Jalan-jalan di kawasan Malioboro rasanya kurang afdal jika belum mencicipi kulinernya. Saya pun mencoba mengeksplor kuliner di kawasan itu lebih jauh, dengan keluar dari jalan utama, yakni Kampung Ketandan dan Pasar Beringharjo yang merupakan tempat ikonik di Jogja.
Hal ini sejalan dengan program “Malioboro Mulyà: Mlaku, Mampir, Mangerteni” yang dirancang agar wisatawan dapat menikmati pengalaman berwisata secara lebih eksploratif dan mendalam.
Melalui pengalaman eksploratif semacam inilah saya menemukan 3 rekomendasi kuliner khas di kawasan Jalan Malioboro, Jogja, yang patut dicoba tanpa khawatir soal rasa dan harga.
#1 Ayam Penyet Cabe Ijo Mbok Galak
Petualangan saya dimulai pada Kamis (24/9/2026) saat menyusuri Kampung Ketandan Wetan di kawasan Malioboro, Jogja. Awalnya, saya berniat singgah di sebuah angkringan bergaya khas Tionghoa bertuliskan “Fu Lu Shou”.
Sayangnya, Tika, sang penjual angkringan yang sudah buka sejak pagi menyebut, nasi kucing dan gorengannya sudah ludes menjelang siang. Melihat kekecewaan dari raut wajah saya, Tika merekomendasikan lapak penyetan milik adiknya, Iqbal, yang berada persis di samping angkringan.

“Ini cabe ijo-nya mantap pol Mbak, adik saya baru buka di sini. Harganya cuma Rp13 ribu,” ucap Tika.
Karena kelaparan, saya pun akhirnya memesan Penyetan Sambal Ijo Mbok Galak milik Iqbal. Tak sampai 10 menit setelah memesan, Iqbal menghidangkan pesanan saya di meja. Tanpa sadar, mata saya langsung terkesima dengan paha ayam berwarna golden brown dilengkapi mentimun, daun kemangi, kol, irisan tomat, serta sambal hijau.
Usai mencuci tangan di wastafel gentong yang ditunjukkan Iqbal, saya langsung menyantapnya. Ketika daging ayam dan sambal hijaunya berpadu di dalam mulut, rasa gurih, asin, dan pedas dengan sentuhan aroma bawang putih begitu memanjakan lidah.
#2 Soto Pak Muh sejak 1976 di kawasan Malioboro
Puas menyantap Penyetan Cabe Ijo Mbok Galak, saya pun melanjutkan perjalanan sekitar 550 meter menuju Jalan Pabringan. Di sana, saya menemukan warung Soto Pak Muh yang sudah berdiri sejak tahun 1976. Lokasinya persis di bagian belakang Kantor Pegadaian atau lewat pintu masuk bagian timur Pasar Beringharjo, Malioboro.

Yudhistira, salah satu penjaga warung Soto Pak Muh berujar, ia bisa masak kuah dengan 6 panci besar dalam sehari, saking ramainya pembeli. Menurutnya, banyak pengunjung yang menyukai Soto Pak Muh karena rasa kuahnya yang mengandung kaldu rempah-rempah, serta harganya yang masih berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per porsi.
“Kami juga menyediakan daging ayam bagi pelanggan yang memang tidak suka memakan daging sapi, tapi tetap kuahnya pakai kaldu sapi,” ucap Yudhistira sekaligus cucu dari pemilik warung Soto Pak Muh, Kamis (24/9/2026).
Yudhistira menegaskan bahwa resep yang digunakan untuk memasak soto itu merupakan resep keluarga dan tidak sembarang orang dapat meniru. Soto Pak Muh sendiri, kata Yudhistira hanya membuka 2 cabang, yakni di sekitar kawasan Malioboro dan di Kalasan.

“Kalau di dalam Pasar Beringharjo kami buka dari pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB, sementara yang di Jl. Raden ronggo, Kalasan buka dari pukul 07.00 WIB hingga 19.00 WIB,” jelas Yudhistira.
#3 Soto dan Sate Bu Sum di kawasan Malioboro
Beralih dari Soto Pak Muh yang berada di pintu masuk timur Pasar Beringharjo, Malioboro, saya menemukan warung Soto dan Sate Bu Sum di pintu selatan, tepatnya di depan Masjid Muttaqien, Jalan Pabringan.
Sangat mudah menemukan warung sate ini karena kepulan asap yang keluar dari balik jeruji jendela besi ke arah jalanan dapat menjadi penanda utamanya. Kepulan asap itu berasal dari dalam pasar yang sedang memanggang ratusan daging ayam tebal bersamaan dengan bumu kecap khas Jawa dan gula merah.

Bu Sum, pemilik warung tersebut berujar, selama lebih dari 60 tahun berdiri, ia masih mempertahankan cita rasa resep lawasnya, serta memastikan setiap tusuk daging ayamnya dipanggang secara sempurna.
Tak heran, warung Soto dan Sate Bu Sum di kawasan Malioboro ini selalu ramai pembeli. Menariknya, selain sate ayam, warung ini juga menawarkan sate kere.
Meski ramai, saya beruntung tak perlu mengantre lama untuk membelinya. Seorang bapak yang sedari tadi sibuk mengipasi sate kere di panggangan pun mempersilakan saya memilih.

“Pilih Nduk, satu porsi dapat 5,” ucapnya.
“Boleh campur nggak, Pak, 2 sate kere dan 3 sate ayam?” tanya saya.
“Monggo diambil saja,” jawabnya.
Setelah mengantongi 5 tusuk sate campur tanpa nasi atau lontong, saya pun membayar uang sebesar Rp20 ribu. Sementara itu, untuk sate yang dihidangkan dengan nasi atau lontong, harganya dipatok Rp25 ribu.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan