ADVERTISEMENT

Nikmatnya Punya Kos Mahasiswa Gen Z: Minim Drama Meski Harus Menjadi Orang Tua Kedua

Nikmat Punya Kos Mahasiswa Gen Z: Minim Drama Murahan! MOJOK.CO

Punya kos-kosan memang bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Menariknya, bagi sebagian pemilik kos, menghadapi mahasiswa Gen Z justru terasa lebih menyenangkan daripada mengurus penghuni yang sudah bekerja. Mereka bukan cuma penyewa kamar, melainkan anak-anak muda yang kadang membutuhkan sosok orang tua kedua selama jauh dari rumah.

***

ADVERTISEMENT

Di kawasan Gamping, Sleman, bisnis kos-kosan tumbuh beriringan dengan kebutuhan tempat tinggal mahasiswa. Kedekatan dengan kampus, termasuk Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), membuat kawasan ini menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa yang ingin tinggal tak jauh dari tempat kuliah. Di antara kamar-kamar yang disewakan, ada cerita tentang hubungan pemilik kos dan penghuni yang ternyata tak melulu soal uang.

Bagi Tema (35), pemilik kos mahasiswa di Gamping, Sleman, mengurus anak kos Gen Z yang masih kuliah justru punya kenikmatan tersendiri. Alih-alih dibuat pusing oleh tingkah penghuni muda, Tema malah merasa lebih nyaman menerima mahasiswa daripada pekerja. Bahkan, ia tak keberatan menjadi tempat curhat anak-anak kosnya, mulai dari urusan putus cinta hingga persoalan keluarga. Begitulah keseharian Tema yang mengelola kos mahasiswa berisi gen z.

Delapan kamar kos terisi gen z, mahasiswa jadi penghuni favorit

“Alhamdulillah, isi semua ini, delapan kamar. Yang anak kuliahan enam orang, sisanya kerja,” ujar Tema kepada saya, Sabtu (17/10/2026).

Bagi Tema, membuka kos mahasiswa punya kelebihan yang membuatnya betah menjalankan usaha tersebut. Mereka bisa mengajak teman kuliah untuk ikut tinggal di tempat yang sama. Ketika satu penghuni merasa cocok, bukan tidak mungkin ia merekomendasikan kos tersebut kepada kawannya.

“Kalau anak Gen Z yang kuliah itu malah bisa menarik mahasiswa lain untuk kos di sini. Kalau sudah kerja, biasanya jarang mau ada yang satu kos sama teman kantornya,” jelasnya.

Tema juga punya pengalaman bahwa mahasiswa cenderung lebih tertib membayar uang sewa. Menurutnya, kiriman uang dari orang tua membuat sebagian penghuni bisa langsung menyisihkan biaya kos sebelum menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Tentu, pengalaman itu tidak otomatis berlaku bagi semua kos mahasiswa. Namun, bagi Tema, kebiasaan tersebut membuat urusan pembayaran terasa lebih mudah dikelola.

Kos mahasiswa cowok lebih menyenangkan daripada kos cewek?

Ada satu hal lain yang membuat Tema lebih nyaman mengelola kos mahasiswa putra: cara penghuni menghadapi persoalan sehari-hari. Ia mengaku pernah menjalankan kos mahasiswa putri sebelum akhirnya memilih menerima penghuni laki-laki. Pengalaman itu membentuk preferensinya sendiri tentang bagaimana penghuni merawat tempat tinggal bersama.

“Kalau saya malah senang kos ini jadi kos cowok, Mas. Karena cewek itu malah ribet,” katanya.

ADVERTISEMENT

Tema kemudian menceritakan pengalaman soal keranjang sampah yang tumpah. Menurut pengamatannya, penghuni laki-laki di kosnya cenderung langsung membereskan sampah tersebut. Sementara itu, saat mengelola kos putri, ia pernah mendapati penghuni yang justru mengeluhkan persoalan serupa melalui grup percakapan tanpa langsung membereskannya.

Bagi Tema, perbedaan respons semacam itu bisa menentukan seberapa banyak urusan kecil yang harus ia tangani sebagai pemilik kos mahasiswa. Namun, perkara sampah tentu bukan soal jenis kelamin semata. Kebiasaan menjaga kebersihan bergantung pada masing-masing orang. Pengalaman Tema lebih tepat dibaca sebagai alasan personal di balik pilihannya mengelola kos putra, bukan vonis bahwa semua perempuan lebih merepotkan daripada laki-laki.

Anak kos mahasiswa gen z ternyata suka curhat ke ibu kosnya

Menjadi pemilik kos mahasiswa ternyata membuat Tema punya peran lain di luar urusan pembayaran dan kebersihan. Ia juga menjadi tempat bercerita bagi penghuni yang sedang menghadapi masalah pribadi.

“Saya itu malah jadi orang tua kedua mereka. Soalnya mereka curhat apa pun sama saya,” ujar Tema.

Ia lantas menceritakan dua penghuni yang pernah berbagi persoalan pribadi dengannya. Penghuni kamar nomor empat bercerita tentang hubungan asmara yang belum lama berjalan, tetapi sudah berakhir. Sementara itu, penghuni kamar nomor enam mengungkapkan persoalan keluarga.

Tema tidak harus selalu menyelesaikan masalah mereka. Terkadang, penghuni hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan cerita tanpa buru-buru menghakimi. Hubungan seperti ini membuat kehidupan kos tidak sekadar berlangsung antara orang yang membayar sewa dan orang yang menerima uang. Ada interaksi sehari-hari yang tumbuh karena mereka tinggal di lingkungan yang sama.

Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, pemilik kos yang bersedia mendengarkan bisa menjadi tempat mencari dukungan. Meski begitu, Tema tidak lantas menggantikan peran orang tua mereka. Ia hanya hadir sebagai orang dewasa yang bisa mereka temui ketika membutuhkan teman bicara.

Curhat dari putus cinta sampai telat bayar kos

Menariknya, cerita anak kos mahasiswa tidak selalu berhenti pada persoalan asmara atau keluarga. Urusan pembayaran pun terkadang menjadi bahan curhat. Tema mengaku penghuni kosnya juga terbuka ketika menghadapi keterlambatan membayar uang sewa. Bagi pemilik kos mahasiswa, informasi semacam ini penting karena ia bisa mengetahui situasi penghuni tanpa harus terus-menerus mengejar pembayaran.

Keterbukaan tersebut setidaknya membuat komunikasi berjalan lebih baik. Penghuni bisa menjelaskan kendalanya, sedangkan pemilik kos mengetahui persoalan yang sedang mereka hadapi. Namun, menjadi orang tua kedua bukan berarti Tema harus membiarkan semua persoalan berlalu begitu saja. Ia tetap menjalankan usaha yang membutuhkan pemasukan rutin untuk menutup biaya operasional dan menjaga kos tetap berjalan.

Di sinilah tantangannya: memahami kondisi penghuni tanpa melupakan tanggung jawab mereka sebagai penyewa. Hubungan yang akrab tetap membutuhkan batas yang jelas agar urusan pribadi tidak terus bercampur dengan kewajiban membayar sewa.

Bisnis kos-kosan bukan cuma soal uang sewa

Kawasan sekitar kampus UTY dan Ringroad Utara menjadi salah satu pilihan tempat tinggal bagi mahasiswa yang membutuhkan akses ke kampus. Di sisi barat Sleman, pilihan kos juga beragam. Sebagai gambaran, sebuah iklan kos putra di Gamping yang diperbarui pada September 2024 menawarkan kamar seharga Rp650 ribu hingga Rp800 ribu per bulan, bergantung pada fasilitas kamar. Harga itu merupakan contoh satu properti, bukan patokan seluruh kos di kawasan tersebut.

Bagi pemilik kos, mahasiswa menawarkan peluang pemasaran dari mulut ke mulut. Satu penghuni yang merasa cocok bisa mengajak teman kuliahnya, sehingga pemilik tidak harus selalu mencari penyewa baru melalui iklan.

Tema merasakan manfaat serupa. Enam dari delapan kamar kosnya kini ditempati mahasiswa. Di luar pemasukan, ia juga memperoleh hubungan yang membuat pekerjaannya terasa lebih hidup.

Ketika saya berbincang dengannya, Tema tertawa saat menceritakan berbagai curhatan penghuni. Dari hubungan asmara yang kandas sampai keterlambatan membayar sewa, ia sudah cukup akrab dengan beragam persoalan anak kos. Barangkali itulah sisi yang jarang terlihat ketika orang membicarakan bisnis kos-kosan. Ada kamar yang harus menghasilkan uang, tetapi ada pula hubungan antarmanusia yang tumbuh di dalamnya.

Bagi Tema, menjadi pemilik kos yang nyaman bukan berarti hidup tanpa persoalan. Ia hanya menemukan bahwa mengelola mahasiswa Gen Z memberinya pengalaman yang lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan. Delapan kamar boleh menjadi sumber penghasilan, tetapi kedekatan dengan penghuninya membuat kos tersebut terasa lebih dari sekadar tempat singgah.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.