Produk Indomaret kadang menjadi hidden gems. Di tanggal-tanggal tua Bulan Ramadan, private label minimarket ini bisa menjadi penyelamat kantong dan perut.
***
Bulan Ramadan, bagi sebagian orang, selalu membawa suasana yang spesial dan penuh kehangatan. Namun, ada satu momen di mana suasana damai ini berubah menjadi tantangan, yakni ketika Ramadan bertepatan dengan datangnya tanggal tua.
Bagi kebanyakan dari kita, akhir bulan berarti saldo rekening yang mulai menipis dan pengeluaran yang harus dihemat sebisa mungkin. Di sisi lain, kebutuhan tubuh untuk tetap bertenaga selama berpuasa tentu tidak bisa ditawar.
Kalau kata Dokter Tirta, “Kita butuh asupan nutrisi yang cukup saat sahur dan makanan penyegar dahaga saat berbuka.”
Dalam situasi serba terjepit seperti ini, insting bertahan hidup anak kos seperti saya biasanya langsung mengarah ke satu tempat, yaitu minimarket terdekat di ujung jalan. Lebih spesifik lagi, pandangan saya akan menyapu rak-rak yang memajang private label Indomaret.
Awalnya mungkin karena terpaksa oleh keadaan dompet yang pas-pasan, tetapi lama-kelamaan, saya menyadari satu hal penting. Berbagai produk Indomaret ini adalah pahlawan yang sebenarnya di tanggal tua, karena harganya sangat ramah di kantong tapi kualitasnya bisa diandalkan.
Produk Indomaret yang bikin budaya sarapan kita mirip bule
Mari kita mulai dari urusan perut di waktu sahur. Bangun dini hari sering kali menjadi godaan terberat, apalagi setelah seharian bekerja. Tidak jarang beberapa orang baru terjaga beberapa menit sebelum waktu imsak tiba.
Dalam kondisi tersebut, memasak nasi beserta lauk-pauknya adalah hal yang nyaris mustahil dilakukan.
Solusi andalan saya, yang dulu saat masih kuliah sering saya jadikan life-hack, sangat sederhana tapi mengenyangkan: roti tawar, meses, selai kacang, dan abon sapi. Semuanya tentu saja merupakan produk Indomaret.
Dulu, kawan satu kos saya pernah berkelakar. Menyantap roti tawar dengan olesan selai atau taburan meses bikin kita merasa sedang menikmati makanan ala orang “bule”–tapi dalam versi yang jauh lebih ekonomis dan praktis.
Jika sedang ingin rasa yang gurih dan bernuansa lokal, roti tawar itu tinggal saya taburi abon sapi dari private label ini. Tekstur rotinya cukup empuk, tidak seret saat ditelan, dan abon sapinya punya rasa daging yang gurih pekat.
Awalnya saya pikir ini hanya selera aneh saya sendiri karena kepepet waktu dan biaya di akhir bulan.
Namun, rasa penasaran membawa saya melakukan observasi kecil-kecilan di media sosial seperti Twitter dan Threads. Ternyata, selera saya ini sangat valid dan diamini oleh banyak orang.
Banyak netizen, terutama anak kos dan pekerja kantoran, yang secara terbuka sepakat bahwa kombinasi roti tawar dan aneka topping dari produk Indomaret ini adalah penyelamat sejati. Selain murah, menu ini terbukti ampuh mengganjal perut hingga azan magrib tanpa harus repot menyalakan kompor.
Air minum yang lebih worth it dibanding isi ulang
Setelah urusan makanan sahur aman, hal krusial berikutnya adalah air putih. Saat berpuasa, aturan minum dua liter air dari waktu berbuka hingga sahur tetap harus terpenuhi agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Sayangnya, membeli air mineral kemasan merek ternama terus-menerus bisa membuat anggaran belanja bulanan jebol. Isu ini sering banget relate dengan anak kos.
Untuk urusan hidrasi ini, pilihan mutlak saya, sampai saat ini, jatuh pada air galon yang juga bagian dari produk Indomaret. Kualitas airnya jernih, segar, dan tidak berbau, sama seperti merek-merek besar lainnya.
Namun, yang paling penting tentu saja harganya yang jauh lebih murah untuk ukuran kantong di tanggal tua.
Pilihan ini rupanya tidak cuma saya yang merasakan manfaatnya. Saya sempat berbincang dengan seorang kawan kos bernama Arsa, yang kebetulan sampai saat ini juga mengandalkan private label Indomaret untuk urusan minum sehari-hari. Arsa mengamini bahwa air galon ini sangat membantunya mengatur pengeluaran bulanan agar tidak kebobolan.
“Beda harganya lumayan banget kalau dibandingin sama merek yang itu,” kata Arsa saat saya tanya alasannya. “Kalau galon di kosan habis malam-malam atau pas mau sahur, tinggal jalan kaki ke depan buat tukar galon kosong.”
Kurma, jagoan saat bulan puasa
Kini kita masuk ke waktu yang paling ditunggu-tunggu setiap harinya: berbuka puasa. Tradisi berbuka selalu identik dengan makanan atau minuman yang manis–meski belakangan saya memahami ini budaya yang keliru. Namun, sampai saat ini, dua produk Indomaret yang selalu wajib ada di meja kamar saya adalah sirup dan kurma kemasannya.
Saya harus membuat pengakuan kecil soal kurma ini. Sebenarnya, saya memang sangat doyan makan kurma. Bahkan di luar bulan puasa, kalau saya sedang mampir dan kebetulan melihat ada stok kurma di raknya, saya pasti akan membelinya sebagai camilan harian. Kemasannya kecil dan praktis, rasanya manis alami, dan daging buahnya lumayan lembut.
Tapi ada fenomena yang cukup menarik. Banyak netizen di media sosial setuju bahwa kurma dari private label ini punya semacam daya tarik magis tersendiri saat bulan puasa.
Di berbagai obrolan di Threads dan X, mereka mengaku bahwa rasa kurma ini entah kenapa terasa jauh lebih nikmat ketika dipakai untuk membatalkan puasa. Mungkin karena porsinya yang pas dan harganya yang tidak membuat kita merasa bersalah saat membelinya.
Sebagai pelengkap kurma, segelas es sirup cocopandan atau melon yang juga merupakan produk Indomaret adalah penutup yang sempurna. Satu botol sirup ini harganya sangat terjangkau dan bisa dipakai untuk membuat puluhan gelas minuman segar. Sensasi manis dan aromanya tidak kalah saing dengan merek-merek sirup legendaris yang biasa muncul di televisi.
Menjalani bulan Ramadan di tengah impitan tanggal tua memang butuh strategi jitu. Melalui barang-barang private label Indomaret ini, saya belajar bahwa berhemat tidak selalu berarti kita harus menahan lapar atau menurunkan kualitas hidup secara drastis.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
