Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi salah satu program prioritas pemerintah. Tujuannya, untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak, serta ibu hamil dan menyusui. Karena itu, sebelum Ramadan, MBG disalurkan ke sekolah-sekolah secara langsung. Namun pertanyaannya, saat bulan Ramadan seperti ini, apakah MBG akan dibagikan saat berbuka puasa dan sahur?
Memperkirakan pembagian seperti ini, beginilah taksiran “kekuatan” kandungan gizi dari sahur dengan MBG untuk berpuasa sepanjang hari.
Mari kita amati.
MBG dari kacamata orang tua
Sebelum itu, MBG sudah berjalan lebih dari satu tahun. Menurut orang tua salah seorang murid di Jogja, Debbie (31), MBG cukup membantunya untuk membuat anak menghabiskan makanan.
Mengingat anaknya yang berusia 4 tahun justru sulit makan di rumah, makan di sekolah melalui MBG ini berhasil membuat anaknya mau makan di sekolah bersama teman-temannya dengan lebih antusias.
“Aku seneng karena anakku justru mau makan sendiri dan makanannya habis kalau di sekolah. Padahal, di rumah dia termasuk yang susah makan,” katanya, Selasa (24/2/2026).
Menurut Debbie, keberhasilan ini bisa jadi dipengaruhi oleh menu yang sesuai dengan selera anaknya atau suasana makan bersama yang meningkatkan nafsu makan. “Jadi ada dampak positifnya entah karena menunya emang cocok atau faktor suasana makan bareng teman-teman yang bikin lebih semangat,” tambahnya.
Dengan anak yang lebih mudah makan dengan MBG itu, Debbie menilai, MBG cukup membantu memenuhi asupan harian anak. Namun, di lain sisi, perlu ada penyesuaian khusus saat bulan Ramadan, mengingat anak-anak yang beraktivitas penuh dan masih dalam usia pertumbuhan.
“Selama ini saat MBG rutin diberikan, aku liat sih cukup membantu asupan hariannya,” akunya.
“Tapi kalau dikaitkan dengan puasa, menurutku perlu penyesuaian khusus. Anak-anak yang mulai belajar puasa butuh asupan yang benar-benar seimbang dan cukup kalorinya, terutama protein dan energi tahan lama,” ujarnya menambahkan.
Tanggapannya ini mengacu pada perubahan menu MBG saat Ramadan yang berganti menjadi menu makanan kering. Menurutnya, menu kering tidak cukup untuk menjaga stamina anak sampai waktu berbuka.
“Kalau hanya mengandalkan menu yang sifatnya ringan atau kering, mungkin kurang cukup untuk menjaga stamina sampai waktu berbuka,” ujarnya.
MBG saat sahur untuk memenuhi asupan gizi puasa
Tidak hanya menjadi perhatian Debbie, kecukupan gizi anak saat berpuasa menjadi perhatian seluruh orang tua. Oleh karena itu, pelaksanaan MBG saat Ramadan menjadi perhatian.
Beberapa waktu lalu, isu MBG akan dibagikan saat sahur juga sempat viral. Meskipun, informasi ini telah dibantah oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Informasi tersebut dipastikan tidak benar atau hoaks,” ujar Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Namun kemudian, sebelum klarifikasi ini dikeluarkan, dapat dibayangkan ketika MBG dibagikan saat sahur. Di satu sisi, bisa jadi MBG akan membantu mempermudah pemilihan menu sahur. Di lain sisi, bisa jadi ada kecukupan gizi yang harus dipertanyakan: apakah benar-benar terpenuhi?
Mari kita buat “taksiran” perhitungannya.
Menghitung gizi dari menu MBG versi Ramadan
Untuk diketahui lebih dulu, MBG saat Ramadan tetap berjalan, tetapi dengan makanan yang kering.
Jadilah, tulisan ini akan bantu mengira-ngira gizi menu yang disajikan dengan mengambil dari tiga sampel menu MBG yang telah diabadikan, disebarkan di media sosial.

Dari menu di atas, estimasi nilai gizi per komponennya adalah:
- Susu UHT 110 ml mengandung ± 77 kkal
- 3 buah kurma mengandung ± 80 kkal
- Abon sapi ± 150 kkal
- 1 roti ± 100 kkal
Total estimasi kalorinya adalah 407 kkal.

Perkiraan nilai gizinya adalah:
- 1 telur rebus ± 77 kkal
- 1 jeruk ± 80 kkal
- Susu UHT 105 ml ± 70 kkal
- 1 roti ± 100 kkal
Totalnya, estimasi kalori dari menu di atas adalah ± 327 kkal.

Perkiraan nilai gizinya:
- Susu UHT 125 ml ± 90 kkal
- 1 roti tawar ± 100 kkal
- 1 roti abon ± 200 kkal
- 1 jeruk ± 80 kkal
Estimasi kalorinya adalah ± 470 kkal. Namun, sajian ini adalah menu dari hasil “rapel” selama tiga hari pada pekan ini.
Kebutuhan gizi saat puasa
Nah, setelah tahu perkiraan nilai gizi dari menu-menu MBG yang diambil berdasarkan sampel yang beredar di media sosial, kemudian diperhitungkan menggunakan aplikasi fatsecret. Saatnya kita mengetahui nilai gizi yang dibutuhkan selama berpuasa di bulan Ramadan.
Dilansir dari Hello Sehat, nilai gizi yang dibutuhkan untuk anak-anak berdasarkan usianya adalah berikut.
- 0-5 bulan: 550 kkal
- 6-11 bulan: 800 kkal
- 1-3 tahun: 1350 kkal
- 4-6 tahun: 1400 kkal
- 7-9 tahun: 1650 kkal
Rumah sakit di bilangan Jabodetabek, Eka Hospital, juga menyebutkan bahwa anak-anak berusia 4-9 tahun membutuhkan sekitar 1.400 sampai 1.650 kkal agar tidak lemas saat puasa
Kebutuhan ini meningkat untuk anak laki-laki remaja (usia 10-18 tahun) yang butuh sekitar 2.000-2.650 kkal, sedangkan remaja perempuan memerlukan 1.900-2.100 kkal.
Kalau dibandingkan dengan asupan gizi dari satu sajian menu MBG yang berada pada kisaran 300-440 kkal, gizi ini masih jauh dari asupan total harian. Artinya, apabila ingin tetap “kuat” saat puasa, orang tua perlu mempersiapkan makanan tambahan.
Namun dibandingkan itu, asupan gizi berdasar nilai kalori yang lebih mendekati untuk penerima manfaat bayi usia 0-5 bulan ini, saya kira bisa dipertimbangkan untuk mengubah sasaran menjadi anak-anak usia 19 tahun yang sudah menduduki bangku perkuliahan.
Saat usia itu, makan dengan satu roti saja sudah mewah. Jadi, mungkin menu sahur (yang kini saat puasa) MBG bisa disedekahkan untuk mahasiswa saja?
Soalnya, bagi mahasiswa, bisa berbuka puasa saja sudah syukur.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Yang Diuntungkan dan Yang Terpinggirkan Akibat Program Makan Bergizi Gratis di Jogja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan












