ADVERTISEMENT

Pilihan Tempat Romantis di Jogja untuk Menikmati Hujan, Lebih Murah dan Estetik Versi Warlok

Tempat Romantis Menikmati Hujan di Jogja Versi Warlok. MOJOK.CO

Hujan mengubah wajah Jogja menjadi lebih sejuk dan syahdu. Namun, di antara sederet tempat romantis Jogja yang tersedia, ada beberapa tempat rekomendasi warlok untuk menjadi tempat romantis yang murah dan estetik.

***

ADVERTISEMENT

Hujan pertama setelah kemarau panjang akhirnya membasahi Jogja pada Sabtu (24/10/2026) pagi. Jalanan yang semula kering mulai basah, udara berubah lebih sejuk, dan sebagian orang mungkin buru-buru mencari tempat berteduh. Namun, bagi beberapa orang, hujan justru menjadi alasan untuk keluar rumah dan menikmati waktu bersama pasangan.

Saya sedang bersama Gilang (25), Rena (25), dan Dian (23) pada pagi ketika hujan turun itu. Ketiganya memiliki jawaban yang senada ketika ditanya tentang tempat romantis untuk menikmati hujan di Jogja: Kaliurang, Malioboro, dan perbukitan Menoreh.

Ketiganya menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada udara dingin dan kabut pegunungan, suasana kota yang berubah selepas hujan, hingga kedai kopi dengan pemandangan sawah. Dari tiga pilihan tersebut, ada beberapa tempat lain yang juga layak dipertimbangkan untuk menikmati hujan bersama orang tersayang.

1. Kaliurang, ketika dingin membuat orang ingin berdekatan

Bagi Gilang, Kaliurang punya daya tarik yang sulit ditandingi ketika hujan turun. Kawasan di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, ini menawarkan suasana sejuk yang terasa berbeda dari pusat kota.

“Kalau aku sih, Kaliurang ya. Rasanya kalau ke daerah sana lebih berkabut, apalagi kalau malamnya habis hujan. Romantis dan sejuk aja sih. Kalau sama pasangan, kayaknya enak buat duduk-duduk sambil ngobrol,” kata Gilang. 

Pilihan ini bukan tanpa alasan geografis. Dalam liputan mengenai destinasi sekitar Merapi, detikTravel mencatat udara dingin sebagai salah satu karakter kawasan Kaliurang. Romantisme Kaliurang, dengan demikian, tidak harus berupa makan malam mahal atau tempat yang sengaja dirancang untuk pasangan. Secangkir minuman hangat, obrolan panjang, dan jaket yang harus dipakai bergantian pun bisa menjadi pengalaman tersendiri.

Bagi pasangan yang ingin lebih dekat dengan suasana alam, kawasan ini menyediakan pilihan tempat singgah. Namun, jangan memaksakan diri berburu kabut ketika hujan deras atau jarak pandang memburuk. Cuaca tetap lebih penting daripada foto berdua.

2. Malioboro, tempat romantis Jogja setelah hujan reda

Jika Kaliurang menawarkan dinginnya alam, Malioboro menyuguhkan romantisme kota. Rena menyebut kawasan ini sebagai salah satu tempat yang menarik ketika hujan telah reda.

ADVERTISEMENT

“Kalau Malioboro itu beda lagi. Apalagi kalau hujannya sudah reda, jalanan masih basah, lampu-lampunya kelihatan. Menurutku malah romantis. Nggak harus ngapa-ngapain juga, jalan berdua aja sudah menyenangkan,” ujar Rena. 

Dalam liputan detikJogja pada Maret 2026, kawasan Malioboro tetap ramai dikunjungi wisatawan setelah hujan siang hari mulai reda. Seorang pengunjung yang diwawancarai media tersebut juga menyebut suasana gerimis dan mendung sebagai alasan memilih berkunjung ke Malioboro.

Bagi pasangan, Malioboro tidak menuntut banyak rencana. Berjalan berdampingan, berhenti untuk membeli makanan hangat, atau duduk sebentar sambil melihat lalu-lalang orang sudah cukup untuk menikmati suasana.

Barangkali inilah keistimewaan tempat romantis Jogja yang satu ini: romantisme tidak harus dicari di tempat sepi. Di tengah keramaian, dua orang tetap bisa menemukan ruang untuk berbincang.

3. Perbukitan Menoreh, tempat romantis dengan hamparan sawah

Dian memilih kawasan perbukitan Menoreh di Kulon Progo. Menurut penuturannya, kedai kopi yang menghadap persawahan menjadi tempat yang mendukung suasana romantis, terutama ketika hujan hanya turun ringan.

“Kalau aku lebih suka daerah Menoreh. Banyak kedai kopi yang pemandangannya langsung sawah. Kalau hujannya ringan, terus udaranya dingin, rasanya cocok buat ngobrol lama sama pasangan. Nggak perlu tempat yang mewah juga,” tutur Dian. 

Republika pernah melaporkan popularitas Geblek Pari di Nanggulan, Kulon Progo, yang menawarkan konsep kuliner tradisional dengan pemandangan persawahan berlatar perbukitan Menoreh. Laporan itu juga menyebut sejumlah kedai kopi di kawasan tersebut sebagai bagian dari berkembangnya wisata kuliner lokal.

Pilihan lain adalah Kopi Menoreh Pak Rohmat di Samigaluh. Badan Otorita Borobudur, lembaga di bawah Kementerian Pariwisata, pernah mengulas kedai tersebut sebagai tujuan wisata kopi di kawasan Menoreh.

Untuk menikmati hujan bersama pasangan, pilih tempat duduk yang terlindung. Hujan ringan mungkin membuat suasana semakin syahdu, tetapi hujan lebat dan jalan menanjak tentu bukan kombinasi yang perlu dipaksakan.

4. Ledok Sambi, menikmati suasana hijau di utara Jogja

Masih di kawasan Sleman, Ledok Sambi bisa menjadi alternatif bagi pasangan yang ingin menjauh sebentar dari keramaian kota. Berada di Jalan Kaliurang KM 19, Pakembinangun, Pakem, tempat ini menawarkan suasana alam dengan area terbuka di sekitar aliran sungai.

detikJogja melaporkan bahwa kawasan Ledok Sambi berada di sekitar lereng Merapi dan memiliki udara yang cenderung sejuk. Tempat tersebut juga menyediakan fasilitas wisata pendukung bagi pengunjung. . Dibandingkan duduk di kedai kopi, menikmati suasana alam di sini bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Pasangan dapat berbincang sambil mendengar suara air dan melihat pepohonan yang basah setelah hujan.

Namun, ada catatan penting: area sungai dan tanah yang basah berpotensi licin. Tempat ini lebih cocok dikunjungi ketika cuaca memungkinkan, bukan ketika hujan deras atau debit air meningkat. Romantis tidak berarti harus mengambil risiko.

5. Taman Sari, romantisme Jogja di antara bangunan bersejarah

Tidak semua orang menyukai udara dingin pegunungan. Bagi pasangan yang lebih senang berjalan sambil menikmati arsitektur, Taman Sari di kawasan Keraton Yogyakarta dapat menjadi pilihan ketika cuaca cerah atau hujan telah reda.

Dinas Pariwisata DIY menjelaskan bahwa Taman Sari merupakan bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Arsitekturnya memperlihatkan perpaduan unsur Jawa dan Portugis.

Dinding tua, lorong, dan kolamnya menawarkan suasana yang berbeda dari destinasi wisata modern. Setelah hujan reda, pasangan dapat menikmati bangunan bersejarah tersebut sambil berbincang tentang hal-hal sederhana.

Tentu, Taman Sari bukan tempat untuk sengaja berjalan di tengah hujan deras. Pengunjung perlu memperhatikan jam kunjungan, kondisi lantai, dan aturan pengelola. Daya tariknya justru terletak pada kesempatan menikmati sejarah tanpa harus terburu-buru.

6. Bukit Bintang, melihat kerlip kota Jogja dari ketinggian

Bagi pasangan yang menyukai suasana malam, Bukit Bintang di Patuk, Gunungkidul, menawarkan pemandangan lampu Kota Jogja dari ketinggian.

Kompas.com pernah mengulas Bukit Bintang sebagai salah satu tujuan wisata malam di Yogyakarta. Pengunjung dapat menikmati panorama kota sembari menyantap makanan di sejumlah tempat kuliner di sekitar kawasan tersebut.

Bayangkan duduk di tempat makan yang terlindung, menikmati minuman hangat, sambil melihat cahaya kota setelah hujan reda. Bagi pasangan yang tidak terlalu suka berjalan jauh, suasana seperti ini bisa menjadi alternatif untuk menghabiskan malam.

Meski begitu, Bukit Bintang bukan pilihan yang ideal untuk setiap kondisi hujan. Kabut, angin, jalan licin, dan jarak pandang perlu menjadi pertimbangan. Sebaiknya datang ketika cuaca sudah cukup aman, bukan ketika hujan masih mengguyur deras.

7. Puncak Becici, berteduh di antara pepohonan pinus

Pilihan terakhir adalah Puncak Becici di Dlingo, Bantul. Kawasan hutan pinus ini menawarkan suasana alam yang berbeda dari hiruk-pikuk Malioboro maupun kedai kopi di Menoreh.

Dalam liputan wisata malam Yogyakarta, Kompas.com menyebut Puncak Becici sebagai kawasan hutan pinus dengan panorama alam dan fasilitas wisata, termasuk gazebo, musala, toilet, serta area parkir.

Bagi pasangan, daya tariknya terletak pada kesempatan menikmati suasana hijau dan udara terbuka. Setelah hujan reda, pepohonan yang basah dan udara yang lebih sejuk bisa menjadi teman untuk berbincang tanpa harus pergi jauh dari alam.

Namun, kawasan hutan bukan tempat yang tepat untuk bertahan ketika hujan disertai petir atau angin kencang. Pilih waktu yang aman dan manfaatkan fasilitas berteduh yang tersedia.

Hujan tidak harus menjadi alasan untuk pulang

Dari Kaliurang, Malioboro, hingga bukit Becici, setiap tempat menawarkan cara berbeda untuk menikmati hujan di Jogja. Ada yang menyukai kabut dan udara dingin, ada yang mencari pantulan lampu di jalanan kota, dan ada pula yang cukup bahagia duduk di kedai kopi sambil melihat sawah.

Jawaban Gilang, Rena, dan Dian menunjukkan bahwa tempat romantis tidak selalu harus identik dengan destinasi mahal atau dekorasi khusus pasangan. Suasana, kenyamanan, dan orang yang menemani bisa menjadi bagian terpenting dari pengalaman tersebut.

Pada akhirnya, hujan hanya menyediakan latar. Sedangkan ercakapan, perhatian, dan kesediaan meluangkan waktu bersama tetap datang dari orang-orang yang menjalaninya.

Barangkali itulah salah satu cara sederhana menikmati Jogja: tidak buru-buru mengeluh ketika hujan turun, tetapi mencari tempat yang aman untuk berhenti sejenak dan menikmati waktu bersama orang tersayang.

Toh, hujan tidak pernah meminta kita pergi ke tempat istimewa untuk bisa menikmatinya. Kadang-kadang, kita saja yang terlalu sibuk mencari suasana romantis sampai lupa bahwa kebersamaan sederhana juga bisa menghadirkan perasaan yang sama.

Kalau begitu, tujuh tempat romantis Jogja tadi boleh saja masuk daftar tujuan akhir pekan. Namun, ketika hujan kembali turun dan dompet sedang tidak bersahabat, teras rumah barangkali menjadi destinasi yang paling masuk akal. Apalagi kalau orang yang ingin kita temui sudah duduk di sana, menunggu hujan reda bersama kita.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Menyusuri Gang-gang di Malioboro, Menemukan Kuliner Legendaris dan Murah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.