Di berbagai sudut sekolah di Indonesia, sejumlah siswa dan guru harus menjalani kegiatan belajar-mengajar dengan tidak nyaman bahkan waswas. Kondisi sekolah yang rusak dan tidak layak menjadi penyebabnya.
Semula, begitulah kondisi pembelajaran di sejumlah sekolah di berbagai belahan negeri ini. Misalnya yang terjadi di SD Negeri 173281 Lumban Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Selama ini ruang kelas dengan lantai berlubang, atap bocor, dan plafon yang lapuk sudah menjadi santapan sehari-hari bagi para siswa.
Kondisi tersebut jelas saja mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Apalagi saat hujan turun. Gangguan kepada siswa tidak hanya dari tetesan air yang menyeruak ke dalam ruang kelas. Siswa juga harus waswas, karena plafon yang sudah melapuk hanya butuh gangguan-gangguan kecil untuk runtuh. Kalau tidak beruntung, runtuhannya bisa saja menimpa siswa yang tengah duduk di bangkunya.
Kondisi sekolah pengaruhi semangat belajar siswa
Kepala SD Negeri 173281 Lumban Julu, Tamaria Purba mengungkapkan, sekolah tersebut memang belum pernah mengalami perbaikan sarana dan prasarana secara signifikan sejak pertama kali didirikan. Selain ruang kelas yang mengalami kerusakan, toilet sekolah juga kurang memadai dan tidak layak digunakan.
Kondisi demikian tak pelak mempengaruhi semangat siswa untuk belajar di sekolah, seperti diungkapkan oleh seorang siswa, Arion Maruli Hurabarat. Siswa kelas IV SD Negeri 173281 Lumban Julu itu bercerita, dulu saat masih kelas III rasanya “prihatin” harus belajar di ruang kelas yang kaca jendelanya pecah, atapnya berlubang, dan lantai yang rusak sana-sini.
Sampai akhirnya, pada 2025 sekolah tersebut menerima bantuan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Tamaria menyebut, sekolahnya menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp775.180.174. Bantuan itu digunakan untuk merehabilitasi dua ruang kelas dan toilet beserta sanitasinya, serta membangun ruang UKS dan perpustakaan.

“Perbaikan tersebut membuat lingkungan sekolah menjadi lebih rapi dan kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih kondusif. Guru dan murid pun merasa lebih nyaman dan bersemangat mengikuti pembelajaran,” ungkap Tamaria.
“Orang tua murid pun merasa senang karena anak mereka tambah nyaman belajar, sehingga diharapkan prestasi meningkat, baik akademik maupun nonakademik,” sambungnya.
Arion, siswa yang sebelumnya prihatin dengan kondisi sekolahnya pun kini bisa berangkat ke sekolah dengan lebih bersemangat. Bagi Arion, kondisi sekolahnya telah jauh berubah. Ia mengaku akhirnya bisa merasakan sebuah ruang kelas yang nyaman. Untuk keperluan buang air pun, kini ia merasa memiliki toilet yang selain bersih dan layak.
Nasib sekolah rusak di Indonesia di tahun-tahun mendatang
Saat meninjau langsung hasil revitalisasi sekolah tersebut pada Kamis (15/10/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengaku melihat bagaimana revitalisasi itu benar-benar mengubah kondisi pembelajaran di sekolah. Ia melihat para siswa yang begitu antusias mengikuti pembelajaran. Saat ia berkunjung, di sekolah itu tengah berlangsung pembelajaran menggunakan Interactive Flat Panel (IFP) alias Papan Interaktif Digital.
Pada momen itu, Mendikdasmen pun menegaskan bahwa pemerintah berupaya memastikan setiap warga negara Indonesia memperoleh kesempatan pendidikan yang setara. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut yakni dengan memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan agar sekolah dapat menyediakan lingkungan belajar yang layak bagi murid dan guru.
Di Kabupaten Tapanuli Utara, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada 2025 mencakup 107 satuan pendidikan. Terdiri atas 3 PAUD, 79 SD, 13 SMP, 6 SMA, dan 6 SMK. Pemerintah mengalokasikan anggaran mencapai Rp79,47 miliar untuk merealisasikan program tersebut.
Kemudian pada 2026, program revitalisasi di Kabupaten Tapanuli Utara mencakup 91 sekolah yang telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS). Anggaran sebesar Rp67,97 miliar disiapkan untuk revitalisasi terhadap 31 PAUD, 42 SD, 8 SMP, 6 SMA, dan 4 SMK. Dari total anggaran itu, dana sebesar Rp54,48 miliar sudah disalurkan untuk memulai revitalisasi.
“InsyaAllah, Pak Presiden sudah berkomitmen, sebelum 2029 atau akhir 2028, semua sekolah di Indonesia yang rusak sedang dan berat diperbaiki,” tegas Mendikdasmen Mu’ti.

Bangunan rusak paksa sekolah pakai dua sesi pembelajaran
Persoalan fasilitas sekolah yang belum memadai juga ditemukan di Kalimantan Barat. Salah satunya SMAN 7 Pontianak. Menurut Kepala SMAN 7 Pontianak Ibrahim, sekolah yang berdiri sejak 1973 itu belum pernah menerima program revitalisasi.
Alhasil, sejumlah fasilitas, termasuk laboratorium komputer, laboratorium bahasa, dan ruang kelas, mengalami kerusakan. Jika tidak segera diperbaiki, maka bisa sangat mengganggu alur pembelajaran siswa.
Terlebih, sekolah tersebut memiliki keterbatasan ruang kelas, yang lantas memengaruhi pengaturan kegiatan belajar. Selama dua tahun terakhir, SMAN 7 Pontianak menerapkan pembelajaran dalam dua sesi: pagi dan sore agar seluruh siswa bisa terakomodasi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 7 Pontianak, Reza Pratama, mengatakan sarana dan prasarana yang memadai dibutuhkan agar kegiatan pembelajaran berjalan lebih baik dan murid memperoleh kesempatan belajar yang lebih optimal.

“Kami sangat butuh bantuan terkait pembangunan ini, karena ketika kita mempunyai prasarana dan sarana yang bagus, kita bisa melangkah lebih jauh juga,” ungkap Reza.
Pada 2026, SMAN 7 Pontianak memperoleh bantuan revitalisasi sebesar Rp1,05 miliar untuk memperbaiki laboratorium komputer, laboratorium bahasa, dan ruang kelas. Bagi murid, harapannya tak muluk-muluk. Aida Nafisa Aristantio, siswi kelas XII SMAN 7 Pontianak, misalnya. Ia berharap revitalisasi segera rampung agar guru dan murid bisa kembali menggunakan fasilitas sekolah dengan lebih nyaman.
“Kami berharap revitalisasi gedung ini dapat segera selesai sehingga guru bisa kembali memiliki ruang guru dan anak murid bisa belajar dengan normal,” tutur Aida.
Harapan untuk siswa dan guru di Pontianak
Untungnya, SMAN 7 Pontianak menjadi salah satu sekolah yang menerima bantuan revitalisasi.
Saat meninjau sekolah tersebut pada Sabtu (17/10/2026), Mendikdasmen Mu’ti menjelaskan bahwa pada 2026 program Revitalisasi Satuan Pendidikan menjangkau 943 sekolah di Kalimantan Barat dengan dukungan anggaran Rp846,68 miliar.
“Kita targetkan revitalisasi ribuan satuan pendidikan tahun ini sebagai wujud komitmen Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki mutu dan kualitas pembelajaran anak bangsa di seluruh Indonesia,” ujar Mendikdasmen Mu’ti.
Di Kota Pontianak, program revitalisasi tahun ini mencakup 46 sekolah dengan total anggaran Rp38,35 miliar. Pelaksanaannya juga melibatkan 585 tenaga kerja lokal.
Kebutuhan perbaikan juga menjadi perhatian di SD Negeri 39 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Pada 2026, sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi sebesar Rp2,2 miliar untuk merehabilitasi ruang kelas dan membangun ruang kelas baru.
Kabar soal perbaikan sekolah tersebut tidak ayal membuat Aqila Viandra, siswi kelas 6A SD Negeri 39 Sungai Raya, gembira. “Wah senang banget, karena ruangan baru juga, tambah senang, tambah semangat,” tuturnya.

Rp26 Triliun untuk revitalisasi sekolah di seluruh Indonesia
Perbaikan sekolah di Tapanuli Utara dan Kalimantan Barat merupakan bagian dari program revitalisasi yang dilaksanakan Kemendikdasmen secara nasional.
Pada 2026, program tersebut menjangkau 35.769 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia melalui skema swakelola. Hingga Oktober 2026, sebanyak 4.374 sekolah telah merampungkan pembangunan.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan mandat Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 sekaligus bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Untuk mendukung pelaksanaannya, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp26 triliun pada tahun ini.
Penyaluran dana bantuan juga terus berlangsung. Hingga saat ini, dana yang telah diterima penerima manfaat mencapai sekitar Rp20 triliun.
Program tersebut tidak hanya mencakup perbaikan bangunan sekolah yang sudah ada, tetapi juga pembangunan unit sekolah baru (USB). Pada 2026, pembangunan itu mencakup 66 PAUD dan 28 SMA.

Sebanyak 35.769 satuan pendidikan telah melakukan Perjanjian Kerja Sama melalui tahapan reguler dan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) tahap satu. Dari jumlah tersebut, 17.272 PAUD telah melakukan PKS dengan total anggaran lebih dari Rp7 triliun.
Pada jenjang SD, sebanyak 11.529 sekolah telah melakukan PKS dengan total anggaran lebih dari Rp11 triliun. Sebanyak 4.878 SMP juga telah melakukan PKS dengan total anggaran lebih dari Rp5 triliun, sedangkan pada jenjang SMA terdapat 1.993 sekolah dengan total anggaran lebih dari Rp2 triliun.
Selain memperbaiki bangunan yang sudah ada, program revitalisasi juga telah melakukan PKS dengan 66 USB PAUD yang memperoleh anggaran lebih dari Rp86 miliar. Sementara itu, 28 USB SMA memperoleh total anggaran lebih dari Rp190 miliar.
Pelaksanaan program di sejumlah daerah menunjukkan perkembangan yang beragam. Di Aceh, program revitalisasi mencakup 2.891 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA dengan total anggaran Rp2,5 triliun. Dana yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp2,1 triliun atau 83 persen dari total anggaran.
Dari sisi pembangunan fisik, sebanyak 755 sekolah telah merampungkan pembangunan. Sebanyak 615 sekolah lainnya berada pada progres 70 hingga di bawah 100 persen, sedangkan 578 sekolah telah mencapai progres 50–70 persen.
Sementara itu, program revitalisasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjangkau 1.660 satuan pendidikan dengan dukungan anggaran Rp1,3 triliun. Penyaluran dana telah mencapai sekitar Rp1 triliun.
Dari sisi pembangunan fisik, sebanyak 205 sekolah berada pada progres 50–70 persen. Program di NTT juga mencakup pembangunan enam PAUD dan satu SMA sebagai unit sekolah baru.
Di Provinsi DKI Jakarta, program revitalisasi dilaksanakan pada 114 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA dengan total anggaran Rp61 miliar. Dana yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp48 miliar atau 78,7 persen.
Sebanyak 21 sekolah telah merampungkan pembangunan, sedangkan 46 sekolah lainnya masih berada pada progres pembangunan hingga 25 persen. Satu PAUD di antaranya merupakan pembangunan unit sekolah baru.
Memastikan pendidikan layak ke setiap anak Indonesia
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menekankan pentingnya penyediaan ruang belajar yang layak untuk mendukung proses pembelajaran. “Ruang kelas yang aman dan nyaman adalah prasyarat pembelajaran efektif,” ungkap Gogot Suharwoto dalam keterangannya di Jakarta.
Penyediaan sarana dan prasarana yang layak menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, pelaksanaan revitalisasi di setiap satuan pendidikan perlu memperhatikan kebutuhan sekolah dan kualitas hasil pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh murid dan warga sekolah.
Melalui program ini, Kemendikdasmen mendorong tersedianya lingkungan belajar yang lebih layak di berbagai wilayah Indonesia. Pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar mengajar sekaligus mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan.
“Mari terus bersemangat dan berdedikasi mencerdaskan bangsa, memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan fasilitas belajar yang layak dan berkualitas,” tegas Mendikdasmen.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cerita Siswa SMP Sekolah Sambil Jadi Kuli demi Sambung Hidup, Kadang Cuma Makan Nasi Pakai Bumbu Penyedap atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan