tentang mana lebih sunnah antara salat tarawih 20 rakaat versus 8 rakaat.
Siapa menggoreng salat tarawih 20 rakaat vs 8 rakaat? Heran!
Saya kerap bingung, sebenarnya siapa sih yang menggoreng dua topik tersebut setiap menjelang Ramadan? Pasalnya, sejak zaman saya nyantri dulu, di pesantren saya yang sangat Nahdlatul Ulama (NU), saya kok tidak pernah mendengar kiai atau ustaz saya menceramahkan mana yang lebih sunnah antara salat tarawih 23 rakaat versus 8 rakaat.
Justru, sejak di pesantren itu lah saya mulai terbiasa untuk menyikapi sunnah sebagaimana mestinya sunnah: kadang tarawih 20 rakaat+3 rakaat witir (23 rakaat), sesekali hanya 8 rakaat+3 rakaat witir (11 rakaat).
Karena memang, dari banyak riwayat Hadis yang bertebaran, Rasulullah Saw disebut mengerjakan sejumlah itu: 8 rakaat salat tarawih saat di masjid, lalu sisanya+witir dikerjakan di rumah.
Sejak kuliah dan bekerja, saya bahkan mendapati kasus yang makin memperkaya khazanah ini: orang yang mengikuti tarawih 8 rakaat+3 witir mengerjakan salat berjemaah di masjid yang jelas-jelas mengikuti tarawih versi 20 rakaat+3 witir.
Jadi ketika imam salat sudah selesai 8 rakaat, maka si jemaah tersebut akan memisahkan diri dari shaf, lalu mendirikan 3 witir sendiri. Ada juga yang sebaliknya: pengikut 23 rakaat malah salat berjemaahnya di masjid penganut 11 rakaat.
Situasi seperti ini pun bisa memancing pertanyaan baru: bagaimana hukumnya? Karena seperti bersilang dari keyakinan yang dianut masing-masing kelompok.
Penganut tarawih 8 rakaat salat berjemaah di masjid 20 rakaat, selesai lebih awal saat jemaah lain masih ngos-ngosan
Ustaz Rifky Ja’far Thalib agak mewanti-wanti persoalan ini. Bagi orang yang memang menganut tarawih 8 rakaat+3 witir, atau penganut 20 tarawih+3 witir yang sekiranya hanya mampu mengerjakan 8+3, maka lebih baik sedari awal mencari masjid yang sesuai kebutuhan.
Jangan saat imam dan jemaah lain masih lanjut salat di atas rakaat ke delapan, lalu ada orang yang menarik diri dari shaf begitu saja. Ditakutkan itu mengganggu konsentrasi jemaah lain. Bisa memicu persepsi-persepsi tertentu juga. Ustaz Rifky menyebut pilihan itu dengan “gregetne” (bikin greget/gemes).
Lihat postingan ini di Instagram
Melengkapi pandangan Ustaz Rifky, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mencoba melihat aspek terjadinya situasi semacam itu, antara lain:
- Bisa jadi karena di masjid sekitar hanya menyediakan model salat tarawih berjemaah dengan 20 rakaat+3 witir. Alhasil, mau tidak mau harus salat jemaah di masjid tersebut dengan potensi menarik diri dari shaf di tengah-tengah jemaah.
- Bisa jadi ada penganut 20+3 rakaat tapi memang tidak kuat mengikutinya sampai tuntas alias hanya mampu di 8 rakaat saja. Bisa dibilang, sebagai “siasat” tetap mengejar sunnah (semampunya) karena dalam kondisi lelah.
Bagi UAH, tidak ada masalah sama sekali dalam persoalan tersebut. Mau langsung pulang untuk lanjut 3 rakaat di rumah silakan, mau berdiam diri di masjid dulu sembari menunggu salat witir berjamaah didirikan juga malah bagus.
Tapi kalau ditanya kemungkinan pahalanya lebih banyak mana? Jawabannya bisa dipikirkan secara logika. Sebab, kata UAH begini: dua versi rakaat tersebut sama-sama mengandung keutamaan sunnah muakad. Namun, pahala Ramadan-nya jelas lebih banyak 20+3 rakaatn.
Pasalnya, semakin panjang rakaat, semakin banyak pula bacaan ayat Al-Qur’an, salawat Nabi, dan tasbih kepada Allah Swt. Dan itu bernilai pahala yang berlipat-lipat di bulan Ramadan.
Tidak perlu genap 30 hari, sunnah kok
Kalau KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) justru menekankan pada hukum asalnya: sunnah. Karena sunnah, artinya bukan wajib. Misalnya tidak dikerjakan pun tidak masalah.
Dalam beberapa kali momen ngaji, Gus Baha mengakui kalau ia jarang salat tarawih+witir full selama 30 hari bulan Ramadan. Pasti ada bolongnya. Ya walaupun ia berkali-kali juga mengingatkan agar pilihannya itu tidak ditiru orang awam .
Ada alasan luhur kenapa Gus Baha mengambil jalan tersebut. Selain karena hukum dasarnya yang sunnah, Gus Baha mempertimbangkan posisinya sebagai seorang ulama yang dianut oleh umat.
Jika ulama semua mengharuskan salat tarawih full selama 30 hari bulan Ramadan, dengan alasan keutamannya hanya bisa didapat setahun sekali (dan itu pun belum tentu bertemu Ramadan lagi di tahun berikutnya), khawatirnya umat menganggap hukumnya wajib.
Itu nanti akan membuat orang-orang yang tidak bisa tarawih karena kondisi tertentu menjadi nelangsa, berkecil hati, dan bahkan terkesan puasa Ramadan-nya tidak sempurna. Kan repot.
“Banyak orang Islam yang ingin tarawih, tapi tidak bisa tarawih, seperti satpam, tukang bakso, kernet, dan lain-lain,” ucap Gus Baha. Sehingga, dengan mempertegas status hukum salat tarawih sebagai ibadah sunnah, itu akan melegakan mereka yang terhalang situasi karena tidak bisa full 30 hari Ramadan mendirikan salat tersebut.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja, Sebenar-benarnya Sunnah Rasul di Bulan Ramadan Menurut Gus Baha atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














