Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 Februari 2026
A A
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Ilustrasi - Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ramadan tidak cuma berisi perdebatan metode hisab atau rukyat al-hilal untuk penentuan awalnya. Tapi juga ada perdebatan tentang mana lebih sunnah antara salat tarawih 20 rakaat versus 8 rakaat. 

Siapa menggoreng salat tarawih 20 rakaat vs 8 rakaat? Heran!

Saya kerap bingung, sebenarnya siapa sih yang menggoreng dua topik tersebut setiap menjelang Ramadan? Pasalnya, sejak zaman saya nyantri dulu, di pesantren saya yang sangat Nahdlatul Ulama (NU), saya kok tidak pernah mendengar kiai atau ustaz saya menceramahkan mana yang lebih sunnah antara salat tarawih 23 rakaat versus 8 rakaat. 

Justru, sejak di pesantren itu lah saya mulai terbiasa untuk menyikapi sunnah sebagaimana mestinya sunnah: kadang tarawih 20 rakaat+3 rakaat witir (23 rakaat), sesekali hanya 8 rakaat+3 rakaat witir (11 rakaat). 

Karena memang, dari banyak riwayat Hadis yang bertebaran, Rasulullah Saw disebut mengerjakan sejumlah itu: 8 rakaat salat tarawih saat di masjid, lalu sisanya+witir dikerjakan di rumah. 

Sejak kuliah dan bekerja, saya bahkan mendapati kasus yang makin memperkaya khazanah ini: orang yang mengikuti tarawih 8 rakaat+3 witir mengerjakan salat berjemaah di masjid yang jelas-jelas mengikuti tarawih versi 20 rakaat+3 witir.

Jadi ketika imam salat sudah selesai 8 rakaat, maka si jemaah tersebut akan memisahkan diri dari shaf, lalu mendirikan 3 witir sendiri. Ada juga yang sebaliknya: pengikut 23 rakaat malah salat berjemaahnya di masjid penganut 11 rakaat. 

Situasi seperti ini pun bisa memancing pertanyaan baru: bagaimana hukumnya? Karena seperti bersilang dari keyakinan yang dianut masing-masing kelompok. 

Penganut tarawih 8 rakaat salat berjemaah di masjid 20 rakaat, selesai lebih awal saat jemaah lain masih ngos-ngosan

Ustaz Rifky Ja’far Thalib agak mewanti-wanti persoalan ini. Bagi orang yang memang menganut tarawih 8 rakaat+3 witir, atau penganut 20 tarawih+3 witir yang sekiranya hanya mampu mengerjakan 8+3, maka lebih baik sedari awal mencari masjid yang sesuai kebutuhan. 

Jangan saat imam dan jemaah lain masih lanjut salat di atas rakaat ke delapan, lalu ada orang yang menarik diri dari shaf begitu saja. Ditakutkan itu mengganggu konsentrasi jemaah lain. Bisa memicu persepsi-persepsi tertentu juga. Ustaz Rifky menyebut pilihan itu dengan “gregetne” (bikin greget/gemes).

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Rifky Ja’far Thalib (@rifkyjafarthalib.official)

Melengkapi pandangan Ustaz Rifky, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mencoba melihat aspek terjadinya situasi semacam itu, antara lain: 

Iklan
  1. Bisa jadi karena di masjid sekitar hanya menyediakan model salat tarawih berjemaah dengan 20 rakaat+3 witir. Alhasil, mau tidak mau harus salat jemaah di masjid tersebut dengan potensi menarik diri dari shaf di tengah-tengah jemaah.
  2. Bisa jadi ada penganut 20+3 rakaat tapi memang tidak kuat mengikutinya sampai tuntas alias hanya mampu di 8 rakaat saja. Bisa dibilang, sebagai “siasat” tetap mengejar sunnah (semampunya) karena dalam kondisi lelah. 

Bagi UAH, tidak ada masalah sama sekali dalam persoalan tersebut. Mau langsung pulang untuk lanjut 3 rakaat di rumah silakan, mau berdiam diri di masjid dulu sembari menunggu salat witir berjamaah didirikan juga malah bagus. 

Tapi kalau ditanya kemungkinan pahalanya lebih banyak mana? Jawabannya bisa dipikirkan secara logika. Sebab, kata UAH begini: dua versi rakaat tersebut sama-sama mengandung keutamaan sunnah muakad. Namun, pahala Ramadan-nya jelas lebih banyak 20+3 rakaatn. 

Pasalnya, semakin panjang rakaat, semakin banyak pula bacaan ayat Al-Qur’an, salawat Nabi, dan tasbih kepada Allah Swt. Dan itu bernilai pahala yang berlipat-lipat di bulan Ramadan. 

Tidak perlu genap 30 hari, sunnah kok

Kalau KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) justru menekankan pada hukum asalnya: sunnah. Karena sunnah, artinya bukan wajib. Misalnya tidak dikerjakan pun tidak masalah. 

Dalam beberapa kali momen ngaji, Gus Baha mengakui kalau ia jarang salat tarawih+witir full selama 30 hari bulan Ramadan. Pasti ada bolongnya. Ya walaupun ia berkali-kali juga mengingatkan agar pilihannya itu tidak ditiru orang awam . 

Ada alasan luhur kenapa Gus Baha mengambil jalan tersebut. Selain karena hukum dasarnya yang sunnah, Gus Baha mempertimbangkan posisinya sebagai seorang ulama yang dianut oleh umat. 

Jika ulama semua mengharuskan salat tarawih full selama 30 hari bulan Ramadan, dengan alasan keutamannya hanya bisa didapat setahun sekali (dan itu pun belum tentu bertemu Ramadan lagi di tahun berikutnya), khawatirnya umat menganggap hukumnya wajib. 

Itu nanti akan membuat orang-orang yang tidak bisa tarawih karena kondisi tertentu menjadi nelangsa, berkecil hati, dan bahkan terkesan puasa Ramadan-nya tidak sempurna. Kan repot. 

“Banyak orang Islam yang ingin tarawih, tapi tidak bisa tarawih, seperti satpam, tukang bakso, kernet, dan lain-lain,” ucap Gus Baha. Sehingga, dengan mempertegas status hukum salat tarawih sebagai ibadah sunnah, itu akan melegakan mereka yang terhalang situasi karena tidak bisa full 30 hari Ramadan mendirikan salat tersebut. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja, Sebenar-benarnya Sunnah Rasul di Bulan Ramadan Menurut Gus Baha atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh

Tags: Gus Baha'keutamaan tarawihrakaat tarawih yang utamaRamadanTarawihtarawih gus baha
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.