Seorang siswa SMP harus tinggal sendirian karena kondisi keluarga sekaligus harus sekolah sambil menjadi kuli demi terus menyambung hidup. .
Siswa tersebut bernama Nasyarudin Maulo (14). Remaja yang akrab disapa Aji tersebut saat ini duduk di kelas 8 atau kelas 2 SMP di SMP Negeri 38 Kecamatan Kota Masohi, Maluku Tengah.
Tidak seperti kebanyakan kawan-kawan sebaya yang menjalani masa remaja dengan cerita-cerita menyenangkan, Aji justru sudah harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan: dari hidup sendirian hingga bekerja sebagai kuli untuk hidup sekaligus sekolah.
Keluarga terpisah, hidup sendirian di kosan
Saat ini Aji tinggal sendirian di sebuah kos tidak jauh dari sekolahnya: SMP Negeri 38 Kecamatan Kota Masohi, Maluku Tengah. Kondisi tersebut harus ia jalani lantaran keluarganya terpaksa harus saling terpisah sejak Juni 2026 lalu.
Sebelumnya Aji memang tinggal dengan kedua orang tua dan adik-adiknya di Kota Masohi. Sampai kemudian, permasalahan yang menerpa keluarganya membuat kondisi hidup keluarga Aji berubah.
Ayah Aji berprofesi sebagai petani. Kadang-kadang juga menjadi nelayan. Namun, kondisi sang ayah yang sakit-sakitan lantas memicu permasalahan: memang tidak bercerai, tapi Ibu Aji dan adiknya yang masih kecil memutuskan merantau ke Namlea di Pulau Buru, Maluku, untuk menjadi juru masak.
Sementara itu, Aji bersama dua adiknya yang duduk di SD ikut ayahnya kembali ke kampung halamannya di Lahakaba, yakni sebuah desa di Maluku Tengah, kira-kira 140 km dari Masohi.
Di Lahakaba, Aji sempat bersekolah di SMPN 52. Namun, ibunya memutuskan memindahkan Aji ke Masohi (sekolahnya sekarang), saat masuk kelas 7 semester genap. Di titik itulah Aji harus tinggal di sebuah kos seharga Rp200 ribu perbulan sendirian.
Siswa SMP cari uang sendiri: dari nguli hingga cari ikan
Kehidupan Aji di kos pun tidak mudah. Ia tidak bisa serta-merta mengandalkan kiriman dari sang ibu yang bekerja. Karena memang kiriman dari sang ibu tidak menentu.
Oleh karena itu, tidak jarang Aji harus berjuang sendiri untuk kebutuhan makan, bayar kos, dan lain-lain.
“Ibu kirim uang tak tentu, setiap kirim uang sekitar Rp100 ribu. Kalau saya kekurangan uang, saya terpaksa bekerja, kadang sebagai kuli bangunan, kadang mencari ikan di laut,” ujar Aji dalam cerita yang ia bagikan kepada Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rabu (7/10/2026).
“Dengan terpaksa harus bolos sekolah Dalam seminggu, saya bolos kadang-kadang satu hari atau dua hari,“ katanya. “Sering juga saya makan hanya dengan nasi ditambah bumbu penyedap.”
Pada akhir September 2026 lalu, perjuangan Aji diangkat di media sosial oleh sebuah komunitas pegiat literasi. Dalam tayangan tersebut, Aji menyebut menerima upah sebagai kuli bangunan sebesar Rp100 ribu sehari, sedangkan menjadi nelayan memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu.
Bolos bukan berarti tidak niat sekolah
Meski harus bolos dan berjibaku dengan kerasnya kehidupan, tapi Aji sama sekali tidak ingin tertinggal dalam urusan pelajaran.
Wali kelas Aji di sekolah, Kotje Novaria, menyebut bahwa Aji adalah anak yang rajin. Aji selalu berusaha menebus ketertinggalannya—karena terpaksa—dengan belajar di malam hari.
Sebenarnya, kecenderungan Aji bolos sekolah tanpa kabar sempat membuat curiga pihak sekolah, seperti diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMPN 38 Maluku Tengah,Lintje C Patty, Kepala Sekolah SMPN 38 Maluku.
Kemudian, pihak sekolah pun melakukan kunjungan ke kos yang ditinggali Aji. Dari situlah pihak sekolah akhirnya tahu betapa tidak mudah kehidupan yang Aji jalani. Pihak sekolah pun memaklumi bahkan membantu Aji mengejar ketertinggalan pelajaran.
Diupayakan dapat PIP
Atas kondisi yang Aji alami, David Talakua selaku Operator Program Indonesia Pintar (PIP) di SMPN 38 Maluku Tengah mengatakan, tengah mengupayakan agar Aji menerima bantuan pendidikan tersebut.
“Berdasarkan penelusuran kami, keluarga Aji masuk dalam desil 1-5 yang artinya layak menerima PIP, kami saat ini sedang melakukan proses pengusulan,” paparnya.
Sebenarnya Aji sudah pernah menerima PIP dari kelas 4 sampai kelas 6 SD. Saat itu, bantuan tersebut Aji gunakan untuk membeli seragam, tas dan perlengkapan sekolah lainnya.
Ketika melanjutkan pendidikan ke SMPN 52 di Lahakaba, pihak sekolah menetapkan Aji sebagai calon penerima PIP jenjang SMP dan sudah diusulkan ke dinas pendidikan.
Namun, karena pindah sekolah ke SMPN 38 di Masohi, Aji mengaku ketinggalan informasi terkait PIP. Data Puslapdik menyebutkan, penyaluran PIP tahun 2026 di Maluku sudah dilakukan di bulan Juni 2026. Namun, karena di bukan itu Aji pindah ke Masohi, sedangkan penetapan Aji sebagai penerima PIP ketika masih bersekolah di SMPN 52 Lahakaba.
David menjelaskan, berdasarkan penelusuran di SiPINTAR, data Aji sebagai penerima PIP belum ada di SMPN 38 Maluku Tengah, tapi masih di SMPN yang lama (SMPN 52 Lahakaba). Sehingga saat ini pihaknya masih berupaya membantu Aji agar bisa kembali menerima PIP, setidaknya untuk mengurangi bebannya sebagai seorang siswa SMP yang kerap kali harus mencari uang sendiri.
“Kami saat ini sedang mengurusnya dan menyusul adanya informasi PIP Aji sudah disalurkan pada Juni lalu, sementara ATM dan buku rekening Aji dibawa ibunya yang jauh,” jelas David.
“Maka kami putuskan membuat surat kehilangan buku tabungan ke polisi dan selanjutnya mengajukan pergantian buku tabungan ke BRI, tentunya dengan nomor rekening yang sama,“ imbuhnya.
BACA JUGA: Lulusan Kejar Paket C Dijauhi Anak Kuliahan karena Dianggap Tak Setara, Kini Digaji Pakai Dolar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan