Saat ini beberapa wilayah di Jogja dan sekitarnya sudah memasuki musim hujan. Tidak hanya membawa hawa dingin untuk mencari tempat romantis berteduh, musim hujan juga membawa berkah tersendiri bagi beberapa profesi yang ternyata dibutuhkan ketika musim hujan.
***
Musim hujan tak selalu membawa kabar buruk bagi orang-orang yang harus berhadapan dengan jalanan becek, pakaian lembap, hingga atap rumah bocor. Di balik kerepotan itu, ada sejumlah pekerja yang justru memperoleh tambahan penghasilan karena keahlian mereka mendadak dibutuhkan.
Senin (26/10/2026) malam, saya berbincang dengan beberapa tetangga di lingkungan tempat tinggal saya. Obrolan kami bermula dari kebiasaan Edi berburu belut ketika hujan, kemudian merembet ke pekerjaan lain yang berpeluang menghasilkan uang saat cuaca basah. Dari pemburu belut hingga tukang tambal ban panggilan, berikut lima profesi musim hujan yang menarik untuk disimak.
1. Pemburu belut, profesi pencari cuan di lahan basah
Bagi sebagian orang, hujan berarti waktunya berteduh. Bagi Edi (29), hujan justru menjadi alasan untuk keluar rumah dan mencari belut serta cacing yang bisa dijual. Selain menyalurkan hobi, Edi memperoleh penghasilan tambahan dari hasil buruannya. Belut yang terkumpul biasanya ia setorkan ke warung nasi belut di dekat Pasar Gamping.
“Belut itu kalau aku dapat banyak biasanya aku setorkan ke warung penjual nasi belut yang biasanya jualan di Pasar Gamping itu. Daripada dia beli di pasar, kalau di aku harganya lebih murah. Biasanya per satu kilogram itu dia beli Rp10 ribu,” ujar Edi.
Dalam semalam, ia mengaku pernah mendapatkan 7–10 kilogram belut, bergantung pada kondisi cuaca dan hasil buruan. Jika dihitung berdasarkan harga tersebut, penjualan 7–10 kilogram menghasilkan omzet kotor Rp70 ribu–Rp100 ribu.
Sementara itu, cacing hasil buruannya ia tawarkan ke toko alat pancing yang menyediakan umpan hidup. Imbalannya bisa berupa sebungkus rokok atau uang sekitar Rp30 ribu, bergantung pada jumlah cacing yang terkumpul.
“Ya memang nggak banyak hasilnya, tapi lumayan bisa buat beli rokok dan kopi, anget-anget,” katanya.
Bagi Edi, berburu belut dan cacing bukan pekerjaan yang menjanjikan kekayaan mendadak. Namun, ketika hobi bisa menghasilkan uang tambahan, hujan bukan lagi sekadar gangguan.
2. Jasa cuci sepatu dan helm
Musim hujan juga menjadi tantangan bagi mereka yang harus beraktivitas menggunakan sepatu setiap hari. Lumpur, cipratan air, dan kelembapan membuat alas kaki lebih mudah kotor sekaligus membutuhkan perawatan ekstra.
Saya pernah menulis tentang seorang pemuda yang membuka usaha cuci sepatu melalui artikel Gelar S1 Tidak Guna, Buka Cuci Sepatu. Ketika saya kembali menggali pengalamannya pada Selasa (27/10/2026), ia bercerita bahwa permintaan jasa pencucian tetap menjadi peluang yang menarik ketika hujan sering turun.
Dalam perkembangannya, ia tidak hanya menerima sepatu, tetapi juga helm, topi, jaket, hingga pakaian tertentu yang membutuhkan penanganan khusus.
“Karena permintaan banyak untuk bisa nyuci helm, makanya aku sama teman sekalian kerja sama buka layanan cuci helm. Sebenarnya juga tidak hanya helm, tapi seperti topi, jaket yang tidak bisa sembarangan dicuci, dan kemeja atau pakaian branded yang tidak dimungkinkan ditaruh di laundry-an,” ujarnya.
Perluasan layanan dari cuci sepatu menambah ke cuci helm tersebut menunjukkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelanggan. Sefiyan mengaku bisa memperoleh keuntungan berlipat daripada ketika musim kemarau “kalau di musim hujan, jelas lebih menguntungkan, bisa sampai tiga kali lipat dari penghasilan biasa ketika musim kering,” jelasnya.
3. Spesialis talang air dan atap rumah
Air hujan yang merembes melalui atap atau meluap dari talang bisa mengubah rumah menjadi tempat yang tidak nyaman. Pada saat itulah keahlian tukang bangunan seperti Muji (50-an), tetangga saya, mendapat panggilan tambahan.
Muji bercerita bahwa belakangan ia lebih sering diminta memperbaiki talang air. Pekerjaan tersebut relatif cepat diselesaikan dibandingkan perbaikan atap yang membutuhkan pemeriksaan lebih teliti.
“Kalau musim hujan gini malah saya banyak yang request benerin talang air, Mas. Bisa dalam sehari itu memperbaiki tiga rumah berbeda. Soalnya kalau talang itu kan cepat,” ujarnya.
Untuk memperbaiki satu talang air, Muji biasanya menerima bayaran Rp50 ribu–Rp100 ribu, bergantung pada tingkat kerusakan dan kesulitan pekerjaan. Jika tiga pekerjaan selesai dalam sehari, uang yang diterima bisa mencapai Rp150 ribu–Rp300 ribu.
Namun, angka itu bukan berarti pendapatan bersih. Biaya bahan, transportasi, serta waktu pengerjaan tetap perlu diperhitungkan. Apalagi, perbaikan atap terkadang membutuhkan pemeriksaan ulang untuk memastikan kebocoran benar-benar teratasi.
4. Jasa homecare kebersihan rumah, kasur, dan karpet
Atap bocor tidak hanya membuat lantai basah. Air yang masuk juga bisa membasahi kasur dan karpet, dua benda yang tidak mudah dikeringkan jika cuaca terus mendung.
Fandi (23), kawan saya yang bekerja sebagai karyawan jasa homecare, mengaku permintaan pengeringan kasur dan karpet meningkat ketika hujan sering turun. Ia juga menerima pekerjaan membersihkan rumah dari sampah daun dan ranting yang terbawa angin atau jatuh saat hujan.
“Jogja itu baru beberapa kali kena hujan, sudah lebih dari tiga rumah per hari yang meminta untuk pengeringan kasur dan karpet karena kena tampias hujan atau atap bocor,” kata Fandi.
Menurutnya, permintaan jasa tersebut tidak selalu ramai ketika musim kemarau. Ketika hujan datang, pekerjaan pengeringan menjadi salah satu layanan yang dicari pelanggan.
Selain jasa pengeringan, kantor tempat Fandi bekerja menyediakan layanan pencucian kasur dan karpet. Ia juga sesekali menerima tip dari pelanggan setelah menyelesaikan pekerjaan.
“Kadang mereka sudah bayar melalui kantor, saya masih dikasih tip buat beli rokok atau sekadar buat uang terima kasih,” ujarnya.
Pengalaman Fandi memperlihatkan bahwa peluang profesi musim hujan tidak selalu berasal dari bencana besar. Persoalan rumah tangga sehari-hari pun bisa menjadi sumber pekerjaan bagi orang yang memiliki keterampilan dan layanan yang tepat.
5. Tambal ban panggilan dan montir dadakan, profesi paling menjanjikan
Saya mencoba menghubungi Hendri (40-an), tukang tambal ban panggilan langganan saya. Begitu telepon diangkat, ia langsung menyapa dengan nada bersemangat.
“Piye, Bos, apa sing meh ditambal? Ready iki,” katanya.
Kami tertawa setelah saya menjelaskan bahwa tujuan telepon kali ini bukan meminta bantuan menambal ban, melainkan membicarakan pekerjaannya ketika hujan sering turun.
“Owalah, tak pikir mau nambal ban. Ya alhamdulillah kalau musim hujan gini jelas rezeki mengalir deras. Sewaktu-waktu sekarang banyak panggilan untuk nambal ban, entah ban bocor atau ganti ban dalam,” ujarnya.
Hendri juga mulai bekerja sama dengan seorang teman untuk menerima perbaikan motor mogok akibat kemasukan air. Dengan begitu, pelanggan tidak hanya mendapatkan layanan tambal ban, tetapi juga bantuan awal ketika kendaraan bermasalah setelah menerjang hujan.
“Nah, sekarang kalau dirimu mau order, saya ada paket lengkap nambal ban dan memperbaiki motor yang mogok karena hujan,” katanya sambil tertawa.
Peluang ini tentu tidak berarti setiap motor mogok disebabkan air hujan atau setiap ban bocor bisa dicegah. Namun, ketika pengendara membutuhkan pertolongan di jalan, jasa panggilan yang mudah dihubungi menjadi penting.
Profesi yang rejekinya mengalir sederas hujan
Pengalaman lima pekerja tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan cuaca dapat memunculkan kebutuhan jasa yang berbeda-beda. Penelitian Ravago dan kolega dalam The Journal of Development Studies (2025), misalnya, menemukan bahwa hari-hari dengan curah hujan ekstrem dapat memengaruhi kesejahteraan rumah tangga pekerja, baik di sektor formal maupun informal.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik melalui Sakernas Agustus 2025 juga mencatat bahwa 57,80 persen penduduk bekerja berada dalam kegiatan informal. Angka ini memberi konteks tentang besarnya peran pekerjaan informal dalam perekonomian, meskipun tidak secara khusus mengukur profesi yang pendapatannya meningkat saat musim hujan.
Bagi Edi, Muji, Fandi, Hendri, dan Sefiyan, hujan memang bisa mendatangkan pekerjaan tambahan. Namun, pendapatan mereka tetap bergantung pada jumlah pesanan, kondisi cuaca, biaya operasional, dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Sebab, di balik istilah “kebanjiran cuan”, ada orang-orang yang harus keluar rumah ketika hujan turun, memanjat atap yang licin, atau membantu pengendara yang kendaraannya mogok di jalan. Bagi mereka, musim hujan bukan semata-mata soal langit yang mendung, melainkan juga soal bagaimana kebutuhan orang lain bisa menjadi kesempatan untuk menyambung penghasilan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pilihan Tempat Romantis di Jogja untuk Menikmati Hujan, Lebih Murah dan Estetik Versi Warlok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan