35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

Setelah mengabdikan diri untuk bekerja lebih dari tiga dekade, pensiunan pekerja Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih untuk membudidayakan selada hidroponik. Tak main-main, untungnya lebihi UMR Jogja.

Pengalaman mengabdi di UGM sejak 1989

Kisah ini datang dari Arta Wahana. Ia merupakan pensiunan tenaga kependidikan perguruan tinggi negeri (PTN) yang berlokasi di Jogja, tepatnya UGM.

Sebelumnya, Arta menghabiskan waktu sehari-hari untuk bekerja di lingkungan kampus UGM. Tak jarang, ia juga harus lembur hingga malam, padahal sudah memulai jam kerjanya pada pagi hari.

Sewaktu bekerja sebagai staf Perpustakaan Pascasarjana, misalnya, hampir 3 kali seminggu ia terbiasa lembur hingga pukul 7 malam. Lalu, saat dipindah di Humas universitas, ia selalu berangkat pagi, pulang petang.

Pengalaman ini hanya segelintir perjuangan dari lebih dari tiga dekade masa kerjanya. Ia telah mengawali kariernya di UGM sejak tahun 1989.

Arta ditugaskan di Humas UGM pada tahun 2011, setelah sebelumnya bertanggung jawab sebagai staf di Perpustakaan Pascasarjana hingga tahun 2010. 

“Saya bertugas sejak tahun 1989, lalu pensiun pada awal 2024. Sebelumnya, saya bertugas di Perpustakaan Pascasarjana. Di sana, saya mendata peminjaman, membantu mencarikan buku, dan menomori buku,” kata dia, dikutip dari laman UGM, Minggu (3/5/2026).

“Lalu ketika perpustakaan digabung, saya dimutasi ke Humas UGM untuk membantu menyiapkan press conference, mengambil video, dan lain-lain,” katanya menambahkan.

Memilih budidaya selada setelah bekerja tiga dekade

Selepas tugasnya berakhir di UGM Jogja pada dua tahun lalu, Arta memilih untuk tidak melanjutkan dengan mencari pekerjaan serupa. Arta juga tidak menghabiskan waktunya hanya untuk beristirahat, tanpa mencoba produktif.

Justru, Arta merasa waktu luangnya ini menjadi kesempatan untuk menambah produktivitas. Misal, melalui bercocok tanam selada.

Arta sedang berada di kebun selada yang berlokasi di Jogja (dok. UGM)
Arta sedang berada di kebun selada yang berlokasi di Jogja (dok. UGM)

Menurut dia,  budidaya ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan cara untuk terus bergerak menjaga kebugaran pada usianya yang tidak lagi muda.

Ditambah, kebun seluas 650 meter persegi yang dimilikinya ini menjadi pergantian “medan” yang harus dikuasainya. Dengan pengalaman bekerja tanpa henti sebelumnya, Arta merasa dapat mengalihkan produktivitasnya di kebun.

Selain itu, ia juga dapat lebih leluasa daripada saat bekerja kantoran. Tidak ada lembur di kebun, kata dia, meskipun harus berangkat lebih awal. 

“Ternyata, ketika di kebun sekarang ini, sebelum subuh pun saya harus sudah berangkat, karena ditunggu orang mengambil selada. Tapi di sini jam kerja lebih pendek, pukul 10 sudah selesai. Bahkan kalau panen, pukul 9 sudah selesai,” ujarnya.

Jadi peluang bisnis usai pensiun dari UGM, kantongi omzet harian Rp750 ribu

Saat ini, Arta memiliki dua kebun yang berlokasi di Pakem dan Plosokuning, Jogja. Kedua kebunnya ini menggunakan sistem hidroponik

Berkat ilmu dan relasi yang dimiliki oleh kedua anaknya sebagai lulusan Jurusan Pertanian, Arta mengaku lebih mudah untuk melakukan pekerjaan ini. Ia dapat membantu sang anak yang tengah menekuni penanaman selada, serta melibatkan lebih banyak anggota keluarga dalam budidaya ini.

Hasilnya, pekerjaan baru usai lama mendedikasikan diri di UGM ini berpeluang menjadi bisnis untuk keluarga. 

Budidaya selada hidroponik Arta setelah pensiun dari UGM (dok. UGM)

Dengan masa tanam rata-rata 40 hari, Arta dapat memanen 20 hingga 30 kilogram per hari. Melalui sistem rotasi tanam delapan meja produksi pula, ia mengatakan dapat memanen tiap mejanya hingga 5 hari sekali.

“Sekarang rata-rata bisa panen 20-30 kg setiap hari. Terdapat 8 meja dengan tiap meja panennya bisa sampai 5 hari sekali,” kata dia.

Arta mengatakan, harga selada hidroponik saat ini terbilang tinggi. Per kilogram, selada hidroponik dapat dihargai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Dengan volume penjualan mencapai 20-30 kilogram per hari, ia mampu mengantongi omzet harian rata-rata sekitar Rp400 ribu hingga Rp750 ribu.

Meskipun, Arta mengaku kondisi pasar sering berubah-ubah.

“Harga sangat bergantung pada stok selada tanah. Kalau musim panas, selada dari kopeng panen raya sehingga harganya bisa murah, hanya 6000 rupiah. berpengaruh pada harga selada hidroponik. Bersyukur, ya, konsumsi selada hidroponik masih tinggi. Banyak juga suka yang hidroponik,” ujarnya.

Selain itu, Arta membagikan alasan lain yang melatarbelakangi pilihannya terjun ke dunia perkebunan ini. Ia mengaku telah familiar dengan pekerjaan ini, sebab pernah ikut panen di sawah sewaktu kecil.

Alasan lainnya, pada usianya yang saat ini telah menua, Arta bilang lebih nyaman melihat tanaman hijau tumbuh di sekitarnya. Ia dapat olahraga, serta olah batin pada saat bersamaan.

“Sewaktu kecil, saya juga pernah di sawah sehingga tahu sedikit mengenai menumbuhkan tanaman. Lebih daripada itu, rasanya lebih ayem, pagi-pagi melihat yang segar berupa tanaman hijau-hijau. Olahraga dan olah batin juga, karena di kebun bisa berkeringat sekaligus banyak berdoa meminta kesuburan,” ujarnya

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version